Mochtar Lubis tentang Mengarang


“ORANG hanya mengarang, jika ada sesuatu di dalam jiwanya yang mendesak-desak, memaksanya mengambil pena, potlot, atau mesin ketik, dan kertas dan menulis.

“Saya ulangiwartawan jihad, jika ada sesuatu di dalam jiwanya yang mendesak-desak! Jika orang hendak mengarang karena hendak ikut-ikutan saja, karena ingin meniru, karena ingin terkenal dan termashur, maka orang yang demikian telah pastilah dari semula ia tidak akan berhasil menjadi pengarang.

“Seorang pengarang itu adalah seorang seniman. Sebagai juga pelukis, jika hendak menjadi pelukis yang besar, haruslah pertama-tama menguasai sepenuh-penuhnya teknik melukis, seperti anatomi, cat-cat, dan sebagainya, maka tiap-tiap pengarang, tidak boleh tidak, haruslah sebaik-baiknya mempelajari bahasa yang dipakainya untuk mengarang. Jika pengarang tidak menguasai Bahasa, maka janganlah mengharap pengarang akan bisa mengarang.

“Jika pengarang tcatatan subversif mochtar lubiselah menguasai bahasa sepenuh-penuhnya, barulah pengarang bisa mengadakan eksperimen-eksperimen sendiri dengan susunan bahasa, pemakaian kata-kata dan sebagainya.

“Jika orang telah menguasai kedua ini, hasrat mengarang dan penguasaan bahasa, maka tinggallah lagi bekerja.

***

“Apakah sebuah cerita karangan bisa ditulis dari bahan yang sepenuhnya khayalan belaka?”

“Mungkin bisa.

“Imajinasi atau khayalan diperlukan untuk menyusun sebuah cerita. Saya sendiri terus-terang mengakui bahwa saya tidak dapat dan tidak sanggup menulis dari khayal atau fantasi belaka. Tiap cerita atau roman yang telah saya karang ada dasar-dasarnya dalam penghidupan yang sebenarnya, dan cerita-cerita itu dapat saya karang, karena saya pernah terbentur langsung dengan segi-segi dalam cerita itu, atau pernah melihatnya sebagai seorang penonton yang tidak ikut terharimaulibat di dalamnya, atau saya mendengar cerita itu dari apa yang telah terjadi.

“Dan semua itu menimbulkan keharuan dalam diri saya. Hal ini tidak berarti, bahwa setelah mengalami, melihat, atau mendengar suatu itu, maka saya terus duduk di meja dan mengarang cerita tentangnya.

***

“Dari mana pengarang mendapatkan bahan untuk cerita yang dia karang?”

“Dari mana saja. Ada pengarang yang pengarang yang menggali bahan inspirasi dari pengalaman dirinya sendiri. Ada pengarang yang mendasarkan ceritanya pada kejadian-kejadian yang actual, dari berita-berita yang di abaca, dan mengubahnya menTidak Ada Esok - Jual Buku Onlinejadi karangan kreasinya.

“Akan tetapi darimana pun bahan yang dioleh oleh penyair itu berasal, maka selalulah yang menjadi syarat yang terutama bagi seorang pengarang, supaya dia menulis dengan jujur. Pengarang harus mempunya keyakinan, bahwa dia dapat meyakinkan pembacanya dengan apa yang ditulisnya.

“Janganlah pengarang menulis tentang penghidupan yang tidak dikenalnya.

“Sebelum mulai mengarang, mestilah seorang pengarang sendiri mulai hidup. Kenallah penghidupan, dan kenallah manusia!”

| Dipetik dari buku ‘Teknik Mengarang”, Penerbit Kurnia Esa, Jakarta, 1981.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *