[Ulas Puisi] “Lawen Legespun” sebagai Kredo Kehidupan Junewal Muchtar (1956–2015)

Barangkali memang demikian nasib sebuah sajak. Tubuh penyairnya hilang, buku bisa rusak, kertas bisa menghitam, nama bisa perlahan dilupakan. Tetapi selama seseorang masih membuka halaman dan membacanya kembali, Lawen masih melayang dengan asapnya, masih membawa kita kepada luka-luka lama, masih menakik rindu menjadi sajak, dan masih mengingatkan kita agar tidak berhenti pada “hora hore”—agar kita belajar mengeja kembali alif dan ba.

Oleh Hasan Aspahani

PADA suatu hari, beberapa hari lalu, saya melihat-lihat lemari buku di rumah saya di Batam. Saya menarik satu per satu buku yang saya kumpulkan di situ, mengingat lagi mengapa buku itu saya beli dan di mana saya membelinya. Satu buku tipis menarik perhatian saya, terselip di antara deretan buku puisi.

Buku itu tanpa sampul. Secara fisik ia telah rusak. Kertasnya kusam, sementara stapler di punggung buku membuat kertas di sekitarnya menghitam. Saya menariknya perlahan. Ternyata itu Batu Api, buku pertama penyair dari Tanjungpinang, Junewal Muchtar.

Saya ingat, dulu judul buku ini sempat melekat pada sosok kepenyairannya. Di berbagai kesempatan ia disebut, atau menyebut dirinya sendiri, sebagai penyair Batu Api.

Buku terbitan Yayasan Kata, Pekanbaru, 1999, ini penting bukan hanya bagi “Bang Lawen”—demikian semua orang menyapanya—tetapi juga bagi perjalanan sastra di Kepulauan Riau, yang kala itu masih menjadi bagian dari Provinsi Riau.

Lawen adalah utak-atik dari ejaan nama depannya, Junewal. Ia membuang suku kata pertama lalu membalikkan susunan yang tersisa, jadilah “Lawen”. Nama itu kemudian seperti sah, menjadi pengganti nama aslinya. Menariknya, dalam buku ini ia tetap menyebut dirinya Junewal Muchtar sebagai penulis.

Nama baru itu barangkali mula-mula membanggakannya, tetapi agaknya juga menggelisahkannya. Ia tidak bisa lagi mengelak dari nama yang ia ciptakan sendiri. Apa yang semula dirancang sebagai “cap” kepenyairan perlahan merasuk ke kehidupan keseharian. Lama-lama bukan lagi Junewal yang hadir, melainkan Lawen.

Barangkali, tersebab kegelisahan itulah, ia menulis sajak “Lawen Legespun”, sajak ke-17 dalam Batu Api. Saya kini membacanya sebagai semacam kredo: bukan hanya pintu masuk untuk memahami sajak-sajaknya, tetapi juga sebuah pernyataan tentang bagaimana ia melihat dirinya, puisinya, dan hidup yang dipilihnya.

Lawen Legespun

aku melayang layang dengan asap
nirwanaku terus melayang layang
membawa diriku ke luka luka lama
yang tak ku baca pada sisa waktuku
ke kubur kubur biru

dengan sayap angan dan mimpiku
ku lepaskan segala dukaku pada malam
hingga aku memukau pada bulan pada
bintang di pelupuk mataku jadi haru
memukau ke segala sajak yang ku takik
pada rindu

kalian tak mampu ikut aku ke asap
nirwanaku dan berenang ke mana sukaku
pada cahaya malam di bulan
buntingkan angan angan
suara suara kalian jauh tak ku dengar
dan memotong motong perih daging
luka ku

kalian hanya bisa hora hore
pada hari hari kalian tak sampai
mengeja alif dan ba

(Dari buku “Batu Api”; Yayasan Kata, Pekanbaru; 1999.)

Mari kita ungkai.

Pada bait pertama ia menulis:

aku melayang layang dengan asap
nirwanaku terus melayang layang
membawa diriku ke luka luka lama
yang tak ku baca pada sisa waktuku
ke kubur kubur biru

“Asap nirwana” segera membawa kita ke suatu keadaan yang tidak sepenuhnya berada di dunia sehari-hari. Asap tidak memiliki bentuk yang tetap. Ia bergerak, naik, mengaburkan pandangan, tetapi sekaligus membawa sesuatu ke tempat lain. Saya membaca “asap nirwana” di sini sebagai ruang batin kepenyairan Lawen: tempat ia menjauh dari keseharian, tetapi justru untuk mendekati sesuatu yang lebih dalam.

Ia melayang, tetapi bukan untuk kehilangan kesadaran. Ia justru dibawa menuju “luka luka lama”, menuju “kubur kubur biru”. Ada masa lalu yang hendak ditemuinya kembali, ada sesuatu yang telah terkubur tetapi belum selesai.

Di sinilah puisi Lawen, bagi saya, bersentuhan dengan sejarah. Ada kemungkinan luka itu adalah luka personal, tetapi ia juga dapat dibaca sebagai luka kolektif: ingatan, sejarah, dan pergulatan kebudayaan yang hidup dalam dunia Melayu dan serantau.

Puisi, dengan demikian, bukan tempat melarikan diri dari kenyataan. Ia adalah jalan untuk kembali kepada kenyataan yang lebih dalam.

Saya tidak ingin terlalu jauh menghubungkan “asap nirwana” ini dengan kebiasaan pribadi penyair, meskipun ada cerita-cerita kecil yang pernah saya dengar tentang kedekatannya dengan “air kata-kata”, sebagaimana ia tuliskan sendiri dalam sajak lain. Yang lebih penting bagi saya adalah apa yang dilakukan “asap” itu di dalam sajak: ia membawa penyair ke tempat yang tidak mudah didatangi dengan kesadaran sehari-hari.

Kemudian ia menulis:

dengan sayap angan dan mimpiku
ku lepaskan segala dukaku pada malam
hingga aku memukau pada bulan pada
bintang di pelupuk mataku jadi haru
memukau ke segala sajak yang ku takik
pada rindu

Di sini penyair mempertegas fungsi angan dan mimpi. Keduanya adalah sayap. Tetapi penyair tidak berhenti pada keterpukauan terhadap bulan, bintang, malam, atau masa lalu.

Ada satu kata yang menurut saya penting: takik.

Ia tidak mengatakan sajak yang ia tulis, melainkan sajak yang ia takik. Kata ini membawa kerja fisik ke dalam puisi. Menakik berarti menggores, mengerat, meninggalkan tanda pada permukaan sesuatu.

Jadi, setelah terbang dengan sayap angan dan mimpi, penyair kembali bekerja dengan tangan.

Imajinasi memberi sayap, tetapi penyair memberi luka pada kata. Sajak bukan sekadar tempat menyimpan haru dan rindu. Sajak adalah sesuatu yang harus ditakikkan. Pengalaman harus diberi bekas. Rindu harus dibuat menjadi tanda.

Dengan demikian, ketika Lawen mengatakan ia “memukau ke segala sajak yang ku takik / pada rindu”, saya membacanya sebagai pernyataan tentang kerja kepenyairannya: ia melihat, mengalami, terharu, lalu mengubah pengalaman itu menjadi tanda bahasa.

Pada bait ketiga, jarak antara “aku” dan “kalian” menjadi semakin jelas:

kalian tak mampu ikut aku ke asap
nirwanaku dan berenang ke mana sukaku
pada cahaya malam di bulan
buntingkan angan angan
suara suara kalian jauh tak ku dengar
dan memotong motong perih daging
luka ku

Siapakah “kalian”?

Sajak tidak menjelaskannya. Bisa saja orang-orang di sekelilingnya, masyarakat, para penyair lain, atau siapa pun yang hidup dalam dunia yang dianggap terlalu ramai dan terlalu cepat untuk mengikuti perjalanan batin penyair.

Justru karena tidak jelas, “kalian” menjadi penting. Ia menjadi pihak lain yang berdiri di luar dunia “aku”.

Tetapi saya tidak membaca jarak itu semata-mata sebagai kesombongan. Lawen sedang menyatakan bahwa seorang penyair memiliki wilayah batinnya sendiri. Wilayah itu mungkin tidak dapat dimasuki orang lain. Ia bahkan mengatakan:

suara suara kalian jauh tak ku dengar

Ada keputusan untuk tidak mendengarkan keramaian.

Dan di sinilah kata “hora hore” pada bait terakhir memperoleh bobotnya:

kalian hanya bisa hora hore
pada hari hari kalian tak sampai
mengeja alif dan ba

“Hora hore” adalah keriuhan. Ia adalah suara banyak orang yang bergerak dan bersorak, tetapi belum tentu memahami apa yang sedang mereka hadapi.

Jika bait terakhir dibaca sebagai keangkuhan—kalian bahkan tidak sampai mengeja alif dan ba—maka Lawen memang sedang menempatkan dirinya di atas “kalian”. Tetapi saya kira ada pembacaan lain yang lebih menarik.

Alif dan ba adalah awal bahasa.

Maka “kalian tak sampai mengeja alif dan ba” dapat dibaca sebagai peringatan bahwa keriuhan tidak dengan sendirinya menghasilkan pengertian. Kita bahkan belum sampai kepada dasar bahasa, belum belajar mengeja tanda-tanda paling elementer dari pengalaman.

Ini membuat akhir sajak terasa ironis. Setelah membawa kita ke asap, nirwana, bulan, bintang, luka dan rindu, Lawen tiba-tiba mengakhiri sajak pada sesuatu yang sangat dasar: alif dan ba.

Dari yang tinggi dan melayang, ia kembali ke dasar.

Dari nirwana, ia kembali kepada alfabet.

Barangkali memang begitulah kredo kepenyairannya: jangan tertipu oleh keriuhan; pergilah ke dasar. Dengarkan luka. Baca tanda. Takikkan pengalaman menjadi sajak.

Karena itu, saya melihat “Lawen Legespun” bukan hanya sebagai sajak tentang seorang penyair bernama Lawen. Ia adalah sajak tentang bagaimana Lawen menciptakan dirinya sendiri.

Ada Junewal yang menjadi Lawen.

Ada nama asli yang berubah menjadi nama kepenyairan. Ada kehidupan sehari-hari yang ditinggalkan untuk memasuki “asap nirwana”. Ada luka lama yang dicari kembali. Ada angan dan mimpi yang memberi sayap. Ada rindu yang kemudian ditakik menjadi sajak. Dan ada “kalian”, dunia yang ramai, yang tidak selalu bisa mengikuti perjalanan itu.

Tak banyak penyair yang merasa perlu menyebut namanya sendiri dalam sajak. Chairil Anwar melakukannya dalam beberapa sajak, sementara Rendra menyebut dirinya dengan nama panggilan Willy. Lawen bahkan melakukan sesuatu yang lebih menarik: ia menyebut nama yang bukan nama aslinya, tetapi justru nama yang kemudian lebih dikenal orang daripada nama kelahirannya.

Dengan demikian, “Lawen” dalam sajak ini bukan sekadar nama. Ia adalah tokoh yang diciptakan Junewal untuk menjadi dirinya sendiri. Dan mungkin di situlah letak keunikan “Lawen Legespun”. Ia bukan hanya sajak tentang apa yang dirasakan seorang penyair. Ia adalah sajak tentang bagaimana seorang penyair memilih menjadi dirinya sendiri.

Saya teringat lagi pada buku yang saya temukan beberapa hari lalu itu. Sampulnya telah hilang. Kertasnya kusam. Stapler di punggungnya meninggalkan noda hitam. Buku itu secara fisik sudah terluka. Tetapi ketika saya membukanya, suara Lawen masih ada di sana. Ia telah meninggal pada 2015, pada usia 59 tahun—lahir di Tanjungpinang, 2 Juni 1956—tetapi nama yang pernah ia ciptakan itu belum selesai berbicara.

Barangkali memang demikian nasib sebuah sajak. Tubuh penyairnya hilang, buku bisa rusak, kertas bisa menghitam, nama bisa perlahan dilupakan. Tetapi selama seseorang masih membuka halaman dan membacanya kembali, Lawen masih melayang dengan asapnya, masih membawa kita kepada luka-luka lama, masih menakik rindu menjadi sajak, dan masih mengingatkan kita agar tidak berhenti pada “hora hore”—agar kita belajar mengeja kembali alif dan ba.

Buku yang rusak itu, dengan demikian, tidak lagi terasa seperti benda yang hampir selesai. Ia justru seperti luka yang masih menyimpan suara. Dan dari luka itulah, sekali lagi, Lawen berbicara. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *