Politik masuk ke dalam tubuh. Ekonomi masuk ke dalam rumah. Perang masuk ke dalam ingatan. Kebijakan publik mengubah lanskap sebuah kota. Teknologi mengubah cara manusia bekerja dan mencintai. Seni, yang sering dianggap berada di wilayah yang berbeda dari politik, justru kerap menjadi cara paling ampuh untuk memahami perubahan-perubahan tersebut.
Oleh Hasan Aspahani
Ada banyak majalah di internet. Ada yang mengejar berita terbaru, ada yang mengkhususkan diri pada seni, ada yang hidup dari komentar politik, ada yang menjadi rumah bagi sastra. Tetapi sesekali kita menemukan sebuah publikasi yang tampaknya tidak terlalu peduli pada batas-batas itu.
Salah satunya adalah Guernica. Majalah daring ini menarik bukan semata-mata karena usianya—ia didirikan pada 2004—melainkan karena sejak awal ia memilih sebuah persimpangan: seni dan politik. Guernica menyebut dirinya sebagai majalah nirlaba yang berfokus pada pertemuan seni dan politik, sekaligus menjadi rumah bagi gagasan-gagasan tajam dan pertanyaan-pertanyaan yang perlu diajukan.
Dan justru kata persimpangan itulah yang paling menarik. Sebab kehidupan manusia memang jarang berjalan dalam kotak-kotak rubrik. Politik masuk ke dalam tubuh. Ekonomi masuk ke dalam rumah. Perang masuk ke dalam ingatan. Kebijakan publik mengubah lanskap sebuah kota. Teknologi mengubah cara manusia bekerja dan mencintai. Seni, yang sering dianggap berada di wilayah yang berbeda dari politik, justru kerap menjadi cara paling tajam untuk memahami perubahan-perubahan tersebut.
Guernica memilih tinggal di wilayah yang beririsan itu.
Nama majalah ini mengingatkan kita pada Guernica, lukisan monumental Pablo Picasso tahun 1937. Hubungan itu terasa semakin bermakna karena lukisan tersebut lahir dari tragedi pemboman kota Gernika di Basque pada 26 April 1937, ketika kota itu diserang oleh pasukan Jerman dan Italia dalam Perang Saudara Spanyol. Peristiwa itu mengilhami Picasso mengubah karya yang semula direncanakannya untuk Paviliun Spanyol di Paris menjadi sebuah karya tentang kehancuran dan kekerasan perang. Dalam perjalanan sejarahnya, Guernica kemudian melampaui peristiwa yang melahirkannya dan menjadi simbol universal tentang kekerasan, perang, serta kerentanan manusia.
Bukan Majalah Berita
Membuka situs Guernica hari ini memberikan kesan yang segera berbeda dari portal berita pada umumnya. Di halaman depannya kita menemukan fiksi, esai, puisi, wawancara, spotlights, audio, dan berbagai seri editorial. Dalam satu halaman yang sama, sebuah novel dapat bersebelahan dengan esai tentang sejarah atau politik, kemudian disusul puisi dan wawancara dengan seorang penyair-aktivis.
Batas antar-genre menjadi lebih lentur. Dan itu bukan sekadar keputusan desain. Guernica memang sejak lama memahami dirinya sebagai tempat bagi tulisan dan gagasan yang tidak selalu cocok dengan kategori konvensional. Dalam salah satu pernyataan editorialnya, majalah ini mengatakan ingin menjadi rumah bagi karya yang terlalu berani, terlalu eksperimental, terlalu plural, atau terlalu menantang untuk memenuhi tuntutan penerbitan komersial.
Dengan kata lain, Guernica tidak mencoba menjadi versi lain dari media yang sudah ada. Ia mencari ruang yang belum tersedia.
Melawan Kecepatan
Di sinilah Guernica menjadi semakin relevan bagi kita. Internet telah membuat berita bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Sebuah peristiwa baru terjadi, beberapa menit kemudian sudah menjadi judul berita, lalu menjadi unggahan media sosial, kemudian menjadi komentar, perdebatan, kemarahan, lelucon, dan akhirnya dilupakan oleh peristiwa berikutnya.
Guernica justru pernah mengartikulasikan kegelisahan terhadap keadaan itu dengan sangat jelas. Dalam sebuah catatan editorial, mereka menggambarkan internet sehari-hari sebagai semacam ban berjalan yang menghasilkan sesuatu yang mudah dibuang: hot takes, provokasi, dan kemarahan yang terus bergulir sebelum sempat benar-benar dicerna. Karena itu mereka memilih menerbitkan tulisan yang menolak sikap reaktif dan berusaha mengguncang cara berpikir yang sudah mapan.
Ini menarik. Sebab mungkin persoalan media digital hari ini bukan kekurangan informasi. Kita justru kebanjiran informasi. Yang langka adalah perhatian. Yang lebih langka lagi adalah waktu untuk berpikir. Dan yang paling langka mungkin adalah ruang untuk melihat sebuah persoalan dari lebih dari satu sisi.
Guernica mencoba menyediakan ruang itu. Dari peristiwa menuju struktur Ada satu pernyataan Guernica yang menurut saya sangat penting untuk memahami watak editorialnya. Pada 2024, ketika menjelaskan kembali arah majalah tersebut, pendirinya Michael Archer menulis bahwa Guernica tidak digerakkan oleh siklus berita. Mereka berusaha menggali narasi yang menopang struktur kekerasan dan persoalan-persoalan publik. Ia menggambarkan Guernica sebagai ruang sastra untuk perbedaan pendapat dan sebagai publikasi yang berusaha menghadapkan kekuasaan dengan narasi tandingan.
Di sini kita menemukan perbedaan antara melaporkan peristiwa dan membaca peristiwa. Sebuah demonstrasi, misalnya, adalah peristiwa. Tetapi mengapa orang turun ke jalan? Siapa yang tidak didengar? Struktur macam apa yang membuat protes itu muncul? Bagaimana pengalaman orang-orang yang terlibat? Dan mengapa persoalan itu berulang? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membawa jurnalisme keluar dari permukaan.
Berita memberi tahu kita bahwa sesuatu terjadi. Tulisan yang baik membantu kita memahami mengapa sesuatu bisa terjadi.
Seni bukan Hiasan
Guernica juga menarik karena seni di dalamnya bukan sekadar dekorasi. Fiksi, puisi, fotografi, dan seni visual ditempatkan berdampingan dengan reportase dan esai. Dalam ekosistem seperti itu, seni tidak harus menjadi ilustrasi bagi politik. Ia dapat menjadi cara lain untuk memahami politik.
Sebuah puisi mungkin tidak memberikan data tentang perang. Sebuah novel tidak harus menjelaskan kebijakan pengungsi. Sebuah karya visual mungkin tidak menyajikan statistik ketimpangan. Tetapi ketiganya bisa mengubah cara kita merasakan dan membayangkan persoalan tersebut. Itulah sebabnya pertemuan seni dan politik menjadi menarik.
Politik berbicara tentang bagaimana masyarakat diatur. Seni sering bertanya: bagaimana rasanya hidup di dalam masyarakat itu? Keduanya tidak sama. Tetapi keduanya saling membutuhkan.
Dunia sebagai Ruang Percakapan
Guernica juga memiliki pandangan global yang kuat. Mereka menerbitkan penulis dari berbagai belahan dunia dan dari berbagai tahap karier. Mereka secara eksplisit mencari perspektif tunggal yang dapat menerangi persoalan dunia, termasuk suara-suara yang jarang mendapatkan tempat dalam lanskap penerbitan komersial.
Ini membuat Guernica terasa seperti sebuah ruang pertemuan. Bukan ruang yang mengatakan bahwa semua orang harus mempunyai pandangan yang sama. Justru sebaliknya. Sebuah publikasi menjadi menarik ketika berbagai pengalaman dan cara melihat dapat bertemu tanpa harus segera diseragamkan. Dalam pengertian itu, keberagaman bukan sekadar jumlah negara asal kontributor. Keberagaman adalah keberagaman cara melihat.
Tetapi Ruang Alternatif juga Membutuhkan Disiplin
Menjadi alternatif bukan berarti menjadi bebas dari tanggung jawab. Ini justru salah satu pelajaran penting dari perjalanan Guernica. Pada 2024, majalah tersebut mengalami kontroversi serius menyangkut sebuah esai tentang Israel dan Palestina. Tulisan itu kemudian ditarik setelah perdebatan internal dan publik yang keras. Peristiwa tersebut mendorong Guernica mengevaluasi proses editorialnya dan berkomitmen pada proses pengambilan keputusan yang lebih transparan, kolaboratif, dan akuntabel.
Ini pelajaran yang layak dicatat. Sebuah ruang alternatif tidak otomatis menjadi ruang yang benar. Memiliki keberpihakan tidak berarti bebas dari kritik. Dan mempertanyakan kekuasaan tidak berarti redaksi boleh berhenti mempertanyakan dirinya sendiri. Justru karena sebuah publikasi mengambil posisi editorial, ia membutuhkan standar editorial yang lebih kuat, bukan lebih longgar.
Mengapa Guernica menarik bagi Gerbang Publik?
Pada Guernica kita temuka sebuah gagasan yang terasa penting: sebuah publikasi tidak harus berlomba menjadi yang tercepat untuk menjadi berarti. Ia dapat menjadi ruang. Ruang bagi reportase yang tidak terburu-buru. Ruang bagi esai yang tidak takut berpikir. Ruang bagi seni yang tidak hanya menjadi hiasan. Ruang bagi sastra yang membantu kita memahami kenyataan. Ruang bagi suara yang terlalu kecil untuk masuk ke dalam hiruk-pikuk pemberitaan. Dan ruang bagi pertanyaan yang belum memiliki jawaban.
Itulah salah satu hal yang ingin kami pelajari dari Guernica. Bukan bentuknya, melainkan kesadarannya untuk mengambil posisi sebagai ruang alternatif. Kami ingin mencoba sesuatu yang serupa, tetapi dengan pengalaman dan persoalan Indonesia, khususnya Batam, sebagai titik berangkatnya.
Kami ingin membaca kehidupan publik dengan lebih perlahan, lebih luas, dan lebih manusiawi, Kami tidak ingin hanya bertanya: Apa yang terjadi? Kami juga ingin bertanya: Mengapa ini terjadi? Siapa yang mengalaminya? Siapa yang tidak terdengar? Apa yang berada di baliknya? Dan mungkinkah kita melihatnya dengan cara lain?
Di tengah internet yang semakin ramai, tugas sebuah media bukan lagi sekadar menambah suara. Kadang tugasnya justru menyediakan ruang untuk mendengarkan. Dan di tengah banjir informasi, mungkin sebuah ruang alternatif adalah tempat kita belajar kembali untuk berpikir. Itulah yang membuat Guernica menarik. Dan itulah pula alasan mengapa kami mulai memperhatikannya. []
