Manusia tidak hanya beradaptasi terhadap lingkungan. Manusia juga mengubah lingkungan melalui inovasi, lalu harus beradaptasi kembali terhadap dunia yang telah ia ubah.
Ringkasan:
- Riset mengubah pengalaman menjadi pengetahuan.
- Inovasi mengubah pengetahuan menjadi solusi baru.
- Adaptasi membuat kita mampu hidup dan berkembang di tengah perubahan.
Oleh Hasan Aspahani
Ada ungkapan yang sering kita dengar ketika berbicara tentang perubahan: adapt or die—beradaptasi atau mati. Kalimatnya memang terdengar agak kejam. Seolah-olah hidup hanya menyediakan dua pilihan: berubah atau tersingkir. Tetapi kalau kita lepaskan dari kesan dramatisnya, ada sesuatu yang sangat masuk akal di dalamnya. Dunia memang tidak pernah diam. Teknologi berubah, kebiasaan berubah, pasar berubah, pekerjaan berubah, cara orang berkomunikasi berubah, bahkan cara kita memandang diri sendiri pun bisa berubah. Yang tidak berubah hanyalah kenyataan bahwa perubahan itu akan terus datang.
Karena itu, kemampuan beradaptasi sebenarnya bukan kemampuan tambahan. Ia bagian dari kemampuan dasar untuk hidup. Kita semua sudah melakukannya sejak kecil. Anak belajar berjalan karena tubuhnya berubah dan lingkungannya menuntut kemampuan baru. Kita belajar menggunakan telepon pintar karena cara berkomunikasi berubah. Kita belajar menggunakan aplikasi baru karena pekerjaan menuntutnya. Kita mengganti cara mencari informasi karena sumber informasi berubah. Hampir tanpa sadar, hidup kita adalah rangkaian adaptasi.
Tetapi ada sesuatu yang menarik. Adaptasi dan inovasi ternyata tidak mudah dipisahkan. Ketika lingkungan berubah, kita memang bisa menyesuaikan diri dengan apa yang sudah tersedia. Tetapi pada titik tertentu, penyesuaian saja tidak cukup. Kita perlu menemukan cara baru. Dan ketika kita menemukan cara baru yang berguna, di situlah inovasi mulai terjadi.
Maka mungkin kita bisa melihat hubungan ketiganya dengan cara yang sederhana: perubahan memerlukan adaptasi, adaptasi sering membutuhkan inovasi, dan inovasi membutuhkan pengetahuan.
Di sinilah riset menjadi penting.
Kita sering membayangkan riset sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari: laboratorium, jurnal ilmiah, peneliti dengan jas putih, angka-angka, dan istilah yang rumit. Padahal dalam pengertian yang paling sederhana, riset adalah usaha untuk mengetahui sesuatu dengan lebih baik sebelum mengambil keputusan. Kita mengamati, bertanya, mencoba, membandingkan, mencari bukti, lalu belajar dari hasilnya.
Seorang pedagang yang mencoba memahami mengapa pembelinya berkurang sedang melakukan bentuk pencarian pengetahuan. Seorang petani yang membandingkan dua cara menanam sedang belajar dari pengalaman. Seorang guru yang mencoba metode berbeda untuk mengetahui cara belajar muridnya sedang melakukan hal yang sama. Tentu riset ilmiah memiliki standar dan metode yang jauh lebih ketat. Tetapi semangat dasarnya serupa: jangan hanya menduga; cobalah memahami.
Dari sinilah kita bisa memahami sebuah gagasan sederhana: produk menjadi pengetahuan adalah riset. Setiap produk sebenarnya menyimpan pengetahuan. Sebuah sepeda listrik menyimpan pengetahuan tentang energi, material, mekanik, elektronik, desain, dan perilaku manusia. Sebuah aplikasi menyimpan pengetahuan tentang teknologi sekaligus tentang bagaimana manusia menggunakan teknologi. Bahkan sebuah warung makan menyimpan pengetahuan tentang rasa, harga, lokasi, kebiasaan konsumen, pelayanan, dan waktu.
Begitu sebuah produk digunakan, ia menghasilkan pengalaman. Pengalaman menghasilkan pertanyaan. Pertanyaan menghasilkan penelitian. Penelitian menghasilkan pengetahuan.
Tetapi pengetahuan tidak harus berhenti menjadi pengetahuan. Pengetahuan dapat bergerak ke arah sebaliknya. Ia dapat diterjemahkan menjadi sesuatu yang baru. Sebuah temuan dapat menjadi teknologi. Sebuah pengamatan dapat menjadi metode. Sebuah teori dapat mengubah cara kerja. Sebuah pemahaman tentang kebutuhan manusia dapat melahirkan desain baru.
Pengetahuan menjadi produk adalah inovasi. Karena itu, inovasi sebenarnya bukan sekadar membuat sesuatu yang baru. Ia adalah kemampuan mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang dapat bekerja di dunia nyata.
Ada perbedaan penting di sini. Sesuatu yang baru belum tentu inovatif. Kita bisa membuat sesuatu yang berbeda tanpa membuatnya lebih berguna. Sebaliknya, inovasi kadang justru tampak sederhana. Mengubah cara pelayanan, menyederhanakan proses, menemukan cara baru mengemas produk, atau membuat sesuatu lebih mudah digunakan dapat menjadi inovasi yang jauh lebih berarti daripada menciptakan benda yang kelihatan canggih tetapi tidak menyelesaikan masalah.
Inovasi, dengan demikian, selalu berhubungan dengan kegunaan. Dan di sinilah adaptasi bertemu dengan inovasi. Ketika keadaan berubah, kita menghadapi kebutuhan baru. Kita bisa mempertahankan cara lama dan berharap dunia kembali seperti semula. Kita bisa sekadar menyesuaikan diri dengan keadaan. Atau kita bisa bertanya lebih jauh: adakah cara yang lebih baik untuk menghadapi perubahan ini?
Pertanyaan terakhir itulah yang membuka pintu inovasi.
Bayangkan sebuah toko yang mulai kehilangan pembeli karena kebiasaan orang berbelanja berubah. Adaptasi paling sederhana mungkin memperpanjang jam buka. Tetapi pemilik toko bisa bertanya lebih jauh: bagaimana kalau pelanggan dapat memesan melalui telepon? Bagaimana kalau barang dikirim? Bagaimana kalau katalog dibuat digital? Bagaimana kalau pembayaran dibuat lebih mudah?
Begitu ia mulai mencari kemungkinan baru, adaptasi telah bergerak menuju inovasi. Hal yang sama terjadi dalam organisasi. Ketika teknologi baru datang, organisasi bisa membeli perangkat baru. Tetapi membeli teknologi belum tentu berinovasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang bisa kita lakukan sekarang yang sebelumnya tidak bisa kita lakukan?
Pertanyaan semacam itu mengubah cara kita melihat teknologi. Teknologi bukan tujuan. Ia adalah kemungkinan. Dan kemampuan melihat kemungkinan merupakan salah satu inti inovasi.
Karena itu, mungkin kita tidak perlu terlalu takut terhadap perubahan. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan untuk terus belajar. Orang yang mau belajar memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami perubahan sebelum perubahan itu menjadi krisis. Ia tidak selalu harus menjadi orang pertama yang mengetahui segala sesuatu. Ia hanya perlu memiliki rasa ingin tahu yang cukup untuk bertanya: apa yang berubah, mengapa berubah, dan apa yang bisa saya lakukan dengan perubahan itu?
Tiga pertanyaan sederhana itu sebenarnya sudah merupakan awal yang baik. Apa yang berubah? Pertanyaan ini membuat kita berhenti mengandalkan kebiasaan lama. Kita mulai melihat lingkungan dengan lebih jernih. Mengapa berubah? Pertanyaan ini membawa kita dari reaksi menuju pemahaman. Kita tidak sekadar mengikuti gejala, tetapi mencoba mencari penyebab.
Apa yang bisa saya lakukan dengan perubahan itu? Di sinilah pengetahuan mulai bergerak menjadi tindakan. Kita mencari kemungkinan baru. Kita mencoba. Kita gagal. Kita memperbaiki. Kita mencoba lagi. Dan itulah proses inovasi dalam bentuknya yang paling sederhana. Ada satu hal lagi yang sering dilupakan: adaptasi tidak selalu berarti mengikuti perubahan. Kadang adaptasi berarti menciptakan perubahan kita sendiri.
Ketika seseorang menemukan cara baru bekerja, ia bukan hanya menyesuaikan diri dengan dunia. Ia menciptakan lingkungan kerja baru. Ketika sebuah perusahaan menemukan cara baru melayani pelanggan, ia bukan hanya mengikuti kebiasaan konsumen. Ia mungkin justru mengubah kebiasaan konsumen. Ketika seorang seniman menemukan bahasa visual baru, ia bukan sekadar beradaptasi dengan zaman. Ia ikut membentuk cara zaman itu melihat dirinya sendiri.
Dengan demikian, manusia tidak hanya beradaptasi terhadap lingkungan. Manusia juga mengubah lingkungan melalui inovasi, lalu harus beradaptasi kembali terhadap dunia yang telah ia ubah.
Di situlah siklusnya menjadi menarik: Perubahan → Adaptasi → Inovasi → Dunia Baru → Adaptasi Baru. Dan di sepanjang siklus itu, pengetahuan terus bergerak. Kita belajar dari dunia. Pengetahuan yang kita dapatkan melahirkan tindakan. Tindakan melahirkan produk atau cara baru. Produk itu digunakan manusia. Penggunaan menghasilkan pengalaman. Pengalaman melahirkan pertanyaan baru. Pertanyaan membawa kita kembali kepada pengetahuan.
Jadi, mungkin hubungan riset dan inovasi dapat dirumuskan dengan sangat sederhana: Riset membuat kita memahami dunia. Inovasi membuat kita mampu mengubahnya. Adaptasi membuat kita mampu hidup di tengah perubahan yang kita alami dan kita ciptakan sendiri.
Kalau begitu, adapt or die tidak perlu kita pahami sebagai ancaman. Ia bisa kita baca sebagai pengingat yang sederhana: jangan menunggu keadaan memaksa kita berubah. Belajarlah sebelum terdesak. Amatilah sebelum mengambil keputusan. Cobalah sebelum merasa pasti. Dengarkan pengalaman sebelum mengulang kesalahan. Dan ketika menemukan cara yang lebih baik, jangan takut mengubah cara lama.
Sebab pada akhirnya, kemampuan beradaptasi bukan soal selalu mengikuti yang baru. Bukan pula soal mengejar setiap tren. Adaptasi adalah kemampuan membedakan apa yang harus dipertahankan, apa yang harus ditinggalkan, dan apa yang harus diciptakan.
Dan untuk melakukan itu, kita membutuhkan pengetahuan. Pengetahuan membutuhkan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu melahirkan riset. Riset membuka kemungkinan. Kemungkinan melahirkan inovasi. Inovasi membantu kita beradaptasi. Lalu perubahan datang lagi. Dan kita belajar lagi. Mungkin begitulah cara manusia bertahan: bukan dengan menjadi tidak berubah, melainkan dengan terus belajar bagaimana berubah. []
