Dan bahasa, seperti jejak di pasir, mungkin saja suatu hari terhapus. Tetapi selama jejak itu masih terbaca, selama masih ada seseorang yang berhenti dan memperhatikannya, penyair itu belum sepenuhnya selesai.
Oleh Hasan Aspahani
Ada kesadaran yang menggugah yang menjadi dasar dari sajak “Walau” karya Sutardji Calzoum Bachri, bertahun 1979: sebesar apa pun manusia, ia tetap memiliki batas. Kesadaran itu terutama diarahkan kepada penyair. Penyair boleh menjadi besar, boleh menguasai kata, menciptakan bahasa yang belum pernah terdengar, tetapi kebesaran itu tidak akan pernah membuatnya mencapai sesuatu yang tak terbatas.
walau penyair besar
takkan sampai sebatas allah
Dua baris pembuka ini segera menempatkan penyair dalam hubungan yang ganjil sekaligus menarik dengan Tuhan. Sutardji tidak sedang mengangkat penyair menjadi sosok yang hampir menyamai Tuhan. Justru sebaliknya. Ia seperti sedang mengingatkan dirinya sendiri bahwa ada batas yang tidak mungkin dilampaui oleh manusia. Kata “sebatas” terasa penting di sini. Penyair mempunyai batas, bahasa mempunyai batas, kehidupan mempunyai batas; sementara Allah, dalam horizon sajak ini, berada di luar segala batas itu.
Kesadaran tersebut kemudian bergerak ke dalam pengalaman yang lebih personal:
dulu pernah kuminta tuhan
dalam diri
sekarang tak
Tiga baris ini seperti sebuah catatan dari perjalanan batin. Dulu ia pernah meminta Tuhan berada dalam dirinya. Sekarang tidak lagi. Sutardji tidak memberikan penjelasan mengenai perubahan itu. Tidak ada argumentasi, tidak ada pengakuan panjang, tidak ada penjelasan teologis. Hanya tiga patahan kalimat yang pendek. Justru karena itu, ruang tafsirnya menjadi luas. Kita tidak tahu apakah “sekarang tak” merupakan penolakan, perubahan keyakinan, kekecewaan, atau mungkin kesadaran bahwa Tuhan tidak bisa diminta untuk sekadar “berada dalam diri” manusia.
Sajak kemudian bergerak menuju pertanyaan yang paling pasti sekaligus paling tak terhindarkan dalam hidup manusia: kematian.
kalau mati
mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
Ada kesederhanaan yang hampir telanjang dalam gambaran ini. Batu tamat. Pasir tamat. Tubuh berakhir. Tidak ada romantisasi terhadap kematian. Manusia pada akhirnya menjadi sesuatu yang selesai. Tetapi tepat setelah kemungkinan itu ditegaskan, sajak melakukan gerakan yang sangat khas:
jiwa membumbung dalam baris sajak
Di sinilah seluruh sajak seperti mendapatkan pusat gravitasinya. Tubuh mungkin tamat, tetapi sesuatu dari manusia masih dapat bergerak melalui puisi. Yang membumbung bukan tubuh penyair, melainkan jiwanya dalam baris sajak.
Tentu saja ini bukan pernyataan bahwa penyair memperoleh keabadian seperti Tuhan. Dua baris pertama justru sudah menyangkal kemungkinan tersebut. Yang ditawarkan puisi adalah sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih manusiawi: jejak.
Manusia mati, tetapi pengalaman manusia dapat diubah menjadi bahasa. Ingatan, kerinduan, luka, kegembiraan, kecemasan, bahkan kegagalannya dapat masuk ke dalam baris-baris sajak. Setelah penyair tidak ada, kata-kata itu masih mungkin dibaca. Dan ketika dibaca, sesuatu dari pengalaman penyair kembali bergerak di dalam kesadaran orang lain.
Karena itu, bagian berikutnya terasa seperti proses penciptaan jejak tersebut:
tujuh puncak membilang bilang
nyeri hari mengucap ucap
di butir pasir kutulis rindu rindu
Bahasa di sini tidak berjalan seperti bahasa sehari-hari. Kata-kata digandakan: bilang bilang, mengucap ucap, rindu rindu. Pengulangan membuat bahasa seperti bergerak dalam lingkaran. Ia terus mengatakan, tetapi seolah-olah belum pernah selesai mengatakan. Ada sesuatu yang ingin dicapai oleh bahasa, tetapi selalu ada jarak antara apa yang dirasakan dan apa yang dapat dikatakan.
Dan kemudian muncul butir pasir.
Pasir sebelumnya hadir sebagai sesuatu yang tamat: “bagai pasir tamat.” Kini pasir menjadi tempat menulis:
di butir pasir kutulis rindu rindu
Perubahan fungsi pasir ini sangat menarik. Pasir adalah lambang kefanaan, tetapi sekaligus menjadi tempat meninggalkan tanda. Seseorang dapat menulis di pasir, tetapi tulisan itu tidak akan bertahan lama. Angin dapat menghapusnya. Air dapat menyapunya. Waktu tidak perlu bekerja keras untuk menghilangkannya.
Namun manusia tetap menulis.
Di situlah mungkin letak sikap eksistensial sajak ini. Kita tahu bahwa jejak kita tidak kekal, tetapi kita tetap ingin meninggalkan jejak. Kita tahu kata-kata kita tidak akan menjelaskan seluruh dunia, tetapi kita tetap berkata-kata. Kita tahu hidup akan berakhir, tetapi kita tetap mencintai, mengingat, merindukan, dan menuliskannya.
Karena itu “rindu rindu” bukan hanya pengulangan kata. Ia seperti usaha manusia memperpanjang sesuatu yang sebenarnya tidak bisa diperpanjang. Rindu ingin terus ada, maka ia dituliskan. Perasaan ingin bertahan, maka ia masuk ke dalam bahasa.
Pada akhirnya sajak kembali kepada persoalan batas:
walau huruf habislah sudah
alfibataku belum sebatas allah
Jika pada awal sajak yang memiliki batas adalah penyair, pada akhir sajak yang dibatasi adalah huruf dan alfabet. Ini seperti sebuah lingkaran yang ditutup dengan sangat rapi. Penyair terbatas. Bahasa juga terbatas. Seluruh alfabet pun tidak akan pernah cukup untuk mencapai Allah.
Ada sesuatu yang berada di luar kemampuan bahasa manusia. Tetapi justru di situlah paradoks seorang penyair: ia mengetahui keterbatasan bahasa, tetapi tetap menulis. Ia mengetahui bahwa huruf tidak akan pernah sampai kepada yang tak terbatas, tetapi ia terus menyusun huruf. Ia mengetahui bahwa tubuh akan tamat, tetapi ia tetap menciptakan baris. Ia mengetahui tulisan di pasir dapat hilang, tetapi ia tetap menulis rindu rindu.
Maka puisi dalam “Walau” bukanlah jalan untuk membuat manusia menjadi abadi. Puisi adalah cara manusia yang fana untuk meninggalkan tanda di dalam kefanaannya.
Tuhan tidak membutuhkan alfabet untuk ada. Manusia membutuhkan alfabet untuk mengatakan bahwa ia pernah ada.
Di antara dua kenyataan itulah penyair berdiri: sadar akan batas dirinya, tetapi tidak menyerah kepada batas itu. Ia tidak dapat mencapai Allah, tetapi dapat terus bergerak menuju-Nya melalui pertanyaan, kerinduan, dan bahasa. Ia tidak dapat mengalahkan kematian, tetapi dapat membuat pengalaman hidupnya terus bergaung setelah kematiannya.
Barangkali karena itu baris “jiwa membumbung dalam baris sajak” terasa begitu penting. Yang membumbung bukan nama besar penyair, bukan tubuhnya, bukan pula klaim keabadiannya. Yang membumbung adalah sesuatu yang telah ia titipkan kepada bahasa.
Dan bahasa, seperti jejak di pasir, mungkin saja suatu hari terhapus. Tetapi selama jejak itu masih terbaca, selama masih ada seseorang yang berhenti dan memperhatikannya, penyair itu belum sepenuhnya selesai.
Tubuhnya tamat. Hurufnya mungkin habis. Tetapi jiwanya masih bergerak dari satu baris kepada pembaca berikutnya.
Itulah barangkali paradoks paling indah dari “Walau”: manusia tidak menjadi tak terbatas dengan menaklukkan batas, melainkan dengan meninggalkan jejak di dalam batas yang ia tahu akan segera berakhir. []
