Batam sudah mempunyai hampir semua bahan dasar yang biasanya dianggap penting bagi pertumbuhan ekonomi: industri, pelabuhan, perdagangan, kawasan ekonomi, tenaga kerja, politeknik dan universitas, infrastruktur dan kedekatan dengan salah satu pusat ekonomi paling penting di Asia Tenggara.
Oleh Hasan Aspahani
Ada sebuah angka yang dulu cukup sering beredar dalam pembicaraan tentang kewirausahaan: 2 persen. David McClelland kerap dikaitkan dengan gagasan bahwa sebuah negara membutuhkan sedikitnya sekitar dua persen penduduknya menjadi entrepreneur agar dapat mencapai tingkat kemajuan ekonomi tertentu.
Angka itu kemudian berulang kali dikutip dalam diskusi kebijakan di Indonesia. Pada 2011, misalnya, ANTARA mengutip pandangan bahwa negara dengan ekonomi maju membutuhkan sedikitnya dua persen entrepreneur. Saat itu rasio entrepreneur Indonesia disebut baru sekitar 0,24 persen. Dalam perbandingan yang sama, Singapura disebut mencapai 7,2 persen, Malaysia 2,1 persen, Thailand 4,1 persen, Korea Selatan 4 persen, dan Amerika Serikat 11,5 persen.
Setahun kemudian, angka dua persen bahkan digunakan sebagai semacam batas bawah dalam pembicaraan pemerintah Indonesia mengenai pengembangan kewirausahaan. Rasio entrepreneur Indonesia saat itu disebut sekitar 1,56 persen dan pemerintah mendorongnya melewati angka dua persen.
Angka itu menarik. Tetapi sekarang kita tahu bahwa persoalannya tidak sesederhana menghitung berapa orang yang mempunyai usaha. Sebab, tidak semua pengusaha adalah entrepreneur dalam pengertian ekonomi yang sama.
Seseorang membuka warung karena tidak memperoleh pekerjaan adalah pelaku ekonomi yang penting. Tetapi seorang pengusaha yang menciptakan produk baru, membangun perusahaan, memperkenalkan teknologi, memasuki pasar baru, mempekerjakan orang lain dan kemudian mengembangkan usahanya menjadi perusahaan yang lebih besar mempunyai dampak ekonomi yang berbeda.
Maka pertanyaan tentang kewirausahaan sebenarnya tidak berhenti pada: Berapa banyak orang yang menjadi pengusaha? Pertanyaan yang lebih penting adalah: Berapa banyak pengusaha yang mampu menciptakan nilai baru dan membuat usahanya tumbuh? Di sinilah pembicaraan tentang entrepreneur menjadi menarik ketika kita turunkan dari negara ke kota.
Kota Juga Membutuhkan Entrepreneur
Sebuah negara bukanlah sesuatu yang abstrak bagi orang yang hidup di dalamnya. Ekonomi berlangsung di tempat-tempat tertentu. Di kota. Di kawasan industri. Di pasar. Di toko. Di kantor. Di pelabuhan. Di rumah yang dijadikan tempat usaha. Di bengkel, restoran, studio, gudang, perusahaan rintisan dan ribuan tempat lain tempat orang membuat keputusan ekonomi setiap hari.
Karena itu kita bisa mengajukan pertanyaan yang lebih dekat: Mengapa sebuah kota membutuhkan entrepreneur? Pertanyaan ini relevan bagi Batam. Batam bukan kota kecil. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk Batam pada 2025 mencapai sekitar 1,297 juta jiwa, naik dari 1,277 juta pada 2024. Perekonomiannya juga besar. PDRB Batam atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp253,64 triliun, sedangkan ekonomi riilnya, berdasarkan harga konstan, mencapai Rp144,67 triliun. Ekonomi Batam tumbuh 6,76 persen pada 2025.
Angka-angka itu menunjukkan sebuah kota dengan aktivitas ekonomi yang besar dan terus berkembang. Tetapi justru karena itulah pertanyaan tentang entrepreneur menjadi penting. Siapa yang menciptakan pertumbuhan itu?
Berapa bagian dari ekonomi Batam yang berasal dari perusahaan-perusahaan yang lahir dan tumbuh di Batam sendiri? Berapa banyak perusahaan lokal yang berhasil melewati tahap usaha mikro, menjadi usaha kecil, kemudian perusahaan menengah dan akhirnya perusahaan besar? Berapa banyak perusahaan yang menciptakan produk baru, memasuki pasar baru dan membawa nama Batam keluar dari Batam?
Kita belum mempunyai semua jawaban itu. Tetapi justru di situlah pekerjaan kita dimulai. Batam sudah punya banyak usaha. Tetapi apakah punya cukup banyak perusahaan yang tumbuh? Data pemerintah kota memberi petunjuk menarik.
Per 24 Agustus 2026, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam mencatat 5.105 pelaku usaha dalam data UMKM yang telah mereka data. Dari jumlah tersebut, 2.749 merupakan pelaku usaha yang telah dibina oleh dinas tersebut. Angka 5.105 ini tentu tidak boleh langsung dianggap sebagai jumlah seluruh entrepreneur Batam. Itu adalah data pelaku usaha yang telah didata oleh satu perangkat daerah. Tetapi ia tetap memberi kita gambaran tentang besarnya basis usaha yang sedang disentuh pemerintah.
Dan di sinilah muncul pertanyaan yang lebih menarik. Jika Batam memiliki ribuan pelaku usaha, berapa banyak yang berhasil naik kelas? Pemerintah Kota Batam sendiri menggunakan istilah itu: naik kelas. Pada 2025, pemerintah bahkan menempatkan penguatan UMKM sebagai salah satu agenda penting dan mendorong akses pembiayaan, termasuk program subsidi bunga dan bantuan modal.
Namun “naik kelas” seharusnya tidak hanya berarti mendapatkan pinjaman lebih besar. Naik kelas mestinya berarti produktivitas meningkat, pasar bertambah luas, manajemen membaik, tenaga kerja bertambah, teknologi digunakan, produk berkembang dan perusahaan mempunyai kemampuan untuk bertahan serta tumbuh tanpa terus-menerus bergantung pada bantuan. Di sinilah perbedaan antara membantu usaha dan membangun ekosistem entrepreneurship.
Jangan Hanya Menghitung Jumlah Pengusaha
Perkembangan pemikiran ekonomi mengenai entrepreneurship juga sudah bergerak ke arah itu. World Bank menempatkan entrepreneurship sebagai salah satu sumber penting penciptaan pekerjaan, inovasi dan produktivitas. Tetapi tantangan di negara berkembang bukan sekadar menciptakan lebih banyak usaha. Banyak usaha berskala sangat kecil lahir sebagai strategi bertahan hidup dan memiliki kemampuan terbatas untuk menciptakan pekerjaan baru.
Dampak ekonomi yang jauh lebih besar justru datang dari sebagian kecil entrepreneur yang mampu membangun perusahaan dengan pertumbuhan tinggi. Dengan kata lain, seribu usaha kecil yang tidak pernah tumbuh tidak selalu memiliki dampak ekonomi yang sama dengan satu perusahaan yang tumbuh cepat dan kemudian mempekerjakan ratusan orang.
Ini juga yang membuat perkembangan kajian entrepreneurship menjadi lebih menarik. GEM, Global Entrepreneurship Monitor, misalnya, tidak hanya melihat kemunculan usaha baru, tetapi juga persoalan keberlangsungan dan transisi dari usaha baru menjadi perusahaan yang mapan. Laporan GEM terbaru mencakup lebih dari 160.000 responden di 53 ekonomi.
Maka kita perlu berhenti memandang entrepreneurship semata-mata sebagai: “orang yang mempunyai usaha.” Entrepreneurship yang penting bagi ekonomi kota adalah kemampuan untuk menciptakan, mengambil risiko, menemukan peluang, membangun organisasi dan membuatnya tumbuh.
Batam Punyai Modal yang Tidak Sedikit
Di sinilah persoalan Batam menjadi semakin menarik. Batam sudah mempunyai hampir semua bahan dasar yang biasanya dianggap penting bagi pertumbuhan ekonomi: industri, pelabuhan, perdagangan, kawasan ekonomi, tenaga kerja, politeknik dan universitas, infrastruktur dan kedekatan dengan salah satu pusat ekonomi paling penting di Asia Tenggara.
PDRB Batam yang mencapai Rp253,64 triliun pada 2025 menunjukkan bahwa aktivitas ekonominya bukan persoalan kecil. Tetapi ekonomi kota yang besar tidak otomatis menghasilkan ekosistem entrepreneur yang kuat. Sebuah kota dapat menjadi tempat beroperasinya banyak perusahaan besar yang berasal dari luar. Ia dapat menjadi tempat produksi, distribusi dan perdagangan. Ia dapat menarik investasi dalam jumlah besar.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah kota itu juga mampu melahirkan perusahaan-perusahaannya sendiri? Inilah ukuran yang sering luput ketika kita berbicara tentang keberhasilan ekonomi sebuah kota. Investasi dari luar penting. Industri penting. Infrastruktur penting. Pemerintah penting. Tetapi entrepreneur lokal juga penting karena mereka menciptakan akar ekonomi.
Mereka mengenal persoalan kota dari dalam. Mereka menemukan kebutuhan yang mungkin tidak terlihat oleh perusahaan besar. Mereka membangun jaringan pemasok. Mereka merekrut tenaga kerja lokal. Mereka menciptakan jasa pendukung industri. Mereka menguji produk. Mereka gagal. Sebagian bangkrut. Sebagian bertahan. Sebagian tumbuh.
Dan dari proses itulah sebuah ekosistem ekonomi kota terbentuk. Maka angka dua persen perlu kita baca ulang. Angka dua persen yang dulu sering kita dengar tetap menarik sebagai pintu masuk. Jika penduduk Batam sekitar 1,297 juta jiwa, dua persen secara matematis kira-kira 25.900 orang.
Tetapi kita jangan tergesa-gesa mengatakan bahwa Batam “membutuhkan 25.900 entrepreneur”. Kita bahkan belum sepakat siapa yang boleh disebut entrepreneur. Justru di sinilah pertanyaan yang lebih baik dimulai. Apakah Batam membutuhkan 25.900 orang yang mempunyai usaha? Atau Batam membutuhkan beberapa ribu entrepreneur yang benar-benar mampu menciptakan perusahaan, pekerjaan, inovasi dan produktivitas?
Mungkin jawabannya tidak harus berupa satu angka. Yang kita butuhkan adalah tangga. Dari orang yang mempunyai ide. Menjadi orang yang memulai usaha. Menjadi usaha yang bertahan. Menjadi perusahaan yang tumbuh. Menjadi perusahaan yang menciptakan pekerjaan. Menjadi perusahaan yang menciptakan inovasi. Dan akhirnya menjadi perusahaan yang mampu berdiri di luar kota, bahkan di luar negeri, sambil tetap membawa sebagian nilai ekonominya kembali ke kota tempat ia dilahirkan. Itulah perjalanan dari pengusaha menjadi entrepreneur.
Menarik Perusahaan atau Melahirkan Perusahaan?
Pertanyaan ini penting bagi Batam karena kota ini sedang memasuki tahap perkembangan ekonomi yang berbeda. Selama beberapa dekade, salah satu kekuatan Batam adalah kemampuannya menarik kegiatan ekonomi dari luar. Tahap berikutnya mungkin bukan sekadar menarik. Melainkan menciptakan. Menciptakan perusahaan. Menciptakan produk. Menciptakan teknologi. Menciptakan merek. Menciptakan pekerjaan.
Dan menciptakan generasi entrepreneur yang tidak hanya ingin membuka usaha untuk dirinya sendiri, tetapi mampu membangun organisasi yang suatu hari mempekerjakan orang lain. Dengan demikian, pertanyaan tentang entrepreneur sebenarnya bukan pertanyaan tentang orang kaya. Ia adalah pertanyaan tentang bagaimana sebuah kota menghasilkan masa depannya sendiri.
Batam tidak kekurangan aktivitas ekonomi. Angka pertumbuhan 6,76 persen pada 2025 menunjukkan ekonomi yang bergerak kuat. Yang perlu kita tanyakan sekarang adalah: Seberapa banyak masa depan itu diciptakan oleh perusahaan yang lahir di Batam sendiri? Dan mungkin, dari sanalah kita perlu memulai pembicaraan tentang kewirausahaan Batam. Bukan dengan bertanya bagaimana menjadi kaya. Tetapi dengan pertanyaan yang lebih besar: Bisakah Batam menjadi kota yang bukan hanya menarik entrepreneur, tetapi melahirkan entrepreneur? []
