Oleh Hasan Aspahani
SEBUAH karya besar, sebuah masterpiece, besar dengan paradoks dan ironinya sendiri. Contohnya The Persistence of Memory (1931) karya Salvador Dalí. Lukisan ini kecil sekali. Ukurannya hanya 24,1 × 33 sentimeter. Tidak lebih besar daripada sebuah baki kecil. Tetapi dari bidang sesempit itu Dalí menciptakan sebuah dunia yang terasa jauh lebih luas daripada ukuran fisiknya. MoMA mencatatnya sebagai lukisan minyak di atas kanvas dan kini menempatkannya di Galeri 517.
Di sana ada lanskap yang sepi, tebing keemasan di kejauhan, sebuah pohon yang tumbuh dari bidang geometris, makhluk aneh yang tergeletak di tengah, dan beberapa jam yang tidak lagi mematuhi hukum benda. Jam biasanya keras. Ia dibuat untuk mengukur sesuatu yang abstrak: waktu. Tetapi di tangan Dalí, jam menjadi lunak. Ia melorot dari tepi bidang, terkulai di atas tubuh, seolah-olah bukan lagi benda yang mengukur waktu melainkan benda yang ditaklukkan oleh waktu.
MoMA menggunakan ungkapan yang sangat menarik untuk menggambarkan dunia lukisan itu: benda-benda keras menjadi “inexplicably limp” dalam lanskap mimpi yang muram dan tak berujung. Museum itu juga mengutip Dalí yang menyebut tekniknya sebagai upaya untuk “systematize confusion” — mensistematisasikan kekacauan — dengan presisi yang luar biasa.
Di situlah kita bisa mulai membaca lukisan ini bukan sebagai gambar tentang waktu, melainkan sebagai teks visual tentang waktu. Perbedaannya penting. Kalau kita bertanya, “Apa arti jam?”, kita mungkin menjawab: waktu. Tetapi itu baru seperti membuka kamus. Kita belum membaca lukisannya. Pembacaan baru terjadi ketika kita melihat hubungan antara jam, permukaan meja, tubuh, semut, pohon, lanskap, bayangan, dan ruang kosong. Makna tidak tinggal di dalam satu benda. Makna muncul dari hubungan antar-benda.
Jam + lunak.
Jam + terkulai.

Jam + kesunyian.
Jam + semut.
Jam + tubuh yang seperti tidur.
Dari hubungan itu muncul sebuah kalimat yang tidak pernah ditulis Dalí: waktu yang selama ini kita anggap kokoh ternyata dapat meleleh. Inilah alasan kita bisa menyebut lukisan ini sebuah medan teks visual.
Dalam bahasa, kita mempunyai kata benda, kata kerja, sifat, sintaksis, tanda baca. Dalam lukisan, unsur-unsur itu tidak hadir dalam bentuk yang sama, tetapi fungsinya dapat ditemukan. Sebuah objek bisa menjadi “kata”; posisi bisa menjadi “sintaksis”; jarak bisa menjadi “tanda baca”; pengulangan bisa menciptakan “ritme”. Dan yang menarik dari Dalí adalah ia tidak menghapus benda-benda yang kita kenal. Ia justru mempertahankannya.
Jam tetap jam. Tetapi Dalí mengubah perilaku jam. Jam yang seharusnya keras menjadi lunak. Jam yang seharusnya kokoh dan teratur menjadi terkulai. Jam yang seharusnya mengukur waktu menjadi seolah-olah ditelan oleh waktu.
Dengan kata lain, Dalí tidak menghancurkan kosakata realitas. Ia mengacaukan tata bahasanya.
Dari Camembert Menjadi Waktu
Di sinilah sebuah cerita kecil tentang lahirnya lukisan menjadi penting. Menurut Dominic Witek dalam ulasannya di Artsper, gagasan tentang jam yang meleleh muncul ketika Dalí sedang sendirian di dapur sementara Gala dan teman-temannya pergi ke bioskop. Perhatiannya tertuju pada camembert — sejenis keju lunak — yang sedang meleleh. Ia kemudian membiarkan pikirannya mengembara dan menggunakan apa yang disebutnya sebagai paranoiac-critical method. Dalam proses itu, keju yang lunak berubah menjadi gagasan tentang jam saku yang lunak.
Kisah ini menarik bukan karena kita harus mempercayainya sebagai semacam dongeng asal-usul karya, tetapi karena ia memperlihatkan bagaimana sebuah tanda dapat berpindah medan.
Camembert memiliki sifat lunak. Jam tidak. Tetapi Dalí memindahkan sifat itu. camembert → lunak → jam → waktu → meleleh. Inilah yang membuat lukisan Dalí jauh lebih menarik daripada sekadar kumpulan simbol surealis. Ia tidak sekadar berkata bahwa jam berarti waktu. Ia melakukan sesuatu terhadap konsep waktu dengan meminjam sifat sebuah benda lain.
Jam mendapat predikat keju. Atau, kalau kita menggunakan bahasa yang tadi: Dalí mengambil sebuah kata dari satu kosakata visual dan memasukkannya ke dalam tata bahasa yang lain.
Maka surealisme di sini bukan sekadar menggambar sesuatu yang aneh. Surealisme adalah perusakan hubungan yang kita anggap normal di antara benda-benda. Jam masih jam. Keju masih keju. Tetapi sifat keju dipindahkan kepada jam. Dunia masih tampak realistis, tetapi hubungan antarunsurnya menjadi mustahil.
Dan justru karena Dalí melukis semuanya dengan ketelitian yang nyaris klinis, kemustahilan itu terasa semakin nyata.
Yang Keras Menjadi Lunak
Artsper menangkap persoalan ini dengan frasa yang sangat kuat: dalam lukisan itu, “hard and soft surfaces coexist.” Benda keras dan permukaan lunak hidup berdampingan. Kalimat tersebut sebenarnya bisa menjadi salah satu kunci untuk membaca seluruh lukisan.
Lihat kontrasnya. Lanskap di kejauhan tampak keras dan permanen. Tebing berdiri kokoh. Permukaan meja tegas. Tetapi jam-jam itu lunak. Tubuh di tengah pun tidak jelas apakah ia manusia, benda, atau bentuk yang sedang mengalami transformasi. Ada sesuatu yang sangat keras di dunia ini, dan sesuatu yang sangat lunak. Dan batas antara keduanya tiba-tiba tidak dapat dipercaya. Ini bukan sekadar persoalan bentuk. Ia menyentuh gagasan yang lebih besar: apa yang sebenarnya membuat sesuatu terasa permanen? Waktu? Benda? Ingatan? Tubuh? Atau hanya kebiasaan kita dalam melihat?
MoMA bahkan menyebut jam-jam lunak itu sebagai semacam “camembert of time”, meminjam istilah Dalí sendiri. Dan di sana kita menemukan paradoks yang indah: waktu yang kita bayangkan sebagai sesuatu yang terus berjalan dan karenanya tak tersentuh justru divisualkan sebagai benda paling lunak di dalam lukisan.
Membaca Tanda, Bukan Menghafal Simbol
Tentu saja kita dapat memberikan arti kepada setiap objek. Artsper, misalnya, membaca tiga jam lunak sebagai tiga temporalitas — masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jam emas yang tertutup semut dikaitkan dengan pembusukan dan kematian; pohon zaitun yang kering dengan masa lalu; lanskap dengan ingatan dan masa kanak-kanak Dalí.
Pembacaan semacam itu berguna. Tetapi kita sebaiknya tidak berhenti di sana. Sebab kalau kita mengatakan:
jam = waktu
semut = kematian
pohon = masa lalu
kita sebenarnya baru membuat kamus simbol. Padahal lukisan adalah sesuatu yang lebih kompleks daripada kamus. Yang penting bukan hanya apa arti sebuah benda, tetapi apa yang terjadi ketika benda itu bertemu benda lain. Semut tidak hanya berarti kematian. Semut mengubah cara kita memandang jam. Jam tidak hanya berarti waktu. Jam yang meleleh mengubah cara kita memahami kekerasan dan kepastian benda.
Lanskap tidak hanya berarti masa lalu. Lanskap yang tampak sangat nyata justru menjadi latar bagi sesuatu yang mustahil. Dengan demikian, kita tidak membaca lukisan ini seperti membaca daftar simbol. Kita membacanya seperti membaca kalimat.
Dan kalimat visualnya tidak berbunyi: “Ini adalah lukisan tentang waktu.” Ia lebih dekat kepada: “Waktu yang kita kira keras ternyata lunak; waktu yang kita kira teratur ternyata dapat melorot; waktu yang berlalu meninggalkan sesuatu yang tidak ikut berlalu.” Artsper merumuskan bagian terakhir itu dengan sangat baik: “time passes but leaves behind memories; the memory persists.”
Mungkin inilah sebabnya Dalí tidak memberi judul lukisan ini The Melting Clocks. Ia memilih The Persistence of Memory. Yang bertahan bukan waktu. Yang bertahan adalah ingatan tentang waktu.
Sebuah Teks yang Tidak Menggunakan Kata
Maka The Persistence of Memory dapat kita lihat sebagai sebuah teks yang tidak menggunakan bahasa verbal. Ia mempunyai kosakata: jam, meja, pohon, semut, tubuh, laut, tebing. Ia mempunyai sintaksis: jam diletakkan di tempat yang tidak semestinya; benda keras diperlakukan sebagai benda lunak; benda mati memperoleh sifat organik. Ia mempunyai tanda baca: ruang kosong yang luas, kesunyian, bayangan, jarak. Ia mempunyai ritme: pengulangan bentuk jam yang melorot dari satu permukaan ke permukaan lain.
Dan ia mempunyai semacam metafora visual yang sangat kuat: waktu dibuat menjadi benda yang bisa meleleh. Di sinilah lukisan kecil itu menjadi besar. Bukan karena ukurannya. Bukan karena jumlah objeknya.
Melainkan karena medan maknanya. Dalí hanya membutuhkan 24,1 × 33 sentimeter untuk mengganggu salah satu keyakinan paling dasar manusia: bahwa waktu memiliki bentuk yang tetap dan berjalan dengan cara yang kita pahami. Dan mungkin justru karena itu lukisan ini kemudian menjadi sangat penting. Sebab karya seni yang penting tidak selalu memberi kita informasi baru. Kadang ia melakukan sesuatu yang lebih mengganggu: ia membuat kita tidak lagi dapat melihat sesuatu yang lama dengan cara yang sama.
The Persistence of Memory membuat kita memandang jam — benda yang setiap hari kita lihat — dengan sedikit kecurigaan. Seolah-olah setelah melihat Dalí, kita tahu satu hal: barangkali yang kita sebut waktu hanyalah cara pikiran kita menyusun perubahan. Dan kalau demikian, yang sebenarnya bertahan bukan waktu. Yang bertahan adalah teks yang ditulis ingatan di dalam diri kita.
Namun ada satu cerita lain yang tidak kalah menarik. Lukisan ini tidak hanya menjadi penting karena apa yang terjadi di dalam kanvas. Beberapa tahun setelah dibuat, ia masuk ke salah satu museum paling berpengaruh di dunia. MoMA mencatat nomor objeknya 162.1934 dan kredit perolehannya sebagai “Given anonymously.” Dengan kata lain, setelah Dalí menciptakan sebuah medan teks tentang ingatan, sebuah institusi kemudian mengambil karya itu dan memasukkannya ke dalam ingatan kebudayaan. Di titik inilah pembacaan kita harus bergerak keluar dari kanvas. Sebab pertanyaan berikutnya bukan lagi:
Apa yang dikatakan The Persistence of Memory? Melainkan: Bagaimana sebuah lukisan menjadi karya yang layak diingat? Dan di situlah museum mulai memainkan perannya.[]
