Sebuah kawasan tidak menjadi baik hanya karena sekali dibersihkan melalui operasi. Ia menjadi baik ketika setelah operasi selesai, kehidupan di dalamnya memiliki alasan untuk menjadi lebih baik: tersedia pekerjaan, ruang sosial, kegiatan anak muda, lingkungan yang layak, serta hubungan yang sehat antara warga dan pemerintah.
Oleh Hasan Aspahani
Ada satu kalimat dalam berita tentang penggerebekan Kampung Madani alias Kampung Aceh di Batam yang menurut saya lebih menarik daripada angka 114 orang yang dibawa dalam operasi itu: “sudah hal biasa.” Kalimat warga tersebut seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Bukan untuk menghakimi mereka yang diamankan—proses hukum tetap harus berjalan berdasarkan fakta masing-masing—melainkan untuk bertanya: mengapa sebuah kawasan bisa begitu sering menjadi lokasi operasi sampai penggerebekan dianggap sebagai sesuatu yang biasa? (Baca: Tribun Batam — Tim Gabungan Gerebek Kampung Madani di Batam)
Pertanyaan itu membawa kita dari persoalan penertiban menuju persoalan yang lebih besar: kesehatan sosial sebuah kawasan kota.
Kota bukan hanya jalan, gedung, kawasan industri dan investasi. Di dalamnya terdapat kehidupan sosial yang terbentuk dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan, lingkungan tempat tinggal, ruang publik, hubungan antarwarga dan kesempatan hidup yang tersedia. Persoalan sosial jarang muncul secara tiba-tiba. Ia biasanya tumbuh perlahan, menjadi kebiasaan, lalu baru terlihat ketika sudah menjadi persoalan hukum atau keamanan.
Karena itu, penegakan hukum memang diperlukan. Tetapi jika sebuah kawasan berulang kali membutuhkan operasi penertiban, kita perlu bertanya lebih jauh: apakah kota hanya mampu menangani gejalanya, atau juga membaca penyebabnya?
Di sinilah gagasan deteksi dini perlu diperluas. Deteksi dini kota bukan hanya kewaspadaan terhadap gangguan keamanan. Ia seharusnya menjadi kemampuan pemerintah membaca perubahan sosial sebelum persoalan membesar.
Ketika anak-anak muda kehilangan ruang berkegiatan, apakah kota mengetahuinya? Ketika kesempatan kerja menyusut, siapa yang membaca? Ketika sebuah lingkungan mulai mengalami kemunduran sosial, apakah pemerintah memiliki cara untuk mengetahuinya? Dan ketika aktivitas bermasalah mulai tumbuh, apakah negara baru hadir setelah penggerebekan?
Kota yang mempunyai kecerdasan sosial tidak hanya mengandalkan polisi sebagai mata dan telinganya. Polisi membaca pelanggaran hukum. Pemerintah membaca kebutuhan pelayanan. Dinas sosial membaca kerentanan. Sekolah, puskesmas, komunitas, media dan terutama warga sendiri mempunyai pengetahuan tentang perubahan yang sedang berlangsung.
Jika pengetahuan itu bisa dipertemukan, pemerintah akan mempunyai kemampuan untuk membaca kotanya lebih awal.
Nama Kampung Madani sendiri menghadirkan ironi yang menarik. Madani mengandung gagasan tentang kehidupan masyarakat yang tertib, beradab, saling menjaga dan mempunyai kehidupan sosial yang sehat. Tetapi kemadaniannya tentu tidak ditentukan oleh nama kawasan. Ia harus terlihat dari kualitas kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Sebuah kawasan tidak menjadi baik hanya karena sekali dibersihkan melalui operasi. Ia menjadi baik ketika setelah operasi selesai, kehidupan di dalamnya memiliki alasan untuk menjadi lebih baik: tersedia pekerjaan, ruang sosial, kegiatan anak muda, lingkungan yang layak, serta hubungan yang sehat antara warga dan pemerintah.
Karena itu, kalau penggerebekan benar-benar telah menjadi “hal biasa”, justru itulah yang tidak boleh dianggap biasa.
Sebab kita mungkin sedang menghadapi sebuah siklus: masalah muncul, operasi dilakukan, perhatian publik meningkat, keadaan mereda, kemudian masalah muncul kembali. Kalau siklus itu terjadi terus-menerus, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya operasi terakhir, tetapi sistem yang membuat persoalan tersebut terus berulang.
Di sinilah media juga mempunyai peran. Berita tentang penggerebekan penting, tetapi jurnalisme seharusnya tidak berhenti pada siapa yang diamankan. Kita perlu mengikuti pertanyaan sesudahnya: apa yang terjadi pada kawasan itu setelah operasi? Apakah persoalannya berkurang? Apakah kehidupan warga berubah? Apa yang dilakukan pemerintah untuk mencegah persoalan yang sama muncul kembali?
Dengan begitu, berita kriminal atau penertiban dapat menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan kota.
Sebab kota yang sehat bukan kota tanpa masalah. Kota yang sehat adalah kota yang mampu mengenali masalah lebih awal dan mempunyai cara untuk mengatasinya sebelum masalah menjadi kebiasaan.
Maka angka 114 orang mungkin penting untuk memahami peristiwa hari ini. Tetapi untuk memahami masa depan Batam, saya kira ada pertanyaan yang lebih penting: Mengapa warga sampai menganggap penggerebekan di kawasan itu sudah menjadi hal biasa?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin membawa kita dari sekadar kewaspadaan menuju sesuatu yang lebih penting: kecerdasan sosial kota—kemampuan sebuah kota membaca gejala, mendengar warganya, dan bertindak sebelum persoalan menjadi lebih besar.[]
