Maka sebuah kota yang ingin menjadi tempat subur bagi entrepreneur tidak cukup hanya menyediakan program bantuan. Ia harus membangun tanah tempat usaha dapat tumbuh.
Oleh Hasan Aspahani
Pada tulisan sebelumnya, kita bertanya: mengapa sebuah kota membutuhkan entrepreneur? Jawabannya bukan semata-mata karena entrepreneur menciptakan usaha. Yang lebih penting, mereka menciptakan pekerjaan, menemukan kebutuhan baru, melahirkan produk dan jasa, mengambil risiko, serta membuka kemungkinan-kemungkinan ekonomi yang sebelumnya belum ada.
Tetapi dari sana muncul pertanyaan berikutnya: kalau entrepreneur penting bagi sebuah kota, apa yang harus dilakukan kota agar mereka bisa tumbuh? Pertanyaan ini penting karena kita sering membayangkan entrepreneur sebagai sosok yang berdiri sendirian. Ia punya ide, berani mengambil risiko, bekerja keras, lalu berhasil. Cerita semacam itu menyenangkan, tetapi hanya menjelaskan sebagian kecil dari kenyataan.
Seseorang bisa memiliki ide bagus tetapi tidak menemukan modal. Ia bisa memiliki produk bagus tetapi tidak menemukan pasar. Ia bisa memperoleh pelanggan tetapi kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang tepat. Ia bisa memiliki kemampuan dan kemauan untuk berkembang tetapi waktunya habis untuk menghadapi birokrasi, biaya logistik, atau persoalan lain yang sebenarnya berada di luar inti bisnisnya.
Dengan kata lain, entrepreneur tidak tumbuh di ruang hampa. Ia tumbuh di dalam lingkungan ekonomi tertentu.
Dalam literatur pembangunan ekonomi, lingkungan semacam itu dikenal sebagai entrepreneurial ecosystem, atau ekosistem kewirausahaan. OECD – Organisation for Economic Co-operation and Development atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi – melihat ekosistem kewirausahaan sebagai gabungan berbagai faktor yang memungkinkan kegiatan kewirausahaan produktif berlangsung: institusi, budaya, jaringan, infrastruktur, pasar, pembiayaan, pengetahuan, talenta, kepemimpinan dan layanan pendukung.
Yang menarik, semua unsur itu tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka saling memengaruhi dan bersama-sama menentukan apakah sebuah bisnis dapat lahir, bertahan dan tumbuh.
Maka sebuah kota yang ingin menjadi tempat subur bagi entrepreneur tidak cukup hanya menyediakan program bantuan. Ia harus membangun tanah tempat usaha dapat tumbuh.
Tanah yang Subur
Kita bisa mulai dari hal yang paling tidak romantis dalam kewirausahaan: aturan. Seorang entrepreneur sudah menghadapi ketidakpastian pasar. Jangan sampai ketidakpastian itu ditambah oleh aturan yang tidak jelas, proses yang berbelit, biaya yang sulit diprediksi atau prosedur yang berubah-ubah. Kota yang ramah entrepreneur bukan kota yang memberikan izin secara sembarangan. Justru sebaliknya, ia adalah kota yang membuat aturan jelas, proses sederhana, biaya transparan dan waktu penyelesaian dapat diperkirakan.
Karena itu kualitas birokrasi sebenarnya merupakan bagian dari kebijakan kewirausahaan. Pemerintah tidak harus memberikan uang kepada seseorang agar bisa disebut membantu entrepreneur. Kadang-kadang menghilangkan satu hambatan administratif jauh lebih berarti daripada memberikan satu paket bantuan.
Batam sedang mempunyai kesempatan untuk memperbaiki hal ini. Sensus Ekonomi 2026, misalnya, diharapkan menghasilkan gambaran yang lebih lengkap mengenai aktivitas ekonomi kota. Data semacam itu penting bukan hanya untuk mengetahui berapa banyak usaha yang ada, tetapi juga untuk memahami struktur ekonomi Batam, sektor-sektor yang tumbuh, serta berbagai titik tempat kegiatan usaha mengalami hambatan.
Kota yang ingin menumbuhkan entrepreneur harus terlebih dahulu mengenal ekonomi yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
Setelah aturan, persoalan berikutnya adalah modal. Tetapi di sini pun kita harus berhati-hati. Pengusaha yang baru membuka usaha mungkin membutuhkan beberapa juta atau puluhan juta rupiah. Usaha yang mulai berkembang mungkin membutuhkan modal kerja yang lebih besar. Perusahaan yang hendak membeli mesin membutuhkan kredit investasi. Perusahaan teknologi yang ingin tumbuh cepat bahkan mungkin membutuhkan investor, bukan pinjaman.
Jadi persoalannya bukan sekadar apakah modal tersedia, melainkan apakah seorang pengusaha dapat menemukan jenis modal yang tepat pada tahap pertumbuhan yang tepat. OECD sendiri menekankan bahwa kebutuhan pembiayaan berubah sepanjang siklus hidup perusahaan dan tidak semua usaha cocok dengan bentuk pembiayaan yang sama.
Batam sudah memiliki sejumlah program pembiayaan untuk UMKM, termasuk program pinjaman tanpa bunga dan subsidi bunga yang digulirkan pemerintah kota. Program seperti ini penting, terutama untuk membantu usaha mikro yang kesulitan mengakses pembiayaan formal. Tetapi tujuan akhirnya seharusnya bukan membuat pengusaha terus-menerus bergantung pada bantuan. Tujuannya adalah membuat usaha semakin produktif sehingga pada tahap berikutnya ia mampu tumbuh dengan kekuatannya sendiri.
Dan di sinilah kita sampai pada sesuatu yang bahkan lebih penting daripada modal: pasar. Pengusaha hidup dari pelanggan, bukan dari pelatihan. Pelatihan tentu berguna. Sertifikasi berguna. Pameran berguna. Pendampingan berguna. Tetapi semua itu baru berarti ketika seorang pengusaha akhirnya menemukan orang yang bersedia membeli produknya.
Batam mempunyai keunggulan yang sangat besar dalam hal ini. Kota ini memiliki basis industri, kawasan industri, galangan kapal, perdagangan, logistik, serta perusahaan-perusahaan besar yang menciptakan kebutuhan terhadap berbagai macam barang dan jasa. Maka pengembangan kewirausahaan Batam seharusnya tidak hanya dipikirkan sebagai upaya membuat UMKM semakin banyak.
Yang jauh lebih strategis adalah menghubungkan perusahaan lokal dengan mesin industri yang sudah ada.
Perusahaan besar membutuhkan pemeliharaan, pengemasan, transportasi, katering, kebersihan, desain, perangkat lunak, engineering, jasa digital, logistik dan berbagai layanan pendukung lainnya. Kalau sebagian kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan yang tumbuh di Batam, maka hubungan antara industri besar dan UMKM bukan lagi hubungan antara “pemberi bantuan” dan “penerima bantuan”. Ia berubah menjadi hubungan bisnis.
Di situlah kebijakan UMKM bertemu dengan kebijakan industri.
Perusahaan besar bahkan dapat menjadi semacam sekolah bagi perusahaan lokal: memberikan standar, pengetahuan, teknologi, jaringan dan pasar. Dalam ekosistem yang sehat, keberadaan perusahaan besar seharusnya bukan hanya menarik tenaga kerja dari kota, tetapi juga melahirkan pemasok, mitra dan perusahaan baru di sekitarnya.
Namun pasar dan modal belum cukup. Pengusaha membutuhkan manusia. Sebuah perusahaan tidak dibangun hanya dengan gagasan pendirinya. Ia membutuhkan teknisi, programmer, akuntan, desainer, tenaga penjualan, operator, engineer dan manajer. Karena itu ekosistem kewirausahaan sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari kualitas pendidikan dan keterampilan.
Batam memiliki industri. Batam memiliki perguruan tinggi. Batam memiliki sekolah kejuruan. Batam memiliki perusahaan. Tantangannya adalah memastikan semuanya tidak berjalan sebagai pulau-pulau yang terpisah.
Kampus harus mengetahui kebutuhan perusahaan. Perusahaan harus terlibat dalam pembentukan keterampilan. Sekolah kejuruan harus mengetahui teknologi yang benar-benar digunakan industri. Dan pemerintah harus menjadi penghubung yang membuat hubungan itu berlangsung secara sistematis.
Sebab entrepreneur yang berhasil tumbuh membutuhkan sesuatu yang lebih mahal daripada modal: talenta.
Ada satu lagi unsur yang sering luput karena sulit diukur: jaringan. Seorang pengusaha bertemu investor. Pengusaha lain bertemu dosen. Startup bertemu perusahaan besar. Mahasiswa bertemu pendiri perusahaan. Pengusaha lama bertemu pengusaha muda. Dari pertemuan-pertemuan semacam itu sering kali muncul sesuatu yang tidak bisa diproduksi oleh birokrasi.
Lalu dari pertemuan itu lahirnya percakapan. “Perusahaanmu butuh itu? Saya bisa membuatnya.” Percakapan sederhana semacam itu kadang merupakan awal sebuah perusahaan.
Karena itu kota membutuhkan ruang tempat orang-orang ekonomi bertemu. Inkubator, akselerator, komunitas, coworking space, pusat inovasi, forum bisnis dan hubungan kampus-industri semuanya memiliki fungsi yang sama: mempertemukan orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.
Ekosistem bukan sekadar kumpulan perusahaan. Ia adalah jaringan hubungan. Kemudian ada infrastruktur. Dan untuk entrepreneur zaman sekarang, infrastruktur bukan hanya jalan dan jembatan. Ia mencakup internet, listrik, air, transportasi, logistik, ruang usaha, sistem pembayaran dan berbagai layanan yang memungkinkan sebuah perusahaan bekerja dengan biaya yang masuk akal dan tingkat kepastian yang cukup.
Jalan yang baik menurunkan biaya distribusi. Pelabuhan yang efisien memperluas pasar. Internet yang cepat memungkinkan usaha kecil menjual ke luar kota. Transportasi yang baik memperluas jangkauan tenaga kerja. Listrik dan air yang stabil membuat produksi dapat berlangsung tanpa gangguan yang tidak perlu. Maka pembangunan infrastruktur sebenarnya juga merupakan kebijakan kewirausahaan.
Dan ada satu unsur yang lebih sulit dibangun daripada jalan, pelabuhan atau jaringan internet: budaya. Menjadi entrepreneur berarti bersedia mencoba sesuatu yang belum tentu berhasil. Karena itu masyarakat yang ingin melahirkan banyak entrepreneur harus mempunyai toleransi tertentu terhadap kegagalan.
Masalahnya, kita sering hanya merayakan pengusaha setelah berhasil. Kita melihat omzetnya, gedungnya, mereknya, mobilnya. Kita jarang melihat sepuluh tahun kegagalan yang mungkin mendahului keberhasilannya.
Padahal kegagalan adalah bagian dari proses penemuan. Kota yang sehat bagi entrepreneur bukan kota yang membuat orang takut gagal. Ia adalah kota yang membuat kegagalan bisa diubah menjadi pengetahuan.
Kita bahkan mungkin perlu mulai menceritakan lebih banyak kisah tentang pengusaha yang gagal dan apa yang dipelajarinya. Sebab kegagalan yang dipahami dapat menjadi pengetahuan publik dan mencegah orang lain mengulangi kesalahan yang sama.
Batam Tidak Mulai dari Nol
Semua ini penting karena Batam sebenarnya tidak sedang memulai dari halaman kosong. Perekonomian Batam pada 2025 mencapai PDRB atas dasar harga berlaku sekitar Rp253,64 triliun dan tumbuh 6,76 persen. Kota ini memiliki basis industri, perusahaan besar, kawasan ekonomi, pelabuhan, perguruan tinggi dan berbagai program pengembangan UMKM.
Pemerintah kota juga telah memiliki program pembiayaan, pelatihan dan pendampingan. Dalam dokumen perencanaan daerah, pengembangan usaha mikro dan peningkatan skala usaha juga sudah menjadi bagian dari agenda pembangunan.
Artinya, persoalannya bukan bahwa Batam tidak mempunyai unsur-unsur ekosistem kewirausahaan. Justru pertanyaan yang lebih menarik adalah: Apakah unsur-unsur itu sudah terhubung? Apakah pembiayaan terhubung dengan kebutuhan pertumbuhan usaha? Apakah pelatihan terhubung dengan kebutuhan industri? Apakah industri terhubung dengan perusahaan lokal? Apakah kampus terhubung dengan dunia usaha? Apakah perusahaan yang sudah berhasil membantu melahirkan perusahaan baru? Dan apakah pemerintah memiliki data yang cukup untuk mengetahui pada tahap mana sebuah usaha paling sering berhenti tumbuh? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat ukuran keberhasilan kebijakan kewirausahaan perlu diperluas.
Bukan hanya: berapa orang yang dilatih? Berapa orang yang memperoleh pinjaman? Berapa bazar yang diselenggarakan? Tetapi: berapa usaha baru yang lahir? Berapa yang bertahan? Berapa yang tumbuh? Berapa yang menciptakan pekerjaan? Berapa yang masuk ke rantai pasok industri? Berapa yang berhasil menjual ke luar Batam?
Dan akhirnya, pertanyaan yang paling menarik: Berapa banyak perusahaan yang lahir di Batam kemudian menjadi perusahaan yang cukup kuat untuk membawa nama Batam ke luar? Di sinilah kita perlu mengubah cara memandang peran pemerintah. Pemerintah kota tidak harus menjadi pengusaha. Ia juga tidak perlu menentukan siapa yang akan menjadi pemenang. Pemerintah tidak harus membuat semua orang menjadi entrepreneur, apalagi terus-menerus menyelamatkan usaha yang sebenarnya tidak memiliki pasar. Peran pemerintah lebih mendasar.
Membuat tanahnya subur bagi entrepreneurship. Memastikan aturan tidak menghambat. Memastikan modal tersedia pada tahap yang tepat. Membuka akses pasar. Menumbuhkan talenta. Membangun infrastruktur. Menghubungkan kampus dengan industri. Mempertemukan pengusaha dengan jaringan. Dan membangun budaya yang memungkinkan orang mencoba, gagal, belajar, lalu mencoba lagi.
Pemerintah tidak harus menanam semua pohon. Pemerintah sekali lagi harus memastikan tanahnya subur. Jika tanahnya subur, kita tidak perlu memerintahkan setiap orang menjadi entrepreneur. Akan selalu ada orang yang melihat peluang. Akan selalu ada orang yang mempunyai ide. Akan selalu ada orang yang berani mengambil risiko. Sebagian akan gagal. Sebagian akan bertahan. Dan sebagian kecil akan tumbuh.
Satu usaha menjadi dua. Dua menjadi sepuluh. Sepuluh menjadi perusahaan. Perusahaan menjadi pemasok bagi perusahaan lain. Pemasok menciptakan pekerjaan. Pekerjaan menciptakan pendapatan. Pendapatan menciptakan permintaan baru. Dan dari sana ekonomi kota bergerak.
Itulah sebabnya kota yang baik bagi entrepreneur bukan kota yang paling banyak memberikan bantuan kepada pengusaha. Ia adalah kota yang membuat usaha yang baik memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi perusahaan yang baik. Batam sudah memiliki banyak aktivitas ekonomi. Pertumbuhan ekonominya menunjukkan bahwa mesin itu bekerja.
Yang perlu kita lihat sekarang adalah apakah mesin tersebut juga mampu melahirkan mesin-mesin ekonomi baru dari dalam dirinya sendiri. Maka setelah bertanya mengapa sebuah kota membutuhkan entrepreneur, pertanyaan berikutnya menjadi semakin jelas: Apa yang membuat sebuah usaha mampu tumbuh menjadi perusahaan? []
