Filsafat yang Bisa Membuat Kita Tertawa: Membaca Ludwig Wittgenstein melalui Sebuah Lelucon

Bisakah sebuah lelucon menjadi karya filsafat yang serius? Ludwig Wittgenstein, salah satu filsuf paling berpengaruh pada abad ke-20, pernah melontarkan gagasan bahwa sebuah karya filsafat yang baik dan serius bisa saja seluruhnya terdiri dari lelucon. Pernyataan ini membuka jalan untuk memahami pemikirannya tentang bahasa, makna, dan cara manusia terjebak dalam kekacauan pikirannya sendiri.

Oleh Hasan Aspahani

“A serious and good philosophical work could be written consisting entirely of jokes.” Sebuah karya filsafat yang serius dan baik, kata Ludwig Wittgenstein, bisa saja ditulis seluruhnya dalam bentuk lelucon. Kalimat itu terdengar seperti lelucon yang sedang menyamar sebagai filsafat. Atau sebaliknya: sebuah pernyataan filsafat yang sedang menyamar sebagai lelucon.

Potret Ludwig Wittgenstein, 1929, karya Moritz Nähr
Ludwig Wittgenstein, 1928–1929. Fotografer: Moritz Nähr. Sumber foto: Wikimedia Commons.

Kita terbiasa membayangkan filsafat sebagai pekerjaan yang berat. Ada istilah-istilah rumit, kalimat panjang, argumen berlapis, dan buku-buku tebal yang sering kali lebih mengintimidasi daripada mencerahkan. Seolah-olah semakin sulit sebuah pemikiran dipahami, semakin dalam pula pemikiran itu.

Wittgenstein menawarkan kemungkinan yang berbeda. Bagaimana jika sebuah lelucon justru bisa mengerjakan sesuatu yang biasanya kita harapkan dari filsafat? Bagaimana jika tawa, pada saat tertentu, merupakan tanda bahwa kita baru saja melihat sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatian?

Pertanyaan itu membawa kita kepada salah satu filsuf paling tidak biasa pada abad ke-20.

Seorang filsuf yang ingin membereskan pikiran

Ludwig Wittgenstein lahir di Wina pada 1889, dalam sebuah keluarga kaya yang dekat dengan kehidupan intelektual dan seni Eropa. Ia sempat menekuni teknik sebelum perhatiannya beralih kepada persoalan logika dan dasar-dasar matematika. Perjalanan intelektualnya kemudian membawanya ke Cambridge, tempat ia belajar kepada Bertrand Russell.

Namun, Wittgenstein bukan filsuf yang nyaman tinggal di dalam satu sistem pemikiran. Ia justru dikenal karena perubahan besar dalam pemikirannya sendiri.

Buku pertamanya, Tractatus Logico-Philosophicus, terbit pada 1921. Buku ini berusaha menjelaskan hubungan antara bahasa, pikiran, dan dunia. Dengan susunan proposisi yang ringkas dan padat, Wittgenstein menyelidiki bagaimana sebuah kalimat dapat menggambarkan kenyataan, serta di mana batas-batas pengungkapan melalui bahasa.

Di bagian akhir buku itu terdapat salah satu gagasannya yang paling terkenal: “Batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku.”

Kalimat tersebut bukan sekadar ajakan untuk memperkaya kosakata. Ia menyentuh persoalan yang lebih mendasar: dunia yang dapat kita pikirkan dan bicarakan selalu berhubungan dengan kemungkinan-kemungkinan yang disediakan bahasa kita.

Tetapi Wittgenstein kemudian mengubah arah penyelidikannya. Ia tidak lagi puas memandang bahasa terutama sebagai gambaran logis tentang dunia. Dalam karya-karyanya yang belakangan, terutama Philosophical Investigations, ia memberi perhatian besar kepada bagaimana bahasa benar-benar digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa, dalam pandangan ini, bukan mesin yang hanya bertugas memberi nama kepada benda-benda. Kita menggunakan bahasa untuk memerintah, bertanya, berjanji, bercanda, menghibur, berdebat, dan melakukan begitu banyak hal lain. Makna sebuah kata tidak selalu dapat ditemukan dengan mencari benda yang diwakilinya. Kita perlu melihat bagaimana kata itu bekerja dalam praktik kehidupan.

Perubahan pemikiran ini penting untuk memahami mengapa sebuah lelucon bisa menjadi pintu masuk yang begitu tepat kepada filsafat Wittgenstein.

Mengapa sebuah lelucon bisa menjadi serius?

Bayangkan seseorang berkata, “Saya tahu persis apa yang ada di dalam pikiran saya.”

Kita mungkin tidak akan mempermasalahkannya. Kalimat itu terdengar wajar. Tetapi Wittgenstein akan mengajak kita memperhatikan kata tahu, ada, dan pikiran. Apa sebenarnya yang kita maksud ketika mengatakan bahwa kita mengetahui sesuatu yang ada di dalam pikiran kita? Apakah pikiran itu semacam ruangan kecil di dalam kepala, lengkap dengan seorang penghuni yang mengamati segala isinya?

Persoalan filsafat kadang muncul bukan karena kita kekurangan informasi tentang dunia, melainkan karena kita terjebak dalam gambaran tertentu tentang dunia. Kita memperlakukan pikiran seolah-olah benda, makna seolah-olah barang yang disimpan di dalam kata, atau pemahaman seolah-olah sebuah objek yang bisa dipindahkan dari satu kepala ke kepala lain.

Sebuah lelucon dapat memperlihatkan betapa ganjilnya gambaran semacam itu.

Dalam Philosophical Investigations, Wittgenstein mengajukan pertanyaan yang sangat menarik: mengapa kita menganggap sebuah lelucon gramatikal sebagai sesuatu yang mendalam? Ia menghubungkan kedalaman lelucon semacam itu dengan kedalaman filsafat.

Yang dimaksud bukan bahwa setiap lelucon mengandung teori besar. Bukan pula bahwa filsafat cukup mengganti argumen dengan kumpulan cerita lucu. Ada lelucon yang hanya lucu, ada yang sekadar mengejek, dan ada yang membuat kita tertawa karena sebuah kebiasaan berpikir tiba-tiba terlihat dalam cahaya yang berbeda.

Lelucon jenis terakhir itulah yang menarik.

Ia bekerja dengan mempertemukan dua cara memahami sesuatu. Mula-mula kita mengikuti satu arah, lalu sebuah kata, situasi, atau kesimpulan menggeser pijakan kita. Kita menyadari bahwa sesuatu yang tadinya tampak masuk akal ternyata berdiri di atas asumsi yang rapuh.

Tawa muncul ketika kita melihat pergeseran itu. Dan kadang-kadang, setelah tawa reda, persoalannya justru baru dimulai.

Kita sering tertipu oleh bahasa sendiri

Salah satu sumbangan penting Wittgenstein adalah mengingatkan kita bahwa bahasa dapat menyesatkan bukan hanya ketika seseorang berbohong, melainkan juga ketika kita salah memahami cara kerja bahasa itu sendiri.

Ambil contoh pertanyaan sederhana: “Di mana letak pikiran?”

Pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan tentang lokasi sebuah benda. Kita terbiasa bertanya di mana letak buku, di mana letak kunci, atau di mana seseorang menyimpan dompet. Lalu, tanpa sadar, kita membawa pola pertanyaan yang sama ke wilayah yang berbeda.

Tetapi apakah pikiran memiliki lokasi dengan cara yang sama seperti buku atau kunci?

Kita tentu bisa membicarakan otak, proses saraf, atau aktivitas mental. Namun, ketika bertanya tentang “letak pikiran”, kita perlu memastikan bahwa kita tidak sedang terperangkap dalam tata bahasa pertanyaan kita sendiri.

Di sinilah filsafat Wittgenstein berbeda dari upaya membangun teori besar tentang segala sesuatu. Ia sering kali bekerja seperti seseorang yang membongkar simpul. Bukan dengan menambahkan penjelasan yang semakin rumit, melainkan dengan menunjukkan bahwa persoalan yang kita hadapi mungkin terbentuk dari cara kita merumuskan pertanyaan.

Lelucon memiliki kemampuan serupa. Ia bisa mengambil sebuah kalimat yang tampak normal, menggeser sedikit konteksnya, lalu memperlihatkan keanehan yang selama ini tersembunyi di dalamnya.

Kita tertawa bukan semata-mata karena mendengar sesuatu yang lucu. Kita tertawa karena mendadak melihat sesuatu yang selama ini kita lewatkan.

Kesalahpahaman yang melahirkan filsafat

Bagi Wittgenstein, banyak persoalan filosofis berawal ketika bahasa meninggalkan fungsi sehari-harinya dan mulai memperdaya kita. Kita mengira sedang menemukan misteri besar, padahal mungkin kita sedang terjebak dalam sebuah kekacauan konseptual.

Ini tidak berarti semua persoalan filsafat dapat diselesaikan dengan permainan kata. Wittgenstein tidak sedang mengatakan bahwa kenyataan tidak penting atau bahwa segala sesuatu hanyalah bahasa. Yang ia persoalkan adalah kecenderungan kita untuk mengubah kebingungan bahasa menjadi teka-teki tentang hakikat segala sesuatu.

Kadang-kadang kita bertanya, “Apa itu makna?” seolah-olah makna adalah satu jenis benda yang harus ditemukan di balik semua kata. Padahal, makna kata “janji”, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari praktik berjanji, dari harapan orang lain, dari kewajiban yang muncul, dan dari keadaan ketika sebuah janji dianggap ditepati atau dilanggar.

Kata yang sama dapat menjalankan fungsi berbeda dalam permainan bahasa yang berbeda. Karena itu, memahami bahasa menuntut lebih dari sekadar mencari definisi. Kita harus melihat bagaimana kata-kata hidup di antara manusia.

Lelucon pun hidup dalam konteks. Sebuah kalimat bisa terdengar biasa dalam satu situasi, tetapi menjadi lucu dalam situasi lain. Kita harus memahami aturan yang sedang dimainkan, termasuk aturan yang tidak pernah diucapkan secara eksplisit.

Seorang yang tidak memahami konteks sebuah lelucon mungkin hanya mendengar rangkaian kata. Ia belum menangkap permainannya.

Bukankah hal serupa juga terjadi ketika kita berdebat? Kita memakai kata yang sama, tetapi memberikan fungsi dan pengertian yang berbeda. Kita merasa sedang membicarakan satu persoalan, padahal masing-masing sedang memainkan permainan bahasa yang berlainan.

Perdebatan pun berlangsung tanpa ujung karena kita tidak menyadari bahwa kita bahkan belum sepakat tentang apa yang sedang dibicarakan.

Keseriusan yang tidak perlu berwajah muram

Ada sesuatu yang menarik dalam cara kita memperlakukan keseriusan. Kita sering menghubungkannya dengan wajah tegang, bahasa formal, dan suasana yang tidak boleh diganggu oleh tawa.

Padahal, keseriusan sebuah pemikiran tidak ditentukan oleh ekspresi orang yang menyampaikannya.

Seseorang bisa mengucapkan hal yang sangat penting sambil tertawa. Sebaliknya, seseorang bisa berbicara dengan nada yang khidmat tentang sesuatu yang sebenarnya kosong. Nada bicara tidak menjamin kedalaman pikiran.

Pernyataan Wittgenstein tentang lelucon menantang kebiasaan kita mengukur bobot pemikiran melalui penampilannya. Ia membuka kemungkinan bahwa humor bukan lawan dari keseriusan, melainkan salah satu cara untuk mencapai keseriusan itu.

Tentu, humor juga bisa menjadi alat untuk menghindari persoalan. Kita bisa menertawakan sesuatu agar tidak perlu menghadapinya. Kita bisa menjadikan lelucon sebagai senjata untuk mempermalukan orang lain, atau sebagai selimut yang menutupi kekosongan argumen.

Namun, humor yang baik tidak selalu menghindarkan kita dari kebenaran. Kadang-kadang ia justru membuat kita tidak bisa lagi menghindarinya.

Sebuah lelucon yang tepat dapat meruntuhkan kesombongan intelektual lebih cepat daripada sepuluh halaman sanggahan. Ia membuat kita melihat bahwa sesuatu yang kita pertahankan mati-matian mungkin tidak sekuat yang kita bayangkan.

Dan ketika kita tertawa, kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri.

Filsafat tidak selalu harus memberi jawaban

Wittgenstein pernah membayangkan filsafat sebagai kegiatan yang membebaskan kita dari kebingungan. Dalam Philosophical Investigations, ia menulis bahwa tujuan filsafat adalah memperlihatkan kepada lalat jalan keluar dari botol penangkap lalat.

Gambaran itu sederhana sekaligus kuat. Bayangkan seekor lalat terperangkap di dalam botol. Ia terus terbang menabrak dinding kaca, mengulang gerakan yang sama, seolah-olah jalan keluar berada tepat di depan matanya. Yang dibutuhkan bukanlah teori tentang penerbangan lalat, melainkan jalan keluar yang bisa dilihatnya.

Begitu pula dengan sebagian persoalan filsafat. Kita terus berputar dalam pertanyaan yang sama, menyusun jawaban yang semakin rumit, tanpa menyadari bahwa kita mungkin sedang mencari jalan keluar di tempat yang salah.

Lelucon kadang-kadang bekerja seperti tangan yang menunjuk ke arah lubang botol. Ia tidak menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan. Ia hanya mengubah cara kita melihat persoalan yang sedang dihadapi.

Tetapi perubahan itu bisa sangat berarti.

Sebab, ada kebingungan yang bertahan bukan karena jawabannya terlalu sulit, melainkan karena kita terus mengajukan pertanyaan dengan cara yang keliru.

Tertawa, lalu berpikir

Kita tidak perlu menjadikan setiap lelucon sebagai bahan seminar filsafat. Tidak setiap kelakar menyimpan kebijaksanaan, dan tidak setiap orang yang membuat kita tertawa sedang mengungkapkan kebenaran.

Namun, kita juga tidak perlu buru-buru menganggap sesuatu yang lucu sebagai sesuatu yang remeh.

Di tangan seorang pemikir, humor bisa menjadi alat untuk memeriksa cara kita memahami dunia. Ia dapat menyingkap prasangka, mengganggu kepastian, dan memperlihatkan bagaimana sebuah kata menuntun pikiran ke arah yang tidak kita sadari.

Mungkin itulah yang membuat kalimat Wittgenstein terasa begitu menggoda. Ia tidak sedang meminta kita memilih antara tertawa dan berpikir. Ia justru mengajak kita membayangkan bahwa keduanya dapat berlangsung dalam satu gerakan.

Sebuah lelucon yang baik membuat kita tertawa karena kita menangkap sesuatu. Sebuah pemikiran yang baik, barangkali, juga bisa melakukan hal yang sama: membuat kita melihat sesuatu yang selama ini ada di depan mata, tetapi tidak pernah benar-benar kita perhatikan.

Dan sesudahnya, dunia mungkin tidak berubah. Tetapi cara kita memandangnya sudah berbeda. Barangkali, di situlah filsafat mulai bekerja. Bukan ketika kita berhasil mengucapkan kalimat yang terdengar paling dalam, melainkan ketika kita akhirnya menyadari mengapa sesuatu yang selama ini kita anggap masuk akal ternyata begitu ganjil.

Lalu kita tertawa. Bukan karena persoalannya tidak serius, melainkan karena untuk pertama kalinya kita melihatnya dengan jernih. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *