Pokrol Bambu, Bambu Muda, dan Bung Jokowi


ADA banyak kisah yang melatarbelakangi lahirnya kata “Bung”. Apapun ceritanya, yang pasti adalah presiden pertama kita Sukarno-lah yang memopulerkan sebutan itu. Di masa perjuangan, ketika revolusi menuju Indonesia merdeka digelorakan panggilan “Bung” antara sesama tokoh kala itu membangun keakraban, semangat keseteraan, senasib-sepenanggungan.

Chairil Anwar yang mengabadikan sebutan itu dalam sajaknya “Persetujuan dengan Bung Karno” (1948) – Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji; dan sajak “Krawang-Bekasi (1948) – Menjaga Bung Karno, Menjaga Bung Hatta, Menjaga Bung Sjahrir. Sukarno sendiri dengan bangga menjadikan kata itu dalam buku otobiografi resminya.

Asal usul panggilan Bung juga bisa dilacak dari Bengkulu, tempat di mana Sukarno diasingkan oleh penguasa Hindia Belanda. Di daerah itu kata “Bung” berarti “abang”. Umumnya, digunakan untuk memanggil abang sulung. Saudara lelaki lain yang lebih muda di sebut Donga atau Uda. Kata “bung” juga digunakan oleh istri untuk memanggil suaminya, terlebih si istri tidak memiliki abang laki-laki kandung. Panggilan “bung” terkenal ketika Fatmawati menikah dengan Sukarno. Bu Fat – dia adalah putri sulung – memanggil Sukarno dengan sapaan “Bung Karno”.

Betulkah? Mungkin hanya kebetulan. Soalnya, dalam buku “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat” panggilan “bung” itu sudah ada sejak Sukarno di Bandung, jauh sebelum ia bertemu dan menikah dengan Fatmawati. Ketika kembali ke Batavia dari Bengkulu, lewat Padang, seorang tokoh Tionghoa setempat juga memanggil Sukarno dengan “bung”. Saat itu, Sukarno masih bersama Inggit.

Ada juga yang menyebutkan bahwa kata “Bung” itu diambil dari kata suku kata kedua pada kata “rebung”, tunas atau anakan bambu. Dengan filosofi tunas bambu itu kata “bung” merujuk pada semangat atau generasi baru, orang-orang muda, yang – seperti rebung yang putih – masih bersih dan idealis pemikiran dan jiwanya, jauh dari pemikiran-pemikiran kotor.

Tumbuhan bambu memang banyak menjadi dasar dari pembentukan istilah dan perumpamaan dalam Bahasa Indonesia. Misalnya, “politik belah bambu”, yang berarti bahwa sesuatu itu mudah dipisahkan jika dimulai dari atas atau dari bawah. Jika sudah dapat memecah salah satu sisi dari sesuatu kelompok, seperti bambu, maka selebihnya tinggal menarik dengan sedikit upaya, hingga ke ujung yang lain akan mudah sekali terbelah.

Istilah lain misalnya “pokrol bambu”, yang dipakai untuk menyebut orang yang berdebat, atau perdebatan yang tak jelas arahnya. Istilah ini muncul di surat kabar berbahasa Belanda tahun 1913 yang mengeritik pengacara yang asal bicara. Istilah lengkapnya adalah “pokrol bambu apus”. Kata “apus” dari Bahasa Jawa berarti bohong. Pokrol adalah ucapan yang disesuaikan dengan lidah Indonesia untuk menyebut kata dari Bahasa Belanda yang berarti pengacara.

Dalam satu diskusi, rekan senior saya mengingatkan filosofi “bambu muda”. “Pemimpin yang belum saatnya dijadikan pemimpin itu seperti bambu muda yang dijadikan tiang. Tiang itu tidak akan kuat menopang bangunan yang ia sangga. Ketika kering, bambu muda itu akan mengekerut, kisut, dan patah, nah baru kelihatan kelemahannya,” kata senior saya itu.

Diskusi kami berkaitan dengan kepemimpinan Joko Widodo. Apakah Presiden ke-7 kita ini sesungguhnya adalah bambu muda atau bambu tua yang memang sudah matang untuk jadi penopang yang kuat? Mari kita tunggu. Tapi, diskusi kami bernada cemas, banyak gagasan Joko Widodo lekas sekali jadi kisut. Misalnya, koalisi tanpa syarat, kabinet ramping, juga soal rangkap jabatan petinggi partai. Apakah revolusi mental Joko Widodo juga akan mengisut seperti ruas-ruas tiang bambu muda? Kita juga hanya bisa menunggu. Sekadar usul, merevolusi mental mungkin juga bisa dilakukan dengan memupolerkan lagi panggilan “bung”. Sapaan “bung” tenggelam bersama memudarnya pamor Sukarno. Suharto menggantikannya dengan sebutan “Bapak” yang paternalistik. Sesungguhnya Sukarno pun di puncak kekuasaannya oleh orang sekelilingnya sudah “dibapakkan”.

Ayo, Bung Jokowi!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *