
“Saya komikus yang memulai dengan teknik gambar manual, tapi sangat nyaman bekerja dengan teknik digital,” kata Apriyadi Kusbiantoro dalam workshop komik digital dalam rangkaian kegiatan “Retrospektif Komik Indie – Sepuluh Tahun Akademi Samali”, di Bentara Budaya Kompas, Jakarta, Minggu (10/5) petang.

Tampil amat santai dengan celana pendek dan t-shirt, komikus kelahiran 21 April 1976 itu, berbagi tips bagaimana menggambar komik dengan perangkat digital: tablet grafik, stylus, dan laptop. Ia bekerja dengan Photoshop.
“Saya menggambar di bidang ukuran A4. Kalau masih mengerjakan sket pakai 600 dpi. Supaya garisnya tajam. Kalau mewarnai saya turunkan 300 dpi, karena warna kan ngeblok gitu, jadi gak perlu tajam,” katanya sambil mempraktikkan cara kerjanya. Dari monitor laptop, gambar yang dikerjakan Apri disorotkan ke layar.
Keunggulan teknik digital, kata Apri, adalah kecepatan. Ia memberi contoh sebagai perbandingan, komik “Lemuria” karyanya yang terbit di luar negeri ia kerjakan dua tahun. Komik 68 halaman itu sepenuhnya dia kerjakan secara manual. Terlalu lama, tapi memang dia sangat puas dengan hasilnya.
Bandingkan dengan komik serial Mahabharata yang ia kerjakan untuk penerbit Gatra Pustaka. Kali ini ia menggarapnya dengan teknik digital. Satu tahun komik itu selesai, 48 halaman. Tidak terlalu cepat, karena ia mengerjakan dengan disiplin waktu yang longgar. “Salahnya penerbit tidak memberi deadline,” kata Apri berseloroh.
“Fajar di Hastina”, seri pertama komik itu sehari sebelumnya diluncurkan. ia sedang menggarap buku kedua. “Dengan jumlah halaman yang sama saya yakin bisa selesai tiga bulan,” ujarnya.
Bekerja dengan cara manual memberinya kepuasan sebagai seniman. “Ada kedekatan antara saya dengan karya saya. Bahkan jika ada sedikit kesalahan gambar, itu bisa menjadi keunggulan,” katanya.
Komik Lemuria, kata Apri, adalah anak kandungnya, karena tokoh dan ceritanya dia yang menciptakan. Dari website pribadinya – yang juga memajang beberapa karyanya untuk dijual – kita bisa mengenal Apri lebih banyak. Apri adalah salah seorang pendiri Urakurek Animation Studio yang mengoperasikan studio di Jogja dan mengkhususkan diri dalam animasi untuk serial televisi serta iklan.

Apri lulus dari Institut Seni Indonesia, Jogja. Dia mulai terlibat dalam berbagai proyek seni yang berhubungan sejak tahun 1994 saat ia bergabung dengan sebuah perusahaan desain di kota yang sama. Setahun kemudian, teman-temannya dari perguruan tinggi dan dirinya didirikan Petak Umpet Community (sekarang PT. Petak Umpet) dan menjadi baik ilustrator dan desainer grafis selama tiga tahun.
Pada tahun 1998, minatnya dalam animasi membawanya ke sebuah studio animasi di Jogja disebut Bening. Segera, ia diangkat menjadi animator utama serta editor studio. Beberapa karyanya telah membangkitkan minat yang berbeda biro iklan dan rumah produksi di Jakarta, Indonesia. Kemudian ia terlibat dalam banyak animasi dan cerita asrama proyek untuk sejumlah iklan televisi, video musik, dan film di Jakarta. Kombinasi antara cinta Jogja dan animasi telah membawa dia kembali ke kota dan pada tahun 2003, Urakurek Animation Studio didirikan.

Tinggalkan Balasan