Kate Chopin (1850–1904) adalah pengarang Amerika yang banyak menulis tentang kehidupan perempuan, perkawinan, hasrat, dan benturan antara keinginan pribadi dengan norma sosial; ia dikenal terutama melalui novel The Awakening (1899) dan cerpen-cerpennya yang tajam mengamati kehidupan batin perempuan. The Story of an Hour berkisah tentang Louise Mallard yang, setelah menerima kabar kematian suaminya, mengalami kesadaran mendadak tentang kebebasan dan kehidupan yang sepenuhnya menjadi miliknya, sebelum sebuah kejadian tak terduga mengubah semuanya. Dengan plot yang sangat sederhana dan durasi cerita yang hanya sekitar satu jam, Chopin membangun cerpen yang kuat melalui perubahan batin tokoh, simbol jendela terbuka, dan ironi pada kalimat penutup.
The Story of an Hour
Cerita Pendek Kate Chopin
Karena diketahui bahwa Mrs. Mallard menderita penyakit jantung, berita tentang kematian suaminya disampaikan kepadanya dengan kehati-hatian yang luar biasa, sedapat mungkin dengan cara yang selembut mungkin.
Adiknya, Josephine, yang menyampaikan berita itu, dengan kalimat-kalimat yang terputus-putus dan isyarat-isyarat samar yang justru mengungkapkan kenyataan sambil berusaha menyembunyikannya. Teman suaminya, Richards, juga ada di sana, dekat dengannya. Dialah yang berada di kantor surat kabar ketika kabar tentang kecelakaan kereta api diterima, dengan nama Brently Mallard tercantum paling atas dalam daftar “tewas”. Ia hanya meluangkan waktu untuk memastikan kebenaran berita itu melalui telegram kedua, lalu segera datang mendahului orang lain yang mungkin kurang hati-hati dan kurang lembut dalam menyampaikan kabar duka tersebut.
Ia tidak menerima berita itu seperti banyak perempuan lain menerima kabar serupa, dengan ketidakmampuan yang membekukan diri untuk memahami maknanya. Ia langsung menangis, dengan kepasrahan yang tiba-tiba dan liar, dalam pelukan adiknya. Setelah badai kesedihan itu mereda, ia pergi sendirian ke kamarnya. Ia tidak ingin siapa pun mengikutinya.
Di sana, menghadap jendela yang terbuka, berdiri sebuah kursi berlengan yang nyaman dan lapang. Ia menjatuhkan diri ke dalamnya, ditindih kelelahan fisik yang merasuki tubuhnya dan seolah-olah menjalar hingga ke dalam jiwanya.
Dari sana ia dapat melihat pucuk-pucuk pepohonan di lapangan terbuka di depan rumahnya, semuanya bergoyang-goyang dalam kehidupan baru musim semi. Udara membawa aroma hujan yang segar dan nikmat. Di jalan di bawah sana, seorang pedagang kaki lima meneriakkan dagangannya. Nada sebuah lagu yang dinyanyikan seseorang dari kejauhan sampai ke telinganya samar-samar, sementara burung-burung gereja yang tak terhitung jumlahnya berkicau di bawah lis atap. Di sana-sini, langit biru tampak di antara awan-awan yang bertemu dan bertumpuk satu di atas yang lain di sebelah barat, tepat di hadapan jendelanya.
Ia duduk dengan kepala bersandar ke belakang pada bantalan kursi, sama sekali tak bergerak, kecuali ketika isakan naik ke tenggorokannya dan mengguncang tubuhnya, seperti seorang anak yang, setelah menangis sampai tertidur, masih terus terisak dalam mimpinya.
Ia masih muda, dengan wajah yang cerah dan tenang, tetapi garis-garis wajahnya menunjukkan pengekangan diri, bahkan suatu kekuatan tertentu. Namun sekarang matanya menatap kosong, pandangannya terpaku jauh ke salah satu bidang langit biru itu. Tatapan itu bukan tatapan orang yang sedang berpikir, melainkan lebih menunjukkan berhentinya kemampuan berpikir secara sadar.
Ada sesuatu yang sedang datang kepadanya dan ia menunggunya dengan ketakutan. Apa itu? Ia sendiri tidak tahu; sesuatu yang terlalu halus dan sulit ditangkap untuk diberi nama. Namun ia merasakannya, merayap keluar dari langit, menjangkaunya melalui suara-suara, aroma-aroma, dan warna yang memenuhi udara.
Kini dadanya naik turun dengan hebat. Ia mulai mengenali sesuatu yang sedang mendekat untuk menguasainya, dan ia berusaha menolaknya dengan kehendaknya—sebuah kehendak yang sama tak berdayanya dengan kedua tangannya yang putih dan ramping. Ketika ia sedikit melepaskan perlawanan, sebuah kata yang diucapkannya lirih lolos dari bibirnya yang sedikit terbuka. Berkali-kali ia mengulanginya dalam bisikan: “Bebas, bebas, bebas!” Tatapan kosong dan ekspresi ketakutan yang sebelumnya memenuhi matanya menghilang. Matanya kini tajam dan bercahaya. Denyut nadinya berpacu, dan aliran darah yang menghangatkan tubuhnya membuat setiap inci tubuhnya terasa rileks. Ia tidak berhenti untuk bertanya apakah yang menguasainya itu merupakan kegembiraan yang mengerikan. Kesadaran yang jernih dan meninggi membuatnya menyingkirkan pikiran semacam itu sebagai sesuatu yang remeh.
Ia tahu bahwa ia akan menangis lagi ketika melihat tangan-tangan suaminya yang baik dan lembut terlipat dalam kematian; wajah yang selama ini hanya memandangnya dengan cinta, kini kaku, kelabu, dan tak bernyawa. Tetapi ia melihat melampaui saat pahit itu: rentetan panjang tahun-tahun yang akan datang, yang sepenuhnya menjadi miliknya. Dan ia membuka kedua lengannya, merentangkannya seolah menyambut tahun-tahun itu. Tidak akan ada lagi seseorang yang harus ia jalani hidupnya demi dirinya pada tahun-tahun yang akan datang; ia akan hidup untuk dirinya sendiri. Tidak akan ada lagi kehendak kuat yang membengkokkan kehendaknya sendiri dengan kegigihan buta yang membuat laki-laki dan perempuan merasa berhak memaksakan kehendak pribadi mereka kepada sesama manusia. Baik niat yang baik maupun niat yang kejam tidak membuat tindakan itu menjadi kurang merupakan sebuah kejahatan, ketika ia memandangnya dalam saat pencerahan yang singkat itu.
Namun, ia pernah mencintainya—kadang-kadang. Sering kali tidak. Apa pedulinya! Apa arti cinta, misteri yang tak terpecahkan itu, di hadapan penguasaan diri yang tiba-tiba ia sadari sebagai dorongan paling kuat dalam dirinya?
“Bebas! Bebas, tubuh dan jiwa!” bisiknya terus-menerus.
Josephine berlutut di depan pintu yang tertutup, bibirnya menempel pada lubang kunci, memohon agar diizinkan masuk. “Louise, buka pintunya! Kumohon, buka pintunya—kau bisa membuat dirimu sakit. Apa yang kaulakukan, Louise? Demi Tuhan, bukalah pintunya.”
“Pergilah. Aku tidak sedang membuat diriku sakit.” Tidak; melalui jendela yang terbuka itu ia justru sedang meneguk semacam ramuan kehidupan. Khayalannya berlari liar menyusuri hari-hari yang terbentang di hadapannya. Hari-hari musim semi, hari-hari musim panas, dan segala macam hari yang kelak menjadi miliknya sendiri. Ia mengucapkan doa singkat agar hidupnya panjang. Baru kemarin ia bergidik membayangkan bahwa hidupnya mungkin akan panjang.
Akhirnya ia bangkit dan membuka pintu untuk memenuhi permohonan adiknya. Ada kemenangan yang menghangat di matanya, dan tanpa disadarinya ia membawa diri seperti seorang dewi Kemenangan. Ia merangkul pinggang adiknya, dan bersama-sama mereka turun melalui tangga. Richards menunggu mereka di bawah.
Seseorang sedang membuka pintu depan dengan kunci. Orang itu adalah Brently Mallard, yang masuk dalam keadaan sedikit lelah oleh perjalanan, dengan tenang membawa tas perjalanan dan payungnya. Ia berada jauh dari tempat kecelakaan terjadi dan bahkan tidak tahu bahwa kecelakaan itu telah terjadi. Ia berdiri terpaku mendengar jeritan nyaring Josephine; melihat Richards bergerak cepat untuk menghalanginya agar tidak terlihat oleh istrinya.
Namun Richards terlambat.
Ketika para dokter datang, mereka mengatakan bahwa ia meninggal karena penyakit jantung—karena kegembiraan yang membunuhnya. []
Sumber: “The Story of an Hour” di The Owl Eyes | Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani.
