Tetap Saja, Terus Saja

Tidak semua kebaikan mendapat balasan yang baik. Tidak semua pilihan berakhir seperti yang kita harapkan. Lalu, apa yang kita lakukan ketika dunia tidak memberi respons yang kita inginkan? Mungkin jawabannya sederhana: tetap saja. Tetap melakukan yang kita yakini baik, bukan karena dunia menjanjikan penghargaan, melainkan karena kita ingin tetap menjadi diri kita sendiri.

Oleh Hasan Aspahani

Ada kalanya kita melakukan sesuatu yang menurut kita baik, tetapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Kita membantu seseorang, tetapi bantuan itu tidak dihargai. Kita berbuat baik, tetapi malah disalahpahami. Kita berusaha jujur, tetapi kejujuran itu membuat kita berada dalam posisi yang tidak menyenangkan. Kita menjaga perasaan orang lain, tetapi perasaan kita sendiri justru tidak dijaga.

Pada saat seperti itu, kita sering bertanya dalam hati: untuk apa? Pertanyaan itu sangat manusiawi. Kita ingin percaya bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan. Bahwa kejujuran akan dihargai. Bahwa niat baik akan dikenali sebagai niat baik.

Tetapi pengalaman hidup mengajarkan sesuatu yang sedikit berbeda. Dunia tidak selalu bekerja seperti itu. Saya pernah melakukan sesuatu dengan niat yang baik, lalu mendapatkan respons yang membuat saya kecewa. Bukan sesuatu yang besar. Justru hal-hal kecil dalam hubungan sehari-hari yang kadang lebih lama tinggal di dalam pikiran.

Saya kemudian menyadari bahwa ada dua hal yang sebenarnya berbeda: melakukan sesuatu karena kita percaya itu baik, dan melakukan sesuatu karena kita mengharapkan orang lain memberikan respons yang baik.

Kalau yang kedua menjadi alasan utama, kita akan mudah lelah. Sebab respons orang lain bukan berada dalam kendali kita.

Kita bisa memberikan sesuatu dengan tulus. Orang lain bisa menerimanya dengan biasa saja. Kita bisa membantu dengan sungguh-sungguh. Orang lain bisa lupa mengucapkan terima kasih. Kita bisa berkata jujur. Orang lain bisa saja tidak menyukainya.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Saya menemukan sebuah jawaban yang sederhana, bahkan mungkin terdengar keras kepala: terus lakukan saja. Saya teringat The Paradoxical Commandments karya Kent M. Keith. Ia menulis sepuluh kalimat pendek tentang bagaimana menjalani hidup ketika dunia tidak selalu memberikan respons yang kita harapkan. Salah satu gagasan besarnya adalah: lakukan yang baik meskipun orang lain mungkin tidak menghargainya. Tetaplah berbuat baik.

Bukan karena kita yakin dunia akan membalasnya. Justru karena kita sudah memilih untuk menjadi orang seperti itu. Ada sesuatu yang menarik dari kata anyway yang berulang dalam tulisan Keith. Kata itu bisa diterjemahkan sederhana sebagai “tetap saja”.

Orang mungkin tidak mengerti. Terus lakukan saja. Orang mungkin tidak berterima kasih. Terus lakukan saja. Kita mungkin mengalami kegagalan. Terus lakukan saja. Kita mungkin tidak mendapatkan apa yang kita harapkan. Terus lakukan saja.

Bagi saya, ini bukan ajakan untuk menjadi orang yang naif. Bukan pula berarti kita harus terus melakukan sesuatu yang jelas-jelas merugikan diri sendiri. Kita tetap perlu belajar dari pengalaman. Kita boleh kecewa. Kita boleh mengatakan tidak. Kita boleh mengubah cara kita.

Tetapi jangan sampai perilaku buruk orang lain menentukan siapa diri kita. Kalau seseorang bersikap kasar kepada kita, kita tidak harus menjadi kasar agar keadaan menjadi seimbang. Kalau seseorang tidak jujur, kita tidak harus ikut menjadi tidak jujur.

Kalau kebaikan kita tidak dihargai, kita tidak harus menyimpulkan bahwa kebaikan itu tidak ada gunanya. Mungkin di situlah letak hubungan antara memilih terus dan tetap melanjutkan. Pada tulisan sebelumnya saya bercerita tentang memilih. Saya pernah membawa sekitar empat puluh gambar komik KETUPAT ke sebuah kantor koran ketika masih SMA. Saya tidak tahu apakah gambar-gambar itu akan diterima. Saya hanya tahu satu hal: kalau saya tidak membawanya ke sana, gambar-gambar itu pasti tidak akan dimuat.

Saya memilih. Tetapi setelah kita memilih, ternyata hidup masih menyediakan ujian berikutnya. Pilihan kita tidak selalu berhasil. Pilihan kita tidak selalu dipahami. Pilihan kita tidak selalu mendapatkan tepuk tangan. Maka setelah memilih, kita membutuhkan kemampuan lain: tetap menjalani pilihan itu ketika hasilnya tidak segera sesuai dengan harapan. Barangkali ini yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang keberanian.

Kita suka membayangkan keberanian sebagai keberanian untuk memulai. Padahal ada keberanian lain yang lebih sunyi: keberanian untuk tetap menjadi diri kita setelah dunia tidak memberikan respons yang kita inginkan. Seorang penulis menulis karena ia percaya ada sesuatu yang perlu ditulis. Bukunya mungkin tidak laku. Tetap saja, ia menulis lagi. Seorang guru mengajar dengan sungguh-sungguh. Tidak semua murid mengingatnya. Tetap saja, ia mengajar.

Seseorang memilih untuk menjadi orang yang jujur. Kejujuran itu mungkin pernah membuatnya kehilangan sesuatu. Tetap saja ia terus menajdi jujur. Bukan karena ia tidak belajar dari pengalaman. Ia belajar. Tetapi pengalaman tidak berhasil mengubah nilai yang ia percaya.

Saya kira, semakin bertambah umur, kita semakin mengerti bahwa banyak hal dalam hidup memang tidak bisa kita kendalikan. Kita tidak bisa mengatur apa yang dipikirkan orang tentang kita. Kita tidak bisa mengatur apakah orang akan berterima kasih. Kita tidak bisa mengatur apakah usaha kita berhasil. Kita bahkan tidak selalu bisa mengatur apa yang terjadi pada diri kita.

Tetapi masih ada satu ruang kecil yang biasanya tersisa: bagaimana kita memilih bersikap terhadap semua itu. Ruang itu mungkin tidak besar. Tetapi ia milik kita. Dan mungkin kebahagiaan juga punya hubungan dengan ruang kecil itu. Bahagia bukan berarti semua orang memperlakukan kita dengan baik. Bukan berarti semua pilihan kita berhasil. Bukan berarti hidup akhirnya berjalan sesuai rencana.

Mungkin bahagia adalah ketika kita masih bisa mengenali diri kita sendiri di tengah semua yang terjadi. Kita tahu apa yang kita anggap baik. Kita tahu apa yang ingin kita lakukan. Kita tahu apa yang harus kita tinggalkan. Dan ketika dunia tidak memberikan jawaban seperti yang kita harapkan, kita tidak kehilangan diri kita sendiri.

Kita hanya berkata: saya tak akan berhenti Saya akan tetap mencoba. Saya akan tetap menulis. Saya akan tetap membantu kalau memang saya mampu. Saya akan tetap memilih yang saya anggap baik. Bukan karena saya yakin dunia akan membalasnya. Tetapi karena saya ingin pulang kepada diri saya sendiri sebagai orang yang masih bisa saya kenali.

Barangkali, kawan, bahagia bukan selalu ketika hidup berjalan sesuai keinginan kita. Kadang-kadang bahagia adalah ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan kita, tetapi kita masih bisa berkata: “Saya tetap memilih menjadi orang yang saya inginkan.” ]

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *