Beng, Aksam, dan Spirit Komik Indie


INILAH penampilan mutakhirnya, ketika sibuk menjadi ahlulbait pameran “Retrospektif Komik Indie – Sepuluh Tahun Akademi Samali”, rambut gondrong berombak-ombak, sejumput janggut tapi sama sekali tak membuatnya memancarkan aura syar’i, celana pas selutut, kemeja bercorak kotak-kotak tak dikancingkan yang melapisi t-shirt.

Beng Rahadian (Foto: Cikopi.com)
Beng Rahadian (Foto: Cikopi.com)

Atau mungkin dia memang selalu begitu. Santai. Bebas. Ringan. Tapi, apa yang Beng Rahadian lakukan bersama Aksam – nama akrab Akademi Samali – bukanlah suatu perkara enteng. Sepuluh tahun sejak 2005, ia dan kawan-kawannya terus-menerus menandai bahwa komik Indonesia itu ada, hidup, terus tumbuh, berkembang, dan bergerak ke arah yang lebih baik.

Pameran Aksam di Bentara Budaya – Kompas, Palmerah Selatan, Jakarta, 8 hingga 16 Mei 2015, adalah ikhtiar terbaru untuk menandai perjalanan itu. Tanda itu adalah sebuah kesadaran baru.

“Apa yang kami kumpulkan baik itu koleksi komik dan sumber-sumber referensi tak dapat kami simpan sendiri, kami harus berbagi dengan orang lain. Kami menganggap ada hak masyarakat untuk mendapat informasi dan pengetahuan dari apa yang kami dapat,” ujarnya dalam pengantar di katalog pameran.

Informasi apa yang ingin dibagikan dengan pemilihan tema komik indie? “Komik indie memang telah selesai dalam wacana gerakan, namun ia masih hidup sebagai spirit,” kata Beng.

Retrospeksi komik indie yang diangkat oleh Aksam dalam pamerannya tahun ini, adalah spirit yang ingin mereka hadirkan: bahwa ada yang tertinggal saat komik indie Indonesia berkembang mengejar industri, yakni spirit untuk bermain.

“Komik indie mengajarkan kami bagaimana sebaiknya kita bermain dengan medium, bawha komik kadangkala bukan hanya urusan rupiah atau dollar yang ditukar rupiah saja, komik indie adalah ruang di dalam imajinasi kita masing-masing yang tidak boleh dibiarkan kosong,” urai Beng.

Di bursa buku yang tiap hari dibuka selama pameran sejumlah buku komik dijual. Ada judul baru, atau cetakan ulang edisi lama karya legenda komik Djair Warni yang hadir di malam pembukaan pameran, dan alm. Ganes Th. Juga ada majalah komik.  Salah satunya adalah buku kumpulan kartun karya Beng Rahadian “101 Canda Kopi” (Cendara Art Media, Jakarta, 2014). Seperti judulnya, ini kartun bertema utama seputar kopi. Ringan. Santai. Bebas. Tentu saja jenaka.

Tapi, buku eh kartun-kartun di buku ini hanya akan lahir dari seorang yang punya pengamatan jeli, menangkap hal-hal kecil di seputar interaksi manusia dan kopi. Kartun itu tiap pekan bisa diikuti di Koran Sindo. Yang tak ada di surat kabar di mana ia ditampilkan secara berkala adalah “Rahasia Dapur” di halaman-halaman akhir buku. Dari buka-bukaan itulah –  gambar Beng di situ yang lebih santai daripada pada sajian utama yang menurut saya terlalu rapi – kita bisa tahu bagaimana Canda Kopi lahir, betapa tak mudahnya menjaga konsistensi berkarya, dan bahwa “komikus mujahidin” (Toni Wahid menyebutnya Comic Jihadist) ini memang tak main-main dengan kopi, sebagaimana ia tak pernah main-main dengan komik. Ia meneliti kopi untuk karya kartun sebagai tesis studi S2-nya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *