Bagaimana Membuat Komik Strip (3): Rahasianya ada pada Semesta Cerita

Oleh Hasan Aspahani

Kalau sebuah komik strip harus terus hidup dari hari ke hari, pertanyaan paling penting akhirnya bukan lagi bagaimana menemukan lelucon, melainkan di mana lelucon-lelucon itu akan terus dilahirkan. Kita bisa mempunyai satu gag yang bagus. Bahkan sepuluh. Tetapi comic strip yang bertahan lama membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada kumpulan gag: ia membutuhkan sebuah semesta cerita.

Semesta cerita adalah dunia tempat karakter kita hidup dan tempat berbagai kemungkinan cerita dapat terjadi. Ia mencakup rumah, sekolah, kantor, lingkungan, teman, keluarga, benda-benda yang akrab, kebiasaan sehari-hari, bahkan aturan-aturan kecil yang berlaku di antara para tokohnya. Tetapi semesta cerita bukan sekadar latar. Ia adalah lingkungan yang produktif secara naratif.

Kita bisa membayangkan sebuah panggung. Panggung yang baik tidak perlu terus-menerus dipindahkan agar pertunjukan menarik. Justru karena panggungnya tetap, penonton mengenali tempatnya dan perhatian mereka dapat diarahkan kepada apa yang terjadi di atasnya. Comic strip bekerja dengan cara yang kurang lebih sama. Kita kembali ke rumah Jon, ke lingkungan Charlie Brown, ke dunia Calvin, ke kantor Dilbert, ke pangkalan militer Beetle Bailey—dan karena kita sudah mengenal dunia itu, kita segera siap melihat sesuatu yang baru terjadi di dalamnya.

Di sinilah letak salah satu rahasia comic strip yang panjang umur: dunianya boleh tetap, tetapi kemungkinan di dalamnya tidak boleh habis. Semesta cerita yang kuat karena itu bukan semesta yang paling luas. Ia adalah semesta yang paling subur.

Garfield, misalnya, tidak membutuhkan dunia yang besar. Rumah Jon Arbuckle sudah menyediakan panggung yang luar biasa produktif. Ada Jon, Garfield, Odie, makanan, sofa, meja makan, tempat tidur, halaman rumah, dan berbagai benda sehari-hari. Tetapi yang membuat panggung sederhana itu tidak cepat membosankan adalah karakter-karakternya membawa kecenderungan yang berbeda ke dalamnya. Garfield malas dan rakus. Odie polos dan sering menjadi sasaran. Jon canggung dan mudah frustrasi. Dari tiga karakter saja sudah terbentuk semacam segitiga energi komedi.

Hal yang sama terjadi pada Peanuts. Dunia Charlie Brown juga sebenarnya sederhana. Anak-anak, sekolah, halaman, lapangan baseball, rumah, dan lingkungan tempat mereka bermain. Namun setiap karakter membawa cara melihat dunia yang berbeda. Charlie Brown cemas dan sering gagal. Lucy percaya diri dan suka memberi nasihat. Schroeder hidup dalam dunianya sendiri. Snoopy bahkan memiliki dunia imajinasi yang dapat berkembang jauh melampaui dunia anak-anak itu.

Maka karakter tidak hanya hidup di dalam semesta cerita; karakter ikut menciptakan semesta tersebut.

Ini penting. Ketika kita menciptakan komik strip, kita sering tergoda memulai dari desain tokoh: bagaimana wajahnya, pakaiannya, gaya rambutnya, atau ciri visual yang membuatnya mudah dikenali. Semua itu memang penting. Tetapi untuk comic strip, ada pertanyaan yang lebih mendasar:

Apa yang akan dilakukan tokoh ini berulang-ulang tanpa terasa sebagai pengulangan? Jawabannya biasanya terletak pada sifat, keinginan, kebiasaan, dan hubungan tokoh tersebut dengan dunia di sekitarnya.

Seorang tokoh yang selalu ingin menang dapat menghasilkan cerita tentang kompetisi. Tokoh yang selalu ingin makan dapat menghasilkan cerita tentang makanan. Tokoh yang selalu ingin diperhatikan dapat menghasilkan cerita tentang persahabatan dan keluarga. Tokoh yang selalu ingin dianggap pintar dapat menghasilkan cerita tentang kesombongan dan kegagalan. Sifat yang sama dapat menghasilkan gag yang berbeda ketika situasinya berubah.

Dengan demikian, sifat karakter adalah mesin kecil di dalam semesta cerita. Dan semakin banyak mesin kecil yang saling terhubung, semakin besar kemungkinan cerita yang dapat kita hasilkan.

Semesta Cerita Bukan Ensiklopedia

Ada satu kesalahpahaman lain yang perlu kita hindari. Membangun semesta cerita tidak berarti kita harus menciptakan dunia yang sangat lengkap. Kita tidak sedang membuat ensiklopedia kehidupan para tokoh.

Kita tidak perlu mengetahui seluruh sejarah kota tempat mereka tinggal. Kita tidak harus membuat silsilah keluarga sampai tiga generasi. Kita tidak perlu menentukan semua tetangga, semua tempat yang pernah mereka kunjungi, atau semua kejadian yang pernah mereka alami.

Yang kita perlukan adalah bagian-bagian dunia yang bisa menjadi sumber cerita.

Sebuah rumah bisa menjadi cukup luas untuk satu comic strip, selama di dalamnya ada hubungan yang menarik. Sebuah kantor bisa menjadi dunia yang lengkap selama ada hierarki, aturan, kebiasaan, dan konflik yang dapat terus dimainkan. Sebuah sekolah bisa menjadi semesta cerita selama ada guru, murid, teman, pelajaran, hukuman, ujian, persahabatan, persaingan, dan tentu saja kebosanan.

Jadi semesta cerita bukan soal seberapa banyak yang kita ciptakan, tetapi seberapa banyak kemungkinan yang dapat kita keluarkan dari apa yang kita ciptakan.

Ada perbedaan besar antara keduanya. Semesta yang terlalu luas justru bisa menyulitkan. Setiap hari kita merasa harus menemukan tempat baru, tokoh baru, dan persoalan baru. Akibatnya, identitas comic strip menjadi kabur.

Sebaliknya, semesta yang terlalu sempit dapat membuat cerita terasa berulang. Comic strip yang baik menemukan titik keseimbangan: dunia yang cukup terbatas untuk dikenali, tetapi cukup kaya untuk terus menghasilkan kejutan.

Panggung yang Sama, Permainan yang Berbeda

Di sinilah kita dapat melihat mengapa Peanuts, Garfield, dan Calvin & Hobbes bisa bertahan begitu lama. Mereka tidak terus-menerus memperbesar dunia mereka. Mereka justru terus menggali kemungkinan dari dunia yang sudah dikenal pembaca.

Sebuah meja makan dapat menjadi tempat makan malam, arena pertengkaran, tempat menyusun rencana, tempat menyembunyikan sesuatu, atau bahkan medan perang dalam imajinasi seorang anak.

Sebuah sofa bisa menjadi tempat tidur, tempat membaca, tempat bermalas-malasan, tempat menunggu, atau tempat seekor kucing merencanakan pencurian makanan.

Sebuah halaman sekolah bisa menjadi tempat bermain, tempat berbicara, tempat menunggu seseorang, tempat gagal, tempat menang, atau tempat seorang anak tiba-tiba menemukan pertanyaan filosofis tentang kehidupan.

Tempatnya sama. Maknanya berubah karena karakter yang berada di dalamnya berubah.

Ini juga menjelaskan mengapa semesta cerita yang kuat dapat menghasilkan humor tanpa harus selalu mengandalkan peristiwa luar biasa. Comic strip sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari justru karena kehidupan sehari-hari tidak pernah benar-benar sama. Rutinitas menyediakan struktur; karakter menyediakan gangguan. Dan gangguan itulah yang kita tunggu.

Konflik Kecil yang Tidak Pernah Habi

Komik strip tidak membutuhkan konflik sebesar perang, perceraian, kudeta, atau perjalanan ke planet lain. Konfliknya dapat berukuran sangat kecil. Garfield ingin makan. Calvin ingin bermain. Charlie Brown ingin menang. Beetle Bailey ingin tidur. Seseorang ingin mendapatkan perhatian. Seseorang ingin menghindari pekerjaan. Seseorang ingin terlihat pintar. Seseorang ingin mendapatkan sesuatu yang sebenarnya tidak boleh ia miliki. Keinginan kecil itu kemudian bertemu dengan hambatan kecil. Dari situlah cerita bergerak.

Maka kita dapat melihat struktur yang sangat sederhana: keinginan → hambatan → usaha → akibat. Yang membuatnya tidak habis adalah kenyataan bahwa hambatan dan akibat dapat terus berubah, sementara keinginan dasar karakter tetap sama. Di sinilah comic strip menemukan sumber energinya.

Karakter yang Kuat Tidak Pernah Benar-Benar Selesai

Karakter comic strip yang berhasil juga memiliki sesuatu yang menarik: mereka tidak mengalami perkembangan seperti tokoh novel pada umumnya. Charlie Brown tetap Charlie Brown. Garfield tetap Garfield. Calvin tetap Calvin. Mereka berubah sedikit, tetapi tidak berubah sedemikian rupa sehingga kehilangan identitasnya.

Ini mungkin tampak seperti kelemahan jika kita menggunakan logika cerita panjang. Dalam novel, kita sering mengharapkan karakter berubah. Ia belajar, mengalami kehilangan, menjadi dewasa, menemukan sesuatu, lalu akhirnya menjadi manusia yang berbeda.

Komik strip membutuhkan logika yang lain. Ia membutuhkan karakter yang cukup konsisten untuk dikenali dan cukup fleksibel untuk dimainkan. Karakter tidak harus menyelesaikan persoalan hidupnya. Bahkan, kalau semua persoalannya selesai, kita mungkin kehilangan sumber cerita. Garfield tidak harus berhenti malas. Charlie Brown tidak harus akhirnya memenangkan semuanya. Calvin tidak harus menjadi anak yang sepenuhnya bijaksana. Justru ketidaksempurnaan mereka adalah sumber daya kreatif. Karakter yang tidak pernah benar-benar selesai adalah karakter yang selalu bisa dimasukkan kembali ke dalam permainan.

Dari Semesta ke Mesin Cerita

Pada titik ini kita bisa mulai merumuskan sesuatu yang akan menjadi penting sepanjang buku ini. Sebuah comic strip yang kuat memiliki semacam mesin cerita. Mesin itu tidak menghasilkan cerita secara otomatis. Tetapi ia membuat cerita lebih mudah ditemukan. Bayangkan: Karakter + sifat + keinginan + hubungan + tempat + aturan dunia = kemungkinan cerita.

Kemudian kemungkinan itu kita dorong sedikit: kemungkinan → konflik → situasi → gag. Dan ketika gag selesai, karakter kembali ke keadaan semula. Besok kita mulai lagi. Inilah yang membuat comic strip berbeda dari cerita pendek biasa. Cerita pendek dapat selesai. Comic strip justru harus memiliki kemampuan untuk selesai tanpa benar-benar berakhir.

Satu strip berakhir. Dunia tidak. Karakter kembali ke kehidupannya. Dan besok, sesuatu yang lain bisa terjadi. Karena itu, ketika nanti kita membongkar sepuluh comic strip pilihan kita, kita tidak hanya akan mencari “apa yang lucu?” Kita akan mencari sesuatu yang lebih mendasar: Apa yang membuat dunia mereka mampu menghasilkan kelucuan berulang kali?

Kita akan melihat karakter mana yang menjadi sumber konflik, hubungan mana yang paling produktif, tempat mana yang paling sering digunakan, benda apa yang berubah menjadi perangkat komedi, kebiasaan apa yang dapat terus diputar, dan aturan dunia apa yang membuat semua itu terasa masuk akal. Sebab pada akhirnya, gag hanyalah buah. Semesta cerita adalah pohonnya. Dan kalau kita ingin membuat komic strip yang dapat hidup lama, kita tidak boleh sibuk mencari buah setiap pagi. Kita harus terlebih dahulu menanam pohon yang tepat. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *