Penulis yang menggunakan AI memang bisa dipandang seperti seorang sutradara. Ia tidak harus mengerjakan seluruh pekerjaan produksi dengan tangannya sendiri. Ia dapat menggunakan banyak alat dan bahkan bekerja bersama banyak orang untuk mewujudkan visinya. Tetapi seorang sutradara tetap memiliki visi. Ia memilih aktor. Ia menentukan adegan. Ia menilai permainan. Ia meminta pengambilan gambar diulang. Ia memotong bagian yang tidak sesuai. Ia menentukan film seperti apa yang akhirnya sampai kepada penonton. Demikian pula penulis yang bekerja dengan AI.
Oleh Hasan Aspahani
Ada sebuah gagasan sederhana yang menarik dalam perdebatan tentang AI dan kepenulisan: cerita adalah milik kita, karakter adalah milik kita, setiap keputusan adalah milik kita, sementara pekerjaan mengetik boleh dilakukan AI. Bahkan gagasan itu diringkas dengan kalimat yang provokatif: “That’s not cheating. That’s directing.”
Kalimat tersebut menarik karena menggeser perdebatan tentang AI dalam menulis dari pertanyaan yang terlalu sederhana—bolehkah penulis menggunakan AI?—ke pertanyaan yang lebih penting: di mana batas antara menggunakan AI sebagai alat dan menyerahkan pekerjaan kreatif kepada AI?
Perdebatan ini sering terjebak pada dua kutub. Di satu sisi ada anggapan bahwa menggunakan AI berarti curang karena tulisan seharusnya dihasilkan sendiri oleh penulis. Di sisi lain ada keyakinan bahwa selama seseorang memberikan prompt, memilih hasil yang disukai, lalu menerbitkannya, maka seluruh karya itu tetap miliknya. Kedua pandangan tersebut menurut saya sama-sama terlalu sederhana.
Persoalannya bukan apakah AI digunakan atau tidak. Persoalannya adalah apa yang masih dilakukan manusia ketika AI digunakan.
Mengetik Bukan Kepengarangan
Selama ini kita terbiasa menganggap pekerjaan menulis sebagai satu kesatuan: berpikir sekaligus menuangkan pikiran ke dalam kata-kata. Padahal sebenarnya keduanya adalah pekerjaan yang berbeda.
Mengetik adalah aktivitas fisik dan mekanis. Kepengarangan adalah aktivitas intelektual dan artistik.
Seorang penulis memikirkan cerita, memilih sudut pandang, menciptakan karakter, menentukan konflik, mengatur ritme, memilih detail, membuang bagian yang dianggap tidak perlu, menentukan bagaimana sebuah adegan berakhir, dan memutuskan apa yang ingin dikatakan melalui seluruh cerita. Kata-kata adalah medium yang digunakan untuk mewujudkan keputusan-keputusan itu.
AI kini mampu membantu bahkan mengambil alih sebagian pekerjaan mekanis tersebut. Ia dapat mengubah gagasan menjadi paragraf, mengembangkan kerangka menjadi uraian, membuat beberapa alternatif adegan, menyusun dialog, atau mengubah kalimat menjadi gaya tertentu.
Karena itu, tidak ada alasan prinsipil untuk menganggap setiap kalimat yang dihasilkan AI otomatis menghilangkan kepengarangan manusia.
Masalahnya baru muncul ketika yang diserahkan kepada AI bukan lagi sekadar pekerjaan mengetik, melainkan pekerjaan memutuskan.
Di Mana Batasnya?
Bayangkan seorang penulis mempunyai gagasan tentang seorang wartawan yang kehilangan pekerjaannya karena newsroom tempatnya bekerja digantikan AI. Ia menentukan siapa tokohnya, apa konflik utamanya, bagaimana hubungan antartokoh, apa yang ingin dikatakan cerita itu, bahkan bagaimana cerita tersebut berakhir.
Kemudian ia meminta AI membantu menyusun kalimat.
Dalam keadaan seperti ini, AI memang bekerja sebagai alat bantu. Penulis tetap mengarahkan karya. Ia membaca hasilnya, mengubahnya, menolak sebagian, memilih sebagian, dan memastikan semuanya sesuai dengan gagasan yang hendak disampaikan.
Sekarang ubah situasinya.
Penulis hanya memberikan premis pendek. AI kemudian menentukan karakter, membangun konflik, memilih sudut pandang, menciptakan adegan, menulis dialog, menentukan perkembangan cerita dan menghasilkan hampir seluruh naskah. Manusia kemudian membaca hasilnya dan berkata, “Bagus,” lalu menerbitkannya.
Apakah itu masih karya manusia?
Secara hukum dan teknis persoalannya bisa panjang. Tetapi secara kreatif kita seharusnya berani mengatakan: kepengarangan manusia dalam karya tersebut sudah jauh lebih tipis.
Karena yang membuat sebuah karya menjadi karya seseorang bukanlah sekadar siapa yang menekan tombol generate. Yang menentukan adalah siapa yang mengambil keputusan kreatif yang membentuk karya tersebut.
AI Bisa Menjadi Juru Tulis, Tetapi Jangan Menjadi Pengganti Pikiran
Di sinilah slogan “That’s not cheating. That’s directing” menjadi menarik.
Penulis yang menggunakan AI memang bisa dipandang seperti seorang sutradara. Ia tidak harus mengerjakan seluruh pekerjaan produksi dengan tangannya sendiri. Ia dapat menggunakan banyak alat dan bahkan bekerja bersama banyak orang untuk mewujudkan visinya. Tetapi seorang sutradara tetap memiliki visi. Ia memilih aktor. Ia menentukan adegan. Ia menilai permainan. Ia meminta pengambilan gambar diulang. Ia memotong bagian yang tidak sesuai. Ia menentukan film seperti apa yang akhirnya sampai kepada penonton. Demikian pula penulis yang bekerja dengan AI.
Ia tidak harus menulis setiap kata secara manual. Tetapi ia harus tetap memiliki kendali kreatif atas karya tersebut.
Ini sebabnya saya lebih menyukai pertanyaan “siapa yang membuat keputusan?” daripada pertanyaan “berapa persen teks dibuat AI?” Persentase kata yang dihasilkan mesin tidak selalu menunjukkan tingkat kepengarangan.
Sebuah paragraf mungkin dibuat seluruhnya oleh AI, tetapi merupakan hasil dari gagasan, struktur dan arahan yang sangat rinci dari penulis. Sebaliknya, seseorang bisa menulis seluruh teks dengan tangannya sendiri tetapi hampir tidak melakukan kerja kreatif selain menyalin, menggabungkan atau mengulang gagasan orang lain.
Kepengarangan tidak dapat diukur hanya dari jumlah kata yang diketik.
Penulis Tidak Harus Mempertahankan Pekerjaan Mengetik
Ada kekhawatiran bahwa jika AI semakin pintar menulis, penulis akan kehilangan pekerjaannya. Kekhawatiran itu tidak sepenuhnya keliru. Sebagian pekerjaan yang selama ini dibayar karena kemampuan memproduksi teks memang akan semakin mudah dilakukan mesin.
Tetapi mungkin kita justru perlu memisahkan pekerjaan menghasilkan teks dari pekerjaan menjadi penulis.
Jika sebuah mesin dapat membuat lima puluh alternatif pembuka dalam beberapa detik, kemampuan menghasilkan lima puluh pembuka bukan lagi keunggulan utama manusia. Nilai penulis justru semakin bergeser ke kemampuan memilih pembuka mana yang benar-benar diperlukan.
Jika AI dapat menghasilkan dialog, keunggulan penulis bukan lagi sekadar kemampuan menghasilkan dialog dengan cepat. Keunggulannya adalah mengetahui dialog seperti apa yang benar bagi karakter dan cerita.
Jika AI dapat membuat seratus metafora, penulis tetap diperlukan untuk mengetahui metafora mana yang memiliki pengalaman, perasaan, gagasan dan makna.
Dengan kata lain, AI mungkin mengambil alih sebagian produksi, tetapi justru membuat penilaian semakin penting.
Tetapi Ada Bahaya Yang Tidak Boleh Kita Abaikan
Namun kita juga tidak boleh menggunakan gagasan “AI hanya mengetik” sebagai pembenaran untuk segala bentuk penggunaan AI. Sebab bahasa bukan sekadar kemasan pikiran. Dalam sastra dan tulisan personal, cara mengatakan sesuatu adalah bagian dari apa yang dikatakan.
Pilihan kata, ritme kalimat, jeda, pengulangan, metafora, bahkan kekakuan atau ketidaksempurnaan tertentu bisa menjadi bagian dari suara seorang penulis.
Kalau seluruh proses itu diserahkan kepada AI, lalu penulis hanya memilih hasil yang paling enak dibaca, kita mungkin memperoleh tulisan yang lebih lancar tetapi kehilangan sesuatu yang lebih sulit diukur: suara pengarang.
Ini paradoks AI dalam kepenulisan. AI bisa membuat kita menulis lebih cepat, tetapi belum tentu membuat kita lebih menjadi penulis. AI bisa membuat kalimat lebih rapi, tetapi belum tentu membuat gagasan lebih dalam. AI bisa membuat cerita lebih lancar, tetapi belum tentu membuat cerita itu lebih personal.
Karena itu penggunaan AI yang produktif justru menuntut penulis semakin sadar terhadap apa yang tidak boleh ia serahkan kepada mesin.
Yang Harus Tetap Menjadi Milik Penulis
Mungkin kita dapat membuat batas yang sederhana. Gagasan harus milik penulis. Pertanyaan yang hendak dijawab harus milik penulis. Visi karya harus milik penulis. Keputusan-keputusan utama harus milik penulis. Penilaian terhadap hasil harus dilakukan penulis. Dan yang paling penting, tanggung jawab atas karya harus berada pada penulis.
AI boleh membantu mencari kemungkinan. AI boleh menawarkan kalimat. AI boleh membuat draf. AI boleh menjadi partner berpikir. AI bahkan boleh melakukan sebagian pekerjaan yang dulu kita anggap sebagai pekerjaan utama seorang penulis.
Tetapi ketika AI mulai menentukan apa yang hendak kita katakan, mengapa kita mengatakannya, siapa yang mengatakannya, dan bagaimana maknanya dibangun, maka kita harus berhenti menyebutnya sekadar “mengetik”.
Pada titik itu AI sudah masuk ke wilayah kepengarangan.
Mungkin Inilah Bentuk Baru Menulis
Kita tidak perlu mempertahankan romantisme bahwa seorang penulis harus selalu duduk sendirian di depan komputer dan mengetik setiap kalimat dari awal sampai akhir agar karyanya sah sebagai karya manusia. Teknologi selalu mengubah cara manusia mencipta.
Mesin cetak mengubah cara buku dibuat. Mesin tik mengubah cara pengarang menulis. Komputer mengubah cara naskah diedit. Internet mengubah cara riset dilakukan. Sekarang AI mengubah hubungan antara gagasan dan bahasa.
Yang perlu dipertahankan bukan ritual lamanya, melainkan inti pekerjaannya. Penulis adalah orang yang memilih.
Ia memilih apa yang penting, apa yang tidak penting, apa yang benar, apa yang palsu, apa yang harus dikatakan, apa yang harus disembunyikan, kapan sebuah cerita harus berhenti, dan bagaimana pembaca seharusnya diajak mengalami karya itu.
Maka kita boleh saja membayangkan masa depan ketika seorang penulis hampir tidak mengetik lagi.
Tetapi selama cerita, karakter, visi, penilaian dan keputusan kreatifnya masih berasal darinya, kita masih bisa mengatakan bahwa AI membantunya menulis.
Bukan AI yang menjadi penulis. Sebaliknya, penulis sedang belajar menggunakan bentuk baru dari alat tulis. Dan mungkin batas yang paling sederhana adalah ini:
Kalau AI menggantikan tangan kita, kita masih menulis. Kalau AI menggantikan keputusan kita, kita mulai berhenti menjadi penulis.
Pertanyaan tentang AI dan kepengarangan, dengan demikian, bukanlah pertanyaan apakah kita harus memilih menulis sendiri atau menggunakan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagian mana dari proses menulis yang bersedia kita serahkan kepada mesin, dan bagian mana yang justru harus kita pertahankan sebagai wilayah manusia?
Di situlah, masa depan kepengarangan akan ditentukan. []
