Lee Iacocca mengajukan pertanyaan sederhana tetapi mengganggu: ke mana perginya para pemimpin? Dalam bukunya, ia mencemaskan Amerika yang memiliki banyak orang pintar dan pejabat, tetapi semakin sulit menemukan pemimpin yang berani mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan memiliki visi. Pertanyaan itu melampaui Amerika—dan masih relevan untuk kita renungkan hari ini.
Oleh Hasan Aspahani
Ada sebuah kecemasan yang terasa begitu tua, tetapi anehnya selalu baru: ke mana perginya para pemimpin? Lee Iacocca mengajukan pertanyaan itu dalam bukunya Where Have All the Leaders Gone? yang terbit pada 2007. Ia bukan orang yang tiba-tiba menjadi pengamat politik dari luar gelanggang. Ia pernah memimpin perusahaan besar, berhadapan dengan krisis, mengambil keputusan yang berisiko, dan mengalami langsung bagaimana sebuah organisasi bisa berada di ambang kehancuran lalu diselamatkan oleh kepemimpinan.
Karena itu, pertanyaan Iacocca terasa lebih seperti kegelisahan seorang praktisi. Amerika, menurut pengamatannya, tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan pejabat. Tidak kekurangan orang yang memiliki gelar, pengalaman, atau kemampuan berbicara. Tetapi semua itu belum tentu menghasilkan pemimpin.
Di sinilah persoalannya. Kita sering menyamakan pemimpin dengan orang yang berada di posisi paling atas. Presiden adalah pemimpin. Menteri adalah pemimpin. Gubernur, wali kota, direktur, rektor—semuanya disebut pemimpin karena mereka mempunyai jabatan.
Padahal jabatan dan kepemimpinan adalah dua hal berbeda. Jabatan memberikan kewenangan. Kepemimpinan memberikan arah.
Seseorang bisa mempunyai kewenangan yang besar tetapi tidak mampu memberikan arah. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki jabatan formal kadang justru mampu menggerakkan banyak orang karena gagasannya, keberaniannya, atau integritasnya.
Iacocca resah melihat kecenderungan politik yang menghasilkan orang-orang yang lebih sibuk mempertahankan posisi daripada menyelesaikan persoalan. Dalam situasi semacam itu, keputusan menjadi lambat, tanggung jawab mudah dilemparkan, dan kepentingan jangka pendek mengalahkan kepentingan yang lebih panjang.
Krisis kepemimpinan, dengan demikian, bukan semata-mata krisis mengenai siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Ia adalah krisis mengenai bagaimana keputusan dibuat dan untuk siapa keputusan itu dibuat. Iacocca kemudian menawarkan sejumlah kualitas yang menurutnya penting bagi seorang pemimpin. Ia merangkumnya dalam akronim L-I-A-D-E-R-S: Leadership, Integrity, Accountability, Decisiveness, Empowerment, Relevance, dan Strategic thinking.
Menariknya, hampir semuanya bukan soal kecerdasan. Seorang pemimpin tentu perlu cerdas. Tetapi kecerdasan saja tidak cukup. Pemimpin harus mempunyai integritas. Harus bersedia bertanggung jawab atas keputusan. Harus mampu mengambil keputusan ketika informasi tidak pernah lengkap. Harus mampu membuat orang lain tumbuh, bukan membuat semua orang bergantung kepadanya. Harus memahami kenyataan yang sedang dihadapi masyarakat. Dan, yang paling penting, harus mampu melihat persoalan melampaui kepentingan hari ini.
Di sini buku Iacocca menjadi lebih menarik daripada sekadar kritik terhadap politik Amerika. Sebab pertanyaan tentang pemimpin pada akhirnya adalah pertanyaan tentang masyarakat yang melahirkannya. Pemimpin tidak muncul dari ruang hampa.
Ia dibentuk oleh keluarga, sekolah, organisasi, dunia kerja, kebudayaan, media, partai politik, lembaga negara, bahkan oleh cara sebuah masyarakat memberikan penghargaan dan hukuman.
Jika sebuah sistem lebih menghargai kepatuhan daripada keberanian berpikir, kita mungkin akan mendapatkan banyak orang yang pandai mengikuti perintah tetapi sedikit orang yang berani mengambil tanggung jawab.
Jika sebuah sistem lebih menghargai popularitas daripada kemampuan menyelesaikan masalah, kita mungkin akan mendapatkan banyak orang yang pandai memenangkan perhatian tetapi belum tentu mampu mengelola kenyataan.
Dan jika kesalahan selalu dihukum sementara keberanian mengambil keputusan tidak pernah dihargai, orang akan belajar satu hal: lebih aman tidak memutuskan apa-apa.
Di situlah pertanyaan Iacocca menjadi universal. Ia bukan lagi sekadar pertanyaan Amerika pada 2007. Ia bisa menjadi pertanyaan bagi hampir setiap masyarakat: Apakah kita benar-benar kekurangan pemimpin, atau kita telah menciptakan sistem yang membuat kepemimpinan menjadi semakin sulit?
Pertanyaan itu penting karena demokrasi tidak hanya membutuhkan pemilih. Demokrasi membutuhkan orang-orang yang bersedia mengambil tanggung jawab publik. Dan negara tidak hanya membutuhkan administrator yang mampu menjalankan prosedur. Negara membutuhkan manusia yang mampu mengatakan: ini masalahnya, ini keputusan yang harus diambil, dan saya bersedia bertanggung jawab atas akibatnya.
Mungkin karena itulah buku lama Iacocca masih layak dibaca. Bukan untuk mencari siapa pemimpin yang hebat. Melainkan untuk mengingat kembali apa yang seharusnya kita tuntut dari seorang pemimpin. Sebab sebelum bertanya, “Siapa pemimpin kita?”, mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar: “Kepemimpinan macam apa yang sebenarnya kita perlukan?”[]
