KETIKA G30S PKI meletus, ia sedang berada Sumatera Utara bergabung dengan satu brigade yang disiagakan di hadapan Selat Malaka, dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia.
Ketika meletus G30S PKI, namanya berada dalam urutan teratas daftar tentara yang hendak dihabisi PKI, karena dia sangat anti-komunis dan berperan banyak menumpas pemberontakan PKI di Madiun.
Ia dipanggil Soeharto ke Jakarta untuk memperkuat tentara memulihkan keamanan di Jakarta pasca-G30S-PKI. Ia lalu diangkat menjadi Kepala Staf KOSTRAD, dan menjadi panglima pasukan darat di Jakarta, dan merancang upaya pembersihan di daerah-daerah.
Soeharto mempercayainya untuk mengawal gerakan mahasiswa. “Jagalah anak-anak muda ini jangan sampai mereka menjadi korban. Gerakan mahasiswa adalah gerakan kita juga,” ujar Soeharto. Ia dekat dengan Abdul Gafur, David Napitupulu, dan Cosmas Batubara, beberapa nama tokoh pergerakan mahasiswa kala itu. Tetapi kemampuannya menggalang kedekatan anak-anak muda dan masyarakat luas pada umumnya kelak membuatnya menjadi tokoh yang mengancam posisi Soeharto, dan karena itu ia harus diredam.
Soeharto memerintahkan dia untuk menangkap Soebandrio, dengan cara apa saja. Untuk itu ia menempatkan pasukan tanpa identitas – yang sebenarnya adalah bagian dari pasukan RPKAD – mengepung Istana Negara, di mana Soebandrio berlindung.
Baginya peristiwa G30S-PKI merupakan lembaran hitam dalam sejarah bangsa Indonesia. Orang komunis membunuh banyak orang Islam, sebaliknya ratusan ribu anggota partai komunis itu terbunuh pasca-pemberontakan yang gagal itu.
Ia ikut membangun orde baru dengan bangga, dengan sepenuh pengabdian, tapi kemudian kecewa menyaksikan bagaimana kekuasaan pelan-pelan mengubah kawan-kawan militernya, juga mengubah Soeharto yang semakin merasa besar, semakin merasa paling benar, dan tak lagi mau mendengar pendapat orang lain.
Ia menolak dijadikan duta besar, karena itu berarti ia dibuang di saat ia merasa pengabdiannya pada Indonesia yang sedang membangun begitu dibutuhkan, tetapi akhirnya harus menerima penugasan di Yugoslavia dan kemudian Yunani.
Ia yang menolak tawaran Soeharto untuk dikaryakan sekembalinya dari tugas menjadi duta besar, karena itu ia disebut sebagai “Jenderal Bodoh”, dan memilih bekerja profesional dan kemudian menjadi pengusaha pengelola sampah di Jakarta, karena itu dia disebut “Jenderal Sampah”.
Ia yang kelak ikut merumuskan sikap dan menandatangani apa yang terkenal sebagai “Petisi 50”, dan menjadi musuh utama penguasa Orde Baru yang kemudian bertahun-tahun dibungkam.
Dialah yang bersama empat belas orang jenderal senior mendatangi gedung DPR/MPR-RI, menjelang reformasi 1998, dan meminta DPR untuk mendesak Soeharto mengundurkan diri atau mengundang Majelis ke sidang istimewa.
Darahnya tulen Minang, tapi ia sama sekali tak bisa berbahasa Minang. Ia fasih berbicara dalam beberapa bahasa asing. Ia adalah Kemal Idris (Lahir di Singaraja, 1923 – Meninggal di Jakarta 2005).
– Ditulis dari buku “Kemal Idris, Bertarung dalam Revolusi”, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996.

Tinggalkan Balasan