Cerita Pendek Ray Bradbury (1920 – 2012) – The Last Night of the World

Ray Bradbury (1920–2012) adalah pengarang Amerika yang dikenal melalui karya-karya fiksi ilmiah dan fantasi, antara lain Fahrenheit 451 dan kumpulan cerpen The Martian Chronicles. Dalam The Last Night of the World, Bradbury membayangkan sepasang suami istri yang mengetahui bahwa dunia akan berakhir malam itu. Alih-alih menghadirkan kepanikan atau kehancuran yang spektakuler, ia membawa kita menyaksikan percakapan dan rutinitas sederhana sebuah keluarga: minum kopi, mencuci piring, menidurkan anak-anak, hingga mengucapkan selamat malam. Melalui suasana yang tenang dan akrab, Bradbury mengajak kita merenungkan bagaimana manusia menghadapi kematian, menerima hal-hal yang tak terelakkan, dan menemukan makna dalam kehidupan sehari-hari.

The Last Night of the World / Malam Terakhir di Dunia

Oleh Ray Bradbury

“APA yang akan kaulakukan kalau kau tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir di dunia?”

“Apa yang akan kulakukan? Maksudmu sungguh-sungguh?”

“Ya, sungguh-sungguh.”

“Aku tidak tahu. Aku belum pernah memikirkannya.”

Ia menuangkan kopi. Di latar belakang, kedua anak perempuan mereka sedang bermain balok-balok di atas permadani ruang duduk, diterangi lampu-lampu minyak bertudung hijau. Aroma kopi yang baru diseduh, lembut dan segar, memenuhi udara malam.

“Kalau begitu, sebaiknya kau mulai memikirkannya,” katanya.

“Kau tidak serius, kan?”

Ia mengangguk.

“Perang?”

Ia menggeleng.

“Bukan bom hidrogen atau bom atom?”

“Bukan.”

“Atau perang kuman?”

“Bukan semua itu,” katanya sambil mengaduk kopinya perlahan. “Anggap saja, ibarat buku sudah selesai dibaca.”

“Nggak ngerti aku….”

“Ya, aku juga sebenarnya tidak mengerti. Ini hanya semacam perasaan. Kadang-kadang perasaan itu membuatku takut; kadang-kadang aku sama sekali tidak takut, malah merasa damai.” Ia melirik ke arah kedua anak perempuan mereka. Rambut pirang mereka berkilau diterpa cahaya lampu. “Aku belum pernah menceritakannya kepadamu. Ini pertama kali terjadi kira-kira empat malam yang lalu.”

“Apa?”

“Mimpi. Aku mimpi bahwa semuanya akan berakhir, dan ada suara yang mengatakan bahwa memang begitu. Bukan suara yang bisa kuingat seperti apa, tetapi bagaimanapun juga, sebuah suara. Suara itu mengatakan bahwa segala sesuatu di Bumi akan berhenti sampai di sini. Keesokan harinya aku tidak terlalu memikirkannya. Tetapi kemudian aku pergi ke kantor dan melihat Stan Willis sedang memandang ke luar jendela pada tengah hari. Aku bertanya, ‘Sedang memikirkan apa, Stan? Coba cerita.’ Ia menjawab, ‘Aku bermimpi tadi malam.’ Bahkan sebelum ia menceritakan mimpinya, aku sudah tahu apa isi mimpi itu. Aku bisa saja memberitahunya, tetapi ia tetap menceritakannya dan aku mendengarkan.”

“Mimpinya sama?”

“Sama. Aku bilang kepada Stan bahwa aku juga memimpikannya. Ia tidak tampak terkejut. Malah, ia kelihatan lega. Lalu kami mulai berjalan-jalan mengitari kantor, sekadar iseng. Tidak direncanakan. Kami tidak berkata, ‘Ayo kita berkeliling.’ Kami begitu saja berjalan sendiri-sendiri, dan ke mana pun kami pergi, kami melihat orang-orang sedang memandangi meja mereka, tangan mereka, atau ke luar jendela. Aku berbicara dengan beberapa orang. Stan juga.”

“Dan mereka semua bermimpi?”

“Semuanya. Mimpi yang sama, tanpa perbedaan sedikit pun.”

“Kau percaya itu?”

“Ya. Aku belum pernah seyakin ini.”

“Dan kapan semuanya akan berhenti? Maksudku, dunia ini.”

“Suatu saat malam ini, menurut waktu kita. Lalu, seiring malam bergerak mengelilingi dunia, di tempat-tempat lain semuanya juga akan berakhir. Seluruh prosesnya akan memakan waktu dua puluh empat jam.”

Mereka duduk beberapa lama tanpa menyentuh kopi. Kemudian perlahan-lahan mereka mengangkat cangkir dan menyesapnya, sambil saling berpandangan.

“Apakah kita pantas menerima ini?” katanya.

“Ini bukan soal pantas atau tidak. Hanya saja, segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aku perhatikan kau bahkan tidak membantah soal ini. Kenapa?”

“Kurasa aku punya alasan,” katanya.

“Alasan yang sama dengan semua orang di kantor?”

Ia mengangguk perlahan. “Aku tidak ingin mengatakannya. Itu terjadi tadi malam. Dan hari ini para perempuan di sekitar rumah kita membicarakannya di antara mereka sendiri. Mereka juga bermimpi. Kupikir itu hanya kebetulan.”

Ia mengambil koran sore. “Tidak ada berita apa-apa tentang ini di koran.”

“Semua orang sudah tahu, jadi tidak perlu diberitakan.”

Ia menyandarkan tubuh di kursi dan mengamatinya. “Kau takut?”

“Tidak. Dulu kupikir aku akan takut, tetapi ternyata tidak.”

“Ke mana perginya naluri mempertahankan diri yang sering mereka bicarakan itu?”

“Aku tidak tahu. Kita tidak terlalu gelisah kalau merasa bahwa sesuatu itu masuk akal. Dan ini masuk akal. Dengan cara kita menjalani hidup, rasanya memang tidak mungkin terjadi hal lain.”

“Kita tidak terlalu buruk, bukan?”

“Tidak, tetapi kita juga tidak luar biasa baik. Kurasa justru itu masalahnya. Kita tidak menjadi apa-apa selain diri kita sendiri, sementara sebagian besar dunia sibuk menjadi macam-macam hal yang mengerikan.”

Kedua anak perempuan itu tertawa di ruang duduk.

“Dulu aku selalu membayangkan bahwa pada saat seperti ini orang-orang akan berteriak-teriak di jalan.”

“Kurasa tidak. Kita tidak berteriak-teriak menghadapi sesuatu yang sungguh-sungguh nyata.”

“Tahu tidak, tak ada yang akan kurindukan selain dirimu dan anak-anak. Aku tidak pernah menyukai kota, pekerjaanku, atau apa pun selain kalian bertiga. Tak ada yang akan kurindukan, kecuali mungkin perubahan cuaca, segelas air es ketika hari panas, dan mungkin tidur. Bagaimana kita bisa duduk di sini dan berbicara seperti ini?”

“Karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.”

“Tentu saja. Kalau ada sesuatu yang bisa kita lakukan, kita pasti sedang melakukannya. Kurasa inilah pertama kalinya dalam sejarah dunia ketika semua orang tahu persis apa yang akan mereka lakukan malam ini.”

“Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan orang-orang lain sekarang, malam ini, selama beberapa jam ke depan.”

“Pergi menonton pertunjukan, mendengarkan radio, menonton televisi, bermain kartu, menidurkan anak-anak, lalu tidur sendiri, seperti biasa.”

“Dalam satu hal, itu sesuatu yang patut kita banggakan… seperti biasa.”

Mereka terdiam sejenak. Kemudian ia menuangkan secangkir kopi lagi untuk dirinya sendiri. “Menurutmu, kenapa harus malam ini?”

“Karena.”

“Kenapa bukan malam lain, seabad yang lalu, atau lima abad, atau sepuluh abad yang lalu?”

“Mungkin karena sebelumnya dalam sejarah belum pernah ada tanggal 19 Oktober 1969. Sekarang tanggal itu tiba, dan itulah akhirnya. Karena tanggal ini berarti lebih daripada tanggal mana pun sebelumnya; karena inilah tahun ketika keadaan di seluruh dunia menjadi seperti sekarang, dan itulah sebabnya semuanya berakhir.”

“Malam ini ada pesawat-pesawat pengebom yang menjalankan jadwal penerbangan mereka melintasi lautan, pergi dan pulang, yang tak akan pernah melihat daratan lagi.”

“Itu salah satu alasannya.”

“Baiklah,” katanya sambil bangkit berdiri, “jadi, apa yang akan kita lakukan? Mencuci piring?”

Mereka mencuci piring dan menyusunnya kembali dengan kerapian yang luar biasa. Pukul setengah sembilan, kedua anak perempuan itu ditidurkan, dicium selamat malam, lalu lampu-lampu kecil di samping tempat tidur mereka dinyalakan. Pintu kamar dibiarkan terbuka sedikit saja.

“Aku jadi ingin tahu,” kata sang suami ketika keluar dari kamar anak-anak. Ia menoleh ke belakang dan berdiri sejenak sambil memegang pipa rokoknya.

“Apa?”

“Apakah pintunya nanti akan tertutup rapat, atau dibiarkan sedikit terbuka supaya ada cahaya yang masuk.”

“Aku ingin tahu apakah anak-anak tahu.”

“Tidak, tentu saja tidak.”

Mereka duduk membaca koran, berbincang-bincang, dan mendengarkan musik dari radio. Kemudian mereka duduk bersama di dekat perapian, memandangi bara arang, sementara jam berdentang menunjukkan pukul setengah sebelas, pukul sebelas, lalu pukul setengah dua belas. Mereka memikirkan semua orang lain di dunia yang telah melewatkan malam mereka, masing-masing dengan caranya sendiri.

“Baiklah,” katanya akhirnya.

Ia mencium istrinya lama sekali.

“Setidaknya, kita telah menjadi orang-orang yang baik bagi satu sama lain.”

“Apakah kau ingin menangis?” tanyanya.

“Kurasa tidak.”

Mereka berjalan menyusuri rumah, mematikan lampu-lampu, lalu masuk ke kamar tidur. Dalam gelap malam yang sejuk, mereka menanggalkan pakaian dan menyibakkan selimut.

“Seprai ini bersih sekali, nyaman sekali.”

“Aku lelah.”

“Kita semua lelah.”

Mereka naik ke tempat tidur dan berbaring.

“Tunggu sebentar,” kata istrinya.

Ia mendengar istrinya bangkit dari tempat tidur dan pergi ke dapur. Sesaat kemudian, ia kembali.

“Aku tadi membiarkan air keran di bak cuci tetap mengalir,” katanya.

Entah mengapa, hal itu terasa begitu lucu sehingga ia tertawa. Istrinya ikut tertawa, tahu persis apa yang telah dilakukannya hingga hal itu terasa lucu. Akhirnya mereka berhenti tertawa dan berbaring di tempat tidur yang sejuk, tangan saling menggenggam, kepala berdekatan.

“Selamat malam,” katanya beberapa saat kemudian.

“Selamat malam,” kata istrinya.[]

Sumber: Esquire, Februari 1951, terbit ulang Juni 2012 | Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *