Seorang Kurator, Bapak Tua, dan Bahayanya Narkoba


“Hidup kami seperti mandeg. Saya dan istri sudah menua, tapi harus tetap bekerja keras hanya untuk makan. Masih untung kami masih punya rumah. Tapi, anak-anak kami seperti seperti tak berkembang. Bahkan makan pun sering menumpang kami yang sudah tua bangka. Mereka hidup, tapi tidak memberi kehidupan bagi kami, lahir dan batin. Mereka terlihat sehat, tapi kurang menyehatkan jiwa dan raga kami sebagai orang tua yang punya harapan besar akan kehidupan mereka yang lebih baik. Mereka sekilas terlihat baik, tapi kurang bisa membawa nama baik keluarga, lahir dan batin,” tutur si bapak sembari menyeka air mata.

Teh manis coba kuteguk, tapi seperti tercekat di tenggorokan.

Petikan tulisan kurator Kuss Indarto di blognya, memang membuat siapa yang membaca jadi tercekat. Postingan berjudul Narkoba dan Bapak Tua di awal Mei itu dengan caranya sendiri memberi pandangan lain soal betapa merugikannya narkoba, bahayanya, dan kontroversi hukuman mati yang diperdebatkan.  Tulisan bagus yang pantas untuk dibaca oleh sebanyak-banyaknya pembaca.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *