Metafora, Tanah Pijakan, dan Mengapa Puisi Bisa Terasa Rumit

Metafora yang baik bukan terutama yang membuat kita mengagumi kecerdikan penyair dalam menghubungkan dua hal. Ia membuat kita menyadari bahwa dua hal yang selama ini kita anggap terpisah ternyata berada dalam satu pengalaman.

Oleh Hasan Aspahani

BAGI  Susanne Langer, seni bukan sekadar cara menyampaikan sesuatu yang sudah kita ketahui. Seni menciptakan bentuk simbolik bagi pengalaman manusia — terutama pengalaman yang sulit ditangkap oleh bahasa diskursif. Sebuah karya seni tidak selalu mengatakan apa yang kita rasakan; ia memberi kita bentuk untuk mengalami kembali perasaan itu.

Dari sini kita bisa memahami mengapa metafora mempunyai kedudukan yang istimewa dalam puisi. Metafora bukan hanya penggantian sebuah kata dengan kata lain. Ia dapat menjadi cara untuk memberi bentuk kepada pengalaman yang sebelumnya belum menemukan bentuk bahasanya.

Dan di sinilah gagasan Susanne Langer bertemu dengan gagasan George Lakoff dan Mark Johnson. Jika Langer membantu kita memahami seni sebagai penciptaan bentuk simbolik bagi pengalaman, Lakoff dan Johnson mengingatkan kita bahwa metafora bukan sekadar ornamen bahasa. Kita berpikir melalui metafora, bahkan ketika kita tidak menyadarinya.

Kita hidup di tengah metafora, kata George Lakoff dan Mark Johnson. Bukan hanya dalam puisi, bahkan dalam percakapan sehari-hari kita berpikir dan berbicara melalui metafora tanpa menyadarinya.

Kita mengatakan jatuh cinta, patah hati, jalan hidup, kehilangan arah, membuang waktu, menyerang argumen. Kita tidak merasa sedang menggunakan bahasa kiasan. Metafora-metafora itu sudah begitu menyatu dengan cara kita memahami dunia sehingga terasa seperti bahasa biasa.

Justru di situlah menariknya persoalan metafora dalam puisi. Kalau kita memang hidup dalam metafora, mengapa ketika metafora tampil dalam puisi banyak orang merasa puisi menjadi rumit? Mengapa kalimat yang secara harfiah tidak masuk akal dalam kehidupan sehari-hari bisa kita terima dengan mudah, sementara metafora dalam puisi kadang membuat kita berhenti dan bertanya: Ini maksudnya apa?

Barangkali persoalannya bukan pada metafora itu sendiri, melainkan pada seberapa terlihat metafora itu di dalam bahasa. Metafora yang kita gunakan sehari-hari biasanya sudah kehilangan sifat asingnya. Ketika kita mengatakan “jalan hidup”, kita tidak membayangkan benar-benar ada sebuah jalan yang sedang kita lewati. Tetapi kita segera memahami pengalaman yang dimaksud: hidup memiliki arah, persimpangan, pilihan, tujuan, bahkan kemungkinan tersesat.

Metafora itu bekerja diam-diam. Ia seperti engsel pintu. Kita tidak memperhatikannya, tetapi tanpanya pintu tidak akan bergerak. Puisi kadang melakukan sesuatu yang berbeda. Ia membuat engsel itu terlihat. Ia mempertemukan dua hal yang biasanya tidak kita hubungkan, lalu meminta kita memperhatikan hubungan itu.

Misalnya, sejak kau pergi, rumah ini terlalu besar. Kalimat itu sederhana. Rumahnya tentu tidak benar-benar berubah ukuran. Tetapi kita tidak kesulitan memahaminya. Ada pengalaman kehilangan yang menjadi pijakannya. Ketidakhadiran seseorang membuat ruang yang sama terasa berbeda. Metafora itu tidak perlu diterjemahkan. Kita mengalaminya.

Bandingkan dengan metafora yang sangat abstrak, kepergianmu adalah geometri kesunyian yang mengubah topologi ruang. Secara konseptual kalimat itu mungkin menarik. Tetapi pembaca harus bekerja lebih keras. Apa yang harus dibayangkan? Apa yang harus dirasakan? Di mana pengalaman yang bisa menjadi pintu masuknya?

Di sinilah saya kira ada garis demarkasi yang menarik, meskipun garis itu tidak pernah benar-benar tegas. Ada metafora yang membuka pengalaman, dan ada metafora yang justru menggantikan pengalaman. Metafora yang pertama membawa kita dari satu pengalaman menuju pengalaman lain. Metafora yang kedua membuat kita sibuk memecahkan hubungan antara kata-kata.

Tentu saja, puisi tidak harus mudah. Metafora yang baik boleh asing, mengejutkan, bahkan membingungkan untuk sementara. Justru salah satu kenikmatan membaca puisi adalah ketika kita menemukan hubungan yang sebelumnya tidak pernah kita lihat.

Persoalannya adalah: apakah kebingungan itu menghasilkan penemuan? Ada puisi yang sulit tetapi setelah kita tinggal beberapa saat di dalamnya, sesuatu terbuka. Kita mungkin tidak bisa menjelaskan metaforanya secara persis, tetapi kita merasa telah menemukan sebuah pengalaman yang selama ini tidak punya nama.

Ada pula puisi yang sulit dan setelah kita membongkar semua kata-katanya, tidak ada apa-apa yang ditemukan selain kecerdikan penyair. Maka, tidak semua ketidakjelasan adalah kedalaman. Tetapi sebaliknya, tidak semua keterbacaan adalah kesederhanaan.

Pijakan menjadi penting di sini. Pijakan tidak harus berupa penjelasan. Penyair tidak perlu mengatakan kepada pembaca apa arti metaforanya. Pijakan bisa datang dari benda, tubuh, ruang, tindakan, ingatan, emosi, atau situasi yang konkret.

Sebuah metafora bisa membawa kita sangat jauh, asal ada sesuatu yang tetap menghubungkannya dengan pengalaman manusia. Barangkali inilah yang membuat metafora tertentu terasa hidup. Ia tidak datang dari ruang kosong. Ia tumbuh dari sesuatu yang pernah disentuh, dilihat, didengar, dirasakan, atau dialami.

Karena itu saya tertarik membedakan dua arah penciptaan metafora. Yang pertama: dari pengalaman menjadi  penemuan metafora. Penyair mengalami sesuatu yang sulit diucapkan, lalu menemukan hubungan bahasa yang membuat pengalaman itu menjadi terlihat.

Yang kedua: dari metafora menjadi pencarian pengalaman untuk ditempeli. Penyair menemukan hubungan kata yang cerdas, lalu mencari-cari pengalaman yang bisa dimasukkan ke dalamnya. Keduanya bisa menghasilkan puisi. Tetapi yang kedua lebih mudah jatuh menjadi puisi yang terasa “pintar” daripada terasa hidup.

Kita mungkin bisa melakukan sebuah eksperimen sederhana terhadap sebuah puisi. Cabut metaforanya. Apa yang tersisa? Apakah masih ada seseorang yang sedang kehilangan? Ada sebuah kamar? Sebuah pagi? Tubuh yang menua? Seorang anak yang menunggu? Bau hujan? Percakapan yang tidak selesai? Sebuah pengalaman yang membuat kita merasa, “Ya, saya tahu sesuatu seperti ini”?

Kalau masih ada, mungkin metaforanya memang bekerja sebagai alat. Ia membuat pengalaman itu lebih tajam, lebih luas, atau lebih dalam. Tetapi jika seluruh puisi runtuh begitu metaforanya dicabut, mungkin yang selama ini kita nikmati bukan pengalaman yang menemukan bentuk, melainkan bentuk yang sedang mencari pengalaman.

Di sinilah gagasan Lakoff menjadi menarik bagi puisi. Jika manusia memang berpikir melalui metafora, maka penyair tidak harus terus-menerus menciptakan metafora yang semakin jauh dan semakin mengejutkan. Kadang pekerjaan penyair justru adalah menemukan kembali metafora yang telah bersembunyi di dalam kehidupan sehari-hari.

Kita sudah mengatakan patah hati ribuan kali. Tetapi seorang penyair mungkin membuat kita merasakan kembali apa arti “patah” dalam hati. Kita sudah mengatakan jalan hidup. Tetapi sebuah puisi mungkin membuat kita tiba-tiba melihat hidup sebagai jalan—dengan tikungan, debu, persimpangan, dan jalan yang tidak jadi kita tempuh.

Metafora puitik yang kuat tidak selalu membuat kita berkata, “Oh, ini maksudnya X.” Kadang ia menghasilkan sesuatu yang lebih menarik: “Saya pernah merasakan ini, tetapi belum pernah punya kata untuk mengatakannya.”

Barangkali itu salah satu ukuran sederhana bagi metafora dalam puisi. Metafora yang baik bukan terutama yang membuat kita mengagumi kecerdikan penyair dalam menghubungkan dua hal. Ia membuat kita menyadari bahwa dua hal yang selama ini kita anggap terpisah ternyata berada dalam satu pengalaman.

Masalah metafora dalam puisi bukan apakah ia mudah dipahami, melainkan apakah ia berhasil memberi bentuk kepada pengalaman yang hendak dihadirkannya. Puisi, dengan demikian, tidak harus membuat pembaca memahami metaforanya. Ia hanya perlu memberi pembaca cukup tanah untuk berpijak ketika metafora itu membawanya pergi. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *