Apa yang membuat sebuah kamar tidur layak dilukis tiga kali?
Oleh Hasan Aspahani
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun dari sebuah kamar tidur sederhana di Arles, kita justru dapat melihat salah satu perubahan penting dalam sejarah seni rupa modern: perubahan tentang apa yang dianggap layak menjadi tema sebuah karya seni.
Vincent van Gogh melukis The Bedroom tiga kali. Versi pertama dibuat pada 1888, ketika ia tinggal di Yellow House, Arles. Versi kedua dibuat setahun kemudian ketika ia berada di Saint-Rémy, setelah lukisan pertama rusak akibat banjir. Versi ketiga juga dibuat pada 1889, dalam ukuran lebih kecil, untuk keluarganya. Kini ketiga lukisan itu berada di tiga museum berbeda: Van Gogh Museum di Amsterdam, Art Institute of Chicago, dan Musée d’Orsay di Paris.

Tiga lukisan itu menggambarkan kamar yang sama. Sebuah tempat tidur kayu, dua kursi, meja kecil, jendela, pintu, beberapa pakaian dan benda-benda pribadi. Tidak ada sesuatu yang tampak istimewa. Tidak ada kemewahan. Tidak ada tokoh penting. Tidak ada peristiwa besar.
Hanya sebuah kamar. Tetapi justru di situlah persoalannya menjadi menarik. Van Gogh tidak memilih istana sebagai subjek. Ia tidak memilih ruang resmi, tempat para bangsawan atau orang-orang berkuasa menjalani kehidupannya. Ia memilih ruang yang sangat pribadi dan sangat biasa: kamar tempat ia tidur.
Pilihan tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari perubahan besar dalam seni rupa Eropa pada abad ke-19. Seni akademik sebelumnya sangat dipengaruhi oleh hierarki tema. Sejarah, mitologi, agama dan peristiwa heroik menempati posisi tinggi. Kehidupan sehari-hari memang telah muncul dalam berbagai tradisi seni, tetapi dalam perkembangan seni modern, batas mengenai apa yang pantas menjadi subjek seni mulai semakin longgar.
Para pelukis mulai melihat dunia di sekeliling mereka dengan cara yang berbeda. Jalan kota, kafe, taman, pekerja, keluarga, benda-benda rumah tangga dan kehidupan sehari-hari mulai memperoleh perhatian yang lebih besar. Van Gogh membawa perubahan itu ke tingkat yang sangat personal. Ia tidak sekadar melukiskan kehidupan sehari-hari. Ia melukiskan kehidupannya sendiri.
Kamar itu menjadi semacam potret diri tanpa wajah. Kita tidak melihat Van Gogh duduk di atas kursi atau berdiri di depan tempat tidur. Tetapi kita merasakan keberadaannya melalui ruang yang ia tinggali. Benda-benda sederhana itu menjadi tanda tentang seseorang yang hidup di dalamnya.
Dan ada kejujuran yang kuat di sana. Van Gogh hidup jauh dari kemewahan. Kamar itu sederhana, bahkan miskin jika dibandingkan dengan gambaran ruang domestik kaum berada pada zamannya. Namun ia tidak menjadikan kemiskinan sebagai tontonan. Ia tidak meminta belas kasihan penonton.
Ia hanya menunjukkan: inilah kamar saya.
Di situlah The Bedroom terasa sangat manusiawi.
Kemiskinan hadir bukan sebagai tragedi yang dipertontonkan, melainkan sebagai bagian dari kenyataan sehari-hari. Van Gogh memberi perhatian artistik kepada sesuatu yang mungkin oleh orang lain dianggap terlalu biasa untuk dilihat.
Dan ketika sesuatu yang biasa masuk ke dalam lukisan, statusnya berubah.
Sebuah kamar tidur tidak lagi sekadar kamar tidur. Ia menjadi pengalaman.
Van Gogh sendiri menjelaskan bahwa ia ingin menciptakan suasana ketenangan dan istirahat melalui lukisan tersebut. Karena itu warna memainkan peranan penting. Ia menggunakan bidang-bidang warna yang kuat dan sederhana. Bentuk-bentuk benda tidak terutama dikerjakan untuk mencapai ilusi ruang yang sempurna, melainkan untuk membangun perasaan tertentu.
Dengan demikian, ia tidak hanya bertanya: seperti apa kamar ini?
Ia juga bertanya: bagaimana rasanya berada di kamar ini?
Pertanyaan semacam itu penting bagi perkembangan seni modern.
Seni perlahan tidak lagi harus tunduk pada kewajiban untuk menggambarkan dunia secara objektif. Pengalaman pribadi seniman menjadi semakin penting. Warna dapat menjadi ekspresi. Bentuk dapat membawa perasaan. Sebuah ruang dapat menjadi gambaran keadaan batin.
Dalam konteks itulah tiga versi The Bedroom menjadi semakin menarik.
Versi pertama adalah kamar yang dialami secara langsung. Van Gogh berada di Arles. Ia tinggal di sana dan melukiskan ruang yang benar-benar menjadi bagian dari hidupnya.
Versi kedua dibuat ketika ia sudah berada di Saint-Rémy. Kamar itu telah menjadi sesuatu yang jauh. Ia tidak lagi melukisnya hanya dari pengamatan langsung, tetapi melalui ingatan dan versi sebelumnya.
Di sini terjadi perubahan yang hampir tak terlihat tetapi penting: objek yang sama telah berubah menjadi kenangan.
Sedangkan versi ketiga dibuat untuk keluarganya. Ukurannya lebih kecil dan fungsi sosialnya berbeda. Ia bukan lagi semata-mata gambaran ruang pribadi yang ditempati Van Gogh. Ia telah menjadi sebuah benda yang dapat diberikan kepada orang lain—sebuah kenangan yang dikirimkan dari dirinya kepada keluarganya.
Maka tiga The Bedroom dapat dilihat sebagai tiga hubungan manusia dengan sebuah tempat: mengalami, mengingat, dan mewariskan.
Itulah sebabnya tiga lukisan tersebut lebih menarik jika kita lihat bukan sebagai tiga salinan, melainkan sebagai tiga tahap pengalaman.
Kamar yang sama ternyata tidak pernah benar-benar sama.
Ada pengalaman ketika kita berada di suatu tempat. Ada ingatan ketika tempat itu telah kita tinggalkan. Dan ada kenangan ketika tempat itu berubah menjadi sesuatu yang ingin kita bagikan kepada orang lain.
Van Gogh mungkin tidak sedang menyusun teori tentang semua itu. Ia hanya melukis kamarnya.
Namun sejarah seni sering kali bekerja seperti itu. Perubahan besar tidak selalu muncul dalam bentuk manifesto yang menjelaskan bahwa sebuah zaman baru sedang dimulai. Kadang perubahan itu muncul dalam keputusan sederhana seorang seniman: memilih objek yang sebelumnya dianggap terlalu biasa, kemudian memperlakukannya dengan kesungguhan yang sama seperti orang lain memperlakukan tema besar.
Di sinilah nilai historis The Bedroom menjadi lebih luas daripada cerita tentang Van Gogh.
Lukisan itu menjadi bagian dari perjalanan panjang seni menuju kehidupan sehari-hari, menuju pengalaman personal, menuju subjektivitas. Seni semakin memberi tempat kepada hal-hal yang dekat dengan manusia: rumah, tubuh, benda, pekerjaan, kesepian, kebiasaan, ingatan dan ruang privat.
Perubahan tersebut kelak menjadi semakin jauh dalam seni modern dan kontemporer.
Apa yang dilukis seorang seniman tidak lagi harus ditentukan oleh hierarki lama tentang mana yang agung dan mana yang remeh. Seniman memiliki kebebasan untuk mengatakan bahwa sesuatu yang sederhana pun penting karena ia berarti bagi pengalaman manusia.
Dalam pengertian ini, The Bedroom dapat dibaca sebagai sebuah perlawanan yang sangat tenang.
Tidak ada teriakan. Tidak ada slogan. Tidak ada propaganda.
Perlawanan itu terjadi melalui pilihan subjek.
Sebuah kamar yang sederhana dinyatakan layak untuk menjadi seni.
Dan mungkin justru di situlah kekuatan Van Gogh. Ia tidak perlu mencari dunia yang luar biasa untuk menghasilkan lukisan yang luar biasa. Ia menemukan dunia itu di tempat yang paling dekat dengannya.
Kamar tidurnya.
Pada akhirnya, misteri tiga versi The Bedroom bukan terutama mengapa Van Gogh mengulang lukisan yang sama. Alasan historisnya dapat kita telusuri: lukisan pertama rusak, versi kedua dibuat kembali, versi ketiga dipersembahkan kepada keluarganya.
Misterinya terletak pada sesuatu yang lebih besar.
Mengapa sebuah kamar yang begitu sederhana bisa menjadi penting dalam sejarah seni?
Jawabannya mungkin karena pada saat tertentu dalam sejarah, seni mulai mengubah cara memandang kehidupan. Yang sebelumnya dianggap kecil mulai memperoleh perhatian. Yang pribadi mulai menjadi penting. Yang sehari-hari mulai memiliki martabat estetis.
Van Gogh tidak hanya melukis sebuah kamar.
Ia membantu menunjukkan bahwa tema seni tidak harus datang dari dunia yang dianggap agung oleh masyarakat. Tema seni dapat datang dari kehidupan yang benar-benar dijalani manusia.
Dan dari sebuah kamar tidur kecil di Arles, kita dapat melihat sebuah pintu besar menuju seni modern: dari dunia yang harus dilukiskan menuju dunia yang dialami. []
