Ranan Lurie (1932-2022): Kartunis dengan Garis yang Tak Pernah Kehabisan Kritik

Seorang kartunis dikenang karena gambar-gambarnya. Seorang maestro dikenang karena setelah melihat karyanya, kita tidak lagi melihat karikatur dengan cara yang sama. Ranan Lurie adalah salah satu dari mereka.

Oleh Hasan Aspahani

Ada kartunis yang membuat kita tertawa karena gambarnya lucu. Ada yang membuat kita berhenti lebih lama pada karyanya karena gagasannya tajam. Dan ada sedikit kartunis yang mampu melakukan keduanya sekaligus, dengan kualitas gambar yang membuat karyanya tetap menarik bahkan ketika berita yang menjadi sumbernya telah lama berlalu. Ranan R. Lurie termasuk yang terakhir itu.

Lurie dan anak perempuannya di apartemennya yang mewah di Times Warner Center. (Sumber: 6sqft)

Lurie (1932–2022) adalah kartunis politik Israel-Amerika yang bekerja untuk berbagai media besar, antara lain Life, Newsweek, Time International, dan U.S. News & World Report. British Cartoon Archive mencatat periode aktifnya yang panjang dan menempatkannya sebagai kartunis dengan gaya caricature dan editorial cartoons.

Tetapi yang membuat saya tertarik pada Lurie bukan pertama-tama daftar media besar tempat ia pernah bekerja. Yang menarik justru tangannya.

Perhatikan garis-garis pada karyanya. Ada ketekunan yang terasa hampir berlebihan. Wajah tidak sekadar diberi kontur. Permukaannya dibangun melalui arsiran yang rapat dan sabar: garis-garis pendek, silang-menyilang, bidang gelap, dan perubahan cahaya yang membuat wajah memiliki volume.

Kita seolah dapat merasakan bahwa gambar itu tidak dibuat dengan tergesa-gesa.

Di zaman ketika gambar dapat dibuat, diperbanyak, dan disebarkan dalam hitungan detik, ketekunan semacam itu terasa semakin asing. Tetapi justru di situlah salah satu kekuatan Lurie: ia memperlihatkan bahwa karikatur politik bukan pekerjaan menggambar yang sederhana.

Ia adalah pekerjaan melihat.

Wajah sebagai Titik Awal

Karikatur pada dasarnya adalah seni menemukan ciri. Seorang karikaturis melihat wajah seseorang dan bertanya: apa yang membuat wajah ini menjadi wajahnya? Apakah hidung, dagu, mata, rambut, bibir, bentuk kepala, atau cara tubuhnya berdiri?

Setelah menemukan ciri itu, karikaturis melakukan sesuatu yang tampaknya bertentangan dengan prinsip potret. Ia mengubah kenyataan. Ia membesar-besarkan, menyederhanakan, atau mendistorsinya agar sesuatu yang lebih dalam justru muncul.

Lurie sangat menarik dalam hal ini. Distorsi pada gambarnya tidak terasa sebagai deformasi sembarangan. Kita masih mengenali orang yang digambarnya. Tetapi setelah mengenalinya, kita dipaksa melihatnya sedikit berbeda.

Di sinilah karikatur berubah menjadi bahasa.

Wajah seorang tokoh politik bukan lagi sekadar wajah. Ia dapat menjadi pendapat tentang tokoh tersebut.

Karikatur mengambil kemiripan sebagai titik berangkat, lalu bergerak menuju interpretasi.

Obama: Dari Kemiripan ke Simbol Kekuasaan

Emperor Obama oleh Ranan R Lurie (Sumber: Wikimedia Commons)

Barack Obama merupakan contoh yang menarik untuk melihat cara Lurie bekerja. Obama memiliki wajah yang sangat mudah dikenali: bentuk kepala, telinga, mata, senyum, dan terutama ekspresi yang sering tampak tenang dan terukur.

Lurie tidak harus membuat wajah itu menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia cukup menekan beberapa ciri visualnya, mengatur proporsi, dan memasukkan wajah tersebut ke dalam situasi simbolik.

Salah satu karya Lurie yang terdokumentasi adalah Emperor Obama, dibuat pada 2014. Judulnya sendiri sudah memperlihatkan bagaimana karikatur bergerak dari wajah menuju gagasan. Obama tidak lagi semata-mata hadir sebagai individu. Ia ditempatkan dalam konstruksi visual tentang kekuasaan.

Di sinilah kekuatan karikatur politik.

Ia dapat mengambil seorang manusia yang nyata dan menjadikannya sebuah tanda.

Obama menjadi Obama, tetapi sekaligus menjadi “kekuasaan”. Tubuh, pakaian, ekspresi, benda-benda yang mengitarinya, dan terutama konteks gambar bekerja bersama untuk menghasilkan pembacaan politik.

Kita tidak hanya bertanya, “Siapa orang ini?”

Kita mulai bertanya, “Apa yang sedang dikatakan gambar ini tentang kekuasaan orang ini?”

Dengan demikian, Lurie menggunakan kemiripan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pintu masuk menuju kritik.

Hillary Clinton: Wajah dan Persona

Hal serupa dapat kita lihat pada karikatur Lurie terhadap Hillary Clinton.

Clinton memiliki ciri visual yang berbeda dari Obama. Karakter wajahnya, rambut, ekspresi, dan cara tampil di ruang publik telah membentuk persona politik yang sangat kuat.

Karikatur kemudian mengambil ciri-ciri yang sudah dikenal itu dan menggesernya.

Hillary Clinton oleh Ranan R Lurie (Sumber: Wikimedia Commons)

Inilah salah satu pekerjaan penting seorang karikaturis: bukan menciptakan identitas dari nol, melainkan membongkar identitas yang sudah dikenal publik.

Rambut, mata, mulut, garis wajah, postur tubuh—semuanya dapat menjadi tanda. Ketika tanda itu diperbesar atau ditempatkan dalam konteks yang tidak biasa, maknanya ikut berubah.

Hillary Clinton dalam karikatur bukan hanya Hillary Clinton sebagai manusia. Ia menjadi Hillary Clinton sebagai figur politik, sebagai kandidat, sebagai pejabat, sebagai simbol kekuasaan, atau sebagai objek kritik.

Dengan demikian, karikatur bekerja seperti bahasa yang sangat padat.

Sebuah gambar dapat menyimpan biografi, reputasi, konflik politik, dan penilaian editorial sekaligus.

Arsiran yang Menghidupkan Kritik

Di sinilah saya kira kekhasan fisik Lurie menjadi sangat penting.

Arsirnya bukan sekadar teknik untuk membuat gambar terlihat indah. Garis-garis itu menciptakan bobot. Wajah menjadi memiliki tekstur dan volume. Bayangan memberikan kesan psikologis. Permukaan gambar menjadi lebih kaya daripada sekadar bidang hitam-putih.

Ada paradoks yang menarik: Lurie menggunakan ketelitian untuk menghasilkan distorsi.

Ia bekerja sangat teliti untuk membuat wajah yang sengaja dibuat tidak sepenuhnya realistis.

Semakin tekun garisnya, semakin terasa bahwa perubahan kecil pada wajah itu disengaja.

Karena itu, karya Lurie berada di antara potret dan karikatur. Ia memiliki disiplin menggambar seorang drafter, tetapi kebebasan interpretasi seorang satiris.

Humor sebagai Jalan Masuk

Karikatur politik membutuhkan humor, tetapi humor bukan selalu tujuan akhirnya.

Lurie memahami bahwa pembaca lebih mudah memasuki sebuah gagasan melalui kelucuan. Kita melihat gambar, mengenali tokohnya, menemukan kejanggalannya, lalu tertawa. Tetapi sesudah tertawa, ada kemungkinan muncul pertanyaan.

Mengapa tokoh ini digambar seperti itu?

Mengapa benda itu diletakkan di sana?

Mengapa wajahnya dibuat demikian?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita dari humor menuju kritik.

Karena itu, karikatur yang berhasil bukan sekadar mengatakan, “Lihat, orang ini lucu.” Ia mengatakan, “Lihatlah sesuatu tentang orang ini, tentang kekuasaan, atau tentang keadaan politik yang mungkin tidak terlihat dalam berita biasa.”

Karikatur menjadi editorial yang dipadatkan menjadi satu gambar.

Mengapa Lurie Perlu Terus Dibaca?

Kartun politik karya Lurie tahun 1970.

Ranan Lurie meninggal pada 8 Juni 2022. Tetapi kematian seorang kartunis tidak berarti berakhirnya karya seorang kartunis.

Justru setelah zamannya berlalu, kita dapat melihat warisannya dengan lebih jernih.

Lurie penting karena ia memperlihatkan bahwa karikatur politik adalah pertemuan antara keterampilan tangan dan ketajaman pikiran.

Ia mengajarkan bahwa menggambar wajah bukan hanya soal kemiripan. Menggambar wajah berarti membaca karakter, membaca persona, dan dalam konteks politik, membaca kekuasaan.

Ia juga mengingatkan bahwa ketekunan visual bukan musuh kritik. Sebaliknya, garis yang dikerjakan dengan sabar dapat menjadi kendaraan bagi kritik yang sangat cepat ditangkap mata.

Sebuah karikatur mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk dibaca. Tetapi di belakang beberapa detik itu terdapat pengalaman panjang seorang seniman dalam mengamati manusia.

Itulah yang membuat Lurie layak ditempatkan sebagai rujukan yang terus hidup dalam sejarah karikatur.

Bukan karena setiap gambarnya masih relevan dengan politik hari ini. Berita berubah. Presiden berganti. Partai berganti. Konflik politik berganti.

Yang bertahan adalah cara melihat.

Lurie menunjukkan kepada kita bahwa wajah manusia adalah teks. Garis adalah kalimat. Distorsi adalah metafora. Humor adalah pintu masuk. Dan karikatur dapat menjadi bentuk kritik yang sangat ringkas terhadap kekuasaan.

Garis-garisnya telah berhenti pada 2022. Tetapi cara melihat yang dibangun oleh garis-garis itu belum selesai.

Seorang kartunis dikenang karena gambar-gambarnya. Seorang maestro dikenang karena setelah melihat karyanya, kita tidak lagi melihat karikatur dengan cara yang sama.

Ranan Lurie adalah salah satu dari mereka. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *