Sejarah sebuah kota tidak hanya berada di gedung pemerintahan, monumen, arsip resmi dan foto pejabat. Sejarah juga berada di dapur, bengkel, toko, pabrik dan rumah-rumah warganya.
Oleh Hasan Aspahani
Bayangkan sebuah museum yang tidak menyimpan keris kuno, fosil, manuskrip berusia ratusan tahun, atau benda peninggalan kerajaan. Tidak ada mahkota, arca, pedang, atau lukisan karya maestro. Yang dipajang justru benda-benda yang mungkin kita temukan di rumah: ketel, gunting, mesin jahit, radio, kunci, sepatu kerja, koper, papan nama toko, buku kas warung, alat pertukangan, bahkan benda-benda yang selama ini kita anggap terlalu biasa untuk disimpan.
Museum semacam itu ternyata bukan gagasan yang aneh. Di Glover, sebuah tempat kecil di Vermont, Amerika Serikat, terdapat Museum of Everyday Life, sebuah eksperimen museum yang secara sadar memilih benda-benda sehari-hari sebagai bahan koleksi dan cerita. Mereka pernah membuat pameran tentang pensil, peniti, cermin, sikat gigi, korek api, kunci, gunting, bahkan debu. Gagasannya sederhana sekaligus agak nakal: bagaimana kalau museum tidak mengumpulkan benda-benda eksotis, tetapi benda-benda yang setiap hari kita sentuh dan gunakan?
National Geographic juga pernah membawa pembacanya ke wilayah museum yang tidak lazim. Dalam sebuah tulisan tentang museum makanan, misalnya, majalah itu memperkenalkan International Banana Club and Museum, museum yang seluruh koleksinya berkaitan dengan pisang dan ketika itu memiliki sekitar 17.000 benda bertema buah tersebut.
Kita mungkin tertawa mendengar ada museum pisang. Tetapi justru di situlah persoalannya menjadi menarik. Apa sebenarnya yang membuat sesuatu layak dimuseumkan? Apakah harus tua? Harus langka? Harus mahal? Harus memiliki nilai artistik tinggi Ternyata tidak sesederhana itu.
Museum bukan Gudang Barang Kuno
International Council of Museums atau ICOM, organisasi internasional yang menaungi komunitas museum, pada 2022 mengadopsi definisi baru tentang museum. Museum didefinisikan sebagai institusi nirlaba permanen yang melayani masyarakat dengan cara meneliti, mengumpulkan, merawat, menafsirkan dan memamerkan warisan berwujud maupun tak berwujud. Museum juga harus terbuka, mudah diakses, inklusif, bekerja secara etis dan profesional, serta melibatkan komunitas.
Perhatikan kata-kata itu: warisan berwujud maupun tak berwujud, penelitian, penafsiran, masyarakat, komunitas. Tidak ada syarat bahwa benda museum harus berumur seratus tahun. Maka secara sederhana kita bisa mengatakan: museum adalah tempat masyarakat menyimpan, merawat, dan menceritakan sesuatu yang dianggap penting untuk diingat.
Dengan pengertian seperti itu, sebuah ketel tua tiba-tiba mempunyai kemungkinan baru. Bukan karena ketelnya mahal. Bukan karena ketelnya indah. Tetapi karena seseorang mungkin pernah menggunakan ketel itu selama tiga puluh tahun untuk memasak air di rumah pertama yang ia bangun di Batam. Benda itu kemudian bukan lagi sekadar ketel. Ia menjadi pintu masuk menuju sebuah cerita.
Apa yang Ingin Diingat Batam?
Pertanyaan ini menarik karena Batam bukan kota yang sejarahnya dapat seluruhnya ditemukan dalam benda-benda kuno. Batam adalah kota yang berubah sangat cepat. Ia dibentuk oleh perpindahan manusia, industrialisasi, perdagangan, pembangunan kawasan, pelabuhan, galangan kapal, perumahan, sekolah, pasar, jalan, dan ribuan keputusan kecil orang yang datang ke sini untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Orang datang membawa koper. Mereka mencari pekerjaan. Seseorang membuka warung. Orang lain bekerja di galangan. Yang lain masuk pabrik. Ada yang menjadi sopir, tukang, guru, pedagang, buruh, teknisi, pegawai, nelayan, pengusaha. Mereka menyewa kamar. Membangun rumah. Menikah. Membesarkan anak. Membuka toko. Pindah rumah. Membuat komunitas.
Dan tanpa mereka sadari, mereka sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar: membuat sebuah kota. Tetapi benda-benda yang menemani proses itu perlahan menghilang. Seragam kerja dibuang ketika sudah lusuh. Mesin jahit diwariskan lalu akhirnya masuk gudang. Papan nama toko diganti ketika usaha tutup. Buku kas dibuang ketika pemiliknya meninggal. Koper lama digantikan koper baru. Radio rusak menjadi barang rongsokan. Helm proyek tidak lagi digunakan. Ketel tua digantikan alat pemanas air. Benda-benda itu tampaknya tidak penting. Padahal mungkin di sanalah sebagian sejarah Batam yang paling manusiawi tersimpan.
Sejarah sebuah kota tidak hanya berada di gedung pemerintahan, monumen, arsip resmi dan foto pejabat. Sejarah juga berada di dapur, bengkel, toko, pabrik dan rumah-rumah warganya.
Museum Benda-benda Biasa
Bayangkan sebuah ruang pamer sederhana. Di sana ada sebuah ketel. Di sampingnya bukan tulisan panjang tentang sejarah ketel, melainkan cerita: “Ketel ini dibawa keluarga Suryanto ketika mereka pertama kali datang ke Batam pada 1987. Selama bertahun-tahun ketel ini digunakan di rumah kontrakan mereka di kawasan Jodoh. Air untuk minum, kopi, memasak—semuanya dimulai dari ketel ini.” Di sebelahnya ada helm. “Helm ini digunakan oleh seorang pekerja yang ikut membangun kawasan industri pada awal 1990-an.” Ada mesin jahit. “Mesin ini digunakan untuk menerima jahitan dari tetangga-tetangga di kampung. Dari sinilah sebuah keluarga memperoleh penghasilan selama lebih dari dua puluh tahun.”
Ada papan nama toko. Ada buku tabungan. Ada foto keluarga. Ada radio. Ada koper. Ada alat tukang. Benda-benda itu mungkin tidak memiliki nilai pasar yang berarti. Tetapi ketika diletakkan berdampingan, mereka mulai membentuk sesuatu: sebuah biografi kota. Kita mulai melihat bagaimana orang datang, bekerja, berdagang, membangun rumah, membesarkan keluarga, dan menciptakan kehidupan. Museum semacam ini tidak hanya menyimpan benda. Ia menyimpan pengalaman.
Siapa yang Boleh Membuat Museum?
Pertanyaan berikutnya justru sederhana: siapa yang boleh menggagasnya? Jawabannya: siapa saja. Pemerintah bisa. Komunitas bisa. Universitas bisa. Seniman bisa. Pengusaha bisa. Jurnalis bisa. Sebuah keluarga bisa.
Atau lima orang yang suatu sore duduk minum kopi lalu menyadari bahwa benda-benda yang mereka lihat di rumah masing-masing sebenarnya menyimpan cerita tentang Batam. Tidak harus menunggu sebuah proyek pemerintah. Tidak harus menunggu gedung tersedia. Tidak harus menunggu anggaran besar. Bahkan museum seperti yang kita bayangkan mungkin justru lebih sehat jika bermula dari inisiatif warga, karena yang dikumpulkan sejak awal bukan sekadar benda, melainkan ingatan.
Definisi ICOM yang baru pun menempatkan partisipasi komunitas sebagai bagian penting dari museum. Museum bukan semata-mata institusi yang berbicara kepada masyarakat; masyarakat juga ikut membentuk apa yang dikumpulkan, dirawat, ditafsirkan dan diceritakan.
Itu berarti sebuah museum Batam bisa dimulai dari pertanyaan yang sangat sederhana kepada warga: “Apakah Anda mempunyai satu benda yang menurut Anda menceritakan kehidupan Anda di Batam?”
Museum Tidak Harus Dimulai dengan Gedung
Barangkali ini bagian yang paling menarik. Kita sering membayangkan museum sebagai gedung. Padahal gedung adalah tahap berikutnya. Tahap pertama bisa berupa pengumpulan cerita. Orang menyerahkan atau meminjamkan benda. Benda itu difoto. Pemiliknya diwawancarai. Dicatat kapan benda itu digunakan, di mana, oleh siapa, untuk apa, dan mengapa benda itu penting.
Dengan teknologi digital, sebagian koleksi bahkan tidak harus langsung berpindah tangan. Museum bisa menyimpan dokumentasi, foto, rekaman suara, video dan cerita pemiliknya. Kemudian koleksi awal itu dipamerkan. Misalnya dengan sebuah pameran kecil bernama: 100 Benda yang Membuat Batam. Tidak perlu gedung museum. Bisa dimulai dari galeri, perpustakaan, kampus, ruang komunitas, mal, atau ruang publik. Dari seratus benda itu kita lihat apakah masyarakat tertarik. Apakah orang mau menyumbangkan cerita. Apakah sekolah datang. Apakah perusahaan mau mendukung. Apakah peneliti tertarik. Apakah media tertarik.
Kalau hidup, koleksi bisa bertambah. Kalau komunitasnya tumbuh, program bisa bertambah. Dan kalau suatu hari sudah cukup kuat, barulah kita bertanya: Perlukah Batam memiliki gedung museum permanen? Dengan cara ini, museum lahir dari koleksi dan komunitas, bukan dari gedung.
Lalu Siapa yang Mengelolanya?
Museum yang serius tentu membutuhkan pengelolaan yang serius. Orang yang menggagasnya belum tentu harus menjadi orang yang mengelolanya selamanya. Perlu ada lembaga yang jelas, tata kelola yang transparan, pengelola koleksi, kurator, program pendidikan, komunikasi, administrasi dan keuangan.
Bentuknya bisa bermacam-macam: yayasan, lembaga nirlaba, komunitas yang berkembang menjadi institusi, kemitraan dengan perguruan tinggi, atau model lain yang sesuai dengan ketentuan hukum. Yang penting satu hal: museum tidak boleh menjadi milik pribadi seseorang hanya karena orang itu yang pertama kali mempunyai gagasan.
Sebab yang disimpan adalah ingatan bersama. Dan karena itu, pengelolaannya juga harus mempunyai kepentingan bersama. Museum yang sehat harus bisa menjawab pertanyaan sederhana: benda ini milik siapa, bagaimana diperoleh, bagaimana dirawat, siapa yang mengambil keputusan, bagaimana uang dikelola, dan apa yang terjadi jika pengelolanya berganti. Ini mungkin terdengar administratif. Tetapi justru di sinilah sebuah gagasan budaya berubah menjadi institusi.
Dan Uangnya dari Mana?
Pertanyaan ini tidak bisa dihindari. Museum memang bukan perusahaan yang tujuan utamanya menghasilkan keuntungan. ICOM secara eksplisit menempatkan museum sebagai institusi nirlaba. Tetapi nirlaba tidak berarti tidak boleh mempunyai pendapatan. Artinya, pendapatan dan surplus digunakan kembali untuk menjalankan misi museum, merawat koleksi, membayar pengelola, membuat program dan menjaga keberlanjutannya.
Karena itu pembiayaannya tidak harus berasal dari satu sumber. Bisa dimulai dari patungan para pendiri. Bisa menerima donasi warga. Bisa memperoleh hibah kebudayaan. Bisa bekerja sama dengan universitas. Bisa mendapat sponsorship perusahaan. Bisa memiliki anggota yang membayar iuran tahunan. Bisa menjual buku, katalog dan merchandise. Bisa menyelenggarakan workshop dan program pendidikan. Bisa memiliki tiket masuk. Bahkan bisa memiliki kafe atau ruang acara. Yang penting adalah diversifikasi sumber pendapatan sehingga museum tidak mudah mati ketika satu sumber dana berhenti.
Dan justru Batam mempunyai peluang yang menarik di sini. Kota ini memiliki perusahaan-perusahaan besar yang sejarah kehadirannya sendiri merupakan bagian dari sejarah Batam. Sebuah perusahaan dapat menjadi sponsor pameran sejarah industri. Sebuah galangan dapat membantu mendokumentasikan sejarah pekerja dan teknologinya. Sebuah bank dapat mendukung digitalisasi arsip. Sebuah kampus dapat membantu penelitian dan konservasi. Dengan begitu perusahaan tidak sekadar menjadi sponsor. Mereka ikut merawat sejarah kota tempat mereka berusaha.
Museum sebagai Bisnis Sosial
Museum memang bukan perusahaan biasa. Tetapi ia bisa menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kota. Ada pekerjaan untuk kurator, arsiparis, konservator, pemandu, penulis, fotografer, desainer, pembuat konten, penerbit, pengelola acara dan pekerja pendidikan. Ada buku yang bisa diterbitkan. Ada katalog. Ada merchandise. Ada tur kota. Ada program sekolah. Ada workshop. Ada penelitian. Ada arsip digital. Ada pameran temporer. Bahkan ada kemungkinan sebuah museum kecil menjadi alasan orang mengunjungi sebuah kawasan.
Kita tidak perlu mengubah museum menjadi pusat komersial. Tetapi kita juga tidak perlu menganggap kebudayaan dan ekonomi sebagai dua dunia yang harus selalu dipisahkan. Sebuah ingatan yang dirawat dengan baik bisa menjadi aset budaya. Aset budaya bisa menghasilkan aktivitas ekonomi. Dan aktivitas ekonomi itu dapat membantu merawat ingatan. Di situlah konsep keberlanjutan menjadi penting.
Batam Tidak Perlu Menunggu Sejarah Menjadi Tua
Ada satu alasan lain mengapa gagasan ini terasa mendesak. Batam masih relatif muda sebagai kota modern. Itu justru membuat banyak orang merasa sejarahnya belum cukup tua untuk dikumpulkan. Padahal sejarah tidak menunggu usia tertentu. Tahun 1970-an sudah sejarah. Tahun 1980-an sudah sejarah. Tahun 1990-an sudah sejarah. Bahkan benda yang hari ini dianggap biasa bisa menjadi artefak berharga dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang.
Masalahnya, cerita manusia tidak awet seperti benda. Ketel mungkin masih ada. Tetapi siapa yang tahu cerita di balik ketel itu? Pemiliknya mungkin sudah meninggal. Anaknya mungkin sudah pindah. Tidak ada lagi yang tahu kapan ketel itu dibeli, dari mana dibawa, rumah pertama di mana ia digunakan, dan berapa banyak percakapan keluarga yang pernah berlangsung di dekatnya.
Karena itu mengumpulkan benda tanpa mengumpulkan ceritanya juga tidak cukup. Museum Batam yang kita bayangkan harus mengumpulkan keduanya: benda dan ingatan.
Kita Tidak Membutuhkan Museum Besar
Mungkin kita terlalu sering berpikir bahwa sebuah museum harus megah. Gedung besar. Arsitektur ikonik. Koleksi mahal. Pameran canggih. Padahal museum yang penting tidak selalu museum yang besar. Museum of Everyday Life di Vermont justru menarik karena ia dengan sadar menolak logika bahwa museum harus berisi benda-benda luar biasa. Ia menyebut dirinya sebuah eksperimen museum yang mengatalogkan kehidupan sehari-hari dan mengajak banyak orang terlibat dalam pembuatan pamerannya. Bahkan museum itu beroperasi dengan sangat sederhana, termasuk sistem kunjungan mandiri dan donasi.
Pelajarannya bukan bahwa Batam harus meniru Vermont. Pelajarannya adalah bahwa gagasan museum bisa jauh lebih ringan daripada yang selama ini kita bayangkan. Sebuah kota bisa memulai dengan satu ruangan. Sebuah komunitas bisa memulai dengan satu lemari. Sebuah keluarga bisa memulai dengan satu koper. Dan sebuah museum bisa dimulai dengan satu benda.
Benda Pertama
Bayangkan suatu hari seseorang datang membawa sebuah ketel tua. Ia berkata: “Ini tidak berharga. Kalau mau, ambil saja.” Kita mungkin bertanya: “Kenapa ketel ini?” Lalu ia bercerita. Ketel itu dibeli ketika ia pertama kali datang ke Batam. Rumahnya waktu itu masih kontrakan. Ia belum punya banyak uang. Setiap pagi ketel itu dipakai membuat air panas sebelum ia berangkat bekerja. Bertahun-tahun kemudian rumahnya berubah. Pekerjaannya berubah. Anak-anaknya tumbuh. Batam berubah.
Tetapi ketel itu masih ada. Mungkin ketel itu tidak layak dijual. Tetapi mungkin ia layak disimpan. Bukan karena ketelnya. Karena cerita yang menempel padanya. Dan dari benda semacam itulah sebuah museum bisa dimulai. Bukan museum tentang masa lalu yang jauh. Melainkan museum tentang orang-orang biasa yang membuat Batam menjadi seperti sekarang.
Maka pertanyaan kita bukan lagi: Apakah Batam membutuhkan museum? Pertanyaannya mungkin lebih sederhana dan lebih mendasar: Apa yang ingin diingat Batam tentang dirinya sendiri? Kalau jawabannya adalah kehidupan warganya, mungkin kita tidak perlu menunggu gedung museum dibangun. Mari mulai mengumpulkan benda-benda biasa itu sekarang. Sebab suatu hari nanti, ketika Batam sudah berubah lagi, benda-benda yang hari ini tampak sepele mungkin menjadi satu-satunya cara bagi seseorang untuk berkata: “Begini rupanya Batam dulu.” []
