Kemal Idris dan Keberanian untuk Berbalik Arah

Oleh Hasan Aspahani

ADA keberanian untuk melawan kekuasaan. Tetapi ada keberanian lain yang mungkin jauh lebih sulit: mengakui bahwa kekuasaan yang dahulu kita bantu bangun ternyata telah bergerak terlalu jauh dari cita-cita yang membuat kita dulu memperjuangkannya.

Kemal Idris berada dalam kategori kedua. Ketika Gerakan 30 September 1965 meletus, ia sedang berada di Sumatera Utara, bergabung dengan satu brigade yang disiagakan di hadapan Selat Malaka dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Namanya sendiri berada dalam urutan teratas daftar tentara yang hendak dihabisi PKI. Ia dikenal sangat antikomunis dan pernah berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun.

Soeharto kemudian memanggilnya ke Jakarta untuk membantu memulihkan keamanan setelah G30S. Kemal Idris diangkat menjadi Kepala Staf Kostrad dan menjadi salah satu tokoh penting dalam operasi militer di Jakarta dan daerah-daerah.

Di sinilah kisahnya menjadi rumit. Kita tidak sedang berhadapan dengan seorang tokoh yang sejak awal berdiri di luar kekuasaan, lalu tiba-tiba menjadi pengkritiknya. Kemal Idris justru ikut membangun kekuasaan Orde Baru. Ia berada di dalamnya, mempercayainya, dan pada mulanya merasa bangga telah memberikan pengabdian untuk sebuah Indonesia yang hendak dibangun kembali.

Karena itu, perubahan sikapnya kemudian menjadi penting. Ia pernah dipercaya Soeharto untuk mengawal gerakan mahasiswa. Pesannya jelas: anak-anak muda itu harus dijaga agar tidak menjadi korban. Kemal Idris kemudian dekat dengan sejumlah tokoh mahasiswa, antara lain Abdul Gafur, David Napitupulu dan Cosmas Batubara.

Ada sesuatu yang menarik di sini. Seorang jenderal ternyata tidak hanya melihat mahasiswa sebagai massa yang harus dikendalikan. Ia melihat mereka sebagai bagian dari kekuatan perubahan. Mungkin justru karena itu ia kemudian menjadi tidak nyaman bagi kekuasaan yang semakin terkonsentrasi.

Soeharto pernah memerintahkannya menangkap Soebandrio dengan cara apa saja. Pasukan tanpa identitas, yang sebenarnya bagian dari RPKAD, mengepung Istana Negara tempat Soebandrio berlindung. Kemal Idris hidup di dalam zaman yang penuh kekerasan politik. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang komunis membunuh banyak orang Islam dan bagaimana, setelah pemberontakan gagal, ratusan ribu orang yang terkait dengan komunisme menjadi korban pembunuhan dan penindasan.

Ia tentu tidak dapat dipisahkan dari sejarah keras itu. Tetapi manusia tidak selalu selesai dengan sejarah yang pernah dilaluinya.

Kemal Idris kemudian menyaksikan sesuatu yang lain: bagaimana kekuasaan yang pada awalnya dibangun atas nama penyelamatan negara perlahan-lahan berubah menjadi kekuasaan yang semakin sulit menerima kritik. Ia melihat kawan-kawan militernya berubah. Ia melihat Soeharto berubah. Atau mungkin lebih tepat: ia melihat kekuasaan mengubah mereka.

Soeharto yang dahulu menjadi pusat kekuatan untuk menghadapi kekacauan perlahan menjadi seorang penguasa yang merasa semakin besar, semakin benar, dan semakin tidak membutuhkan pendapat orang lain.

Di titik itulah integritas seseorang diuji. Sebab selama kita sejalan dengan kekuasaan, keberanian sering kali tidak terlalu mahal. Kita bisa menyebutnya pengabdian, loyalitas, bahkan kepahlawanan. Tetapi ketika pendapat kita mulai berbeda dengan penguasa yang dahulu mengangkat kita, pilihan menjadi jauh lebih mahal.

Kemal Idris memilih membayar harga itu. Ia menolak ketika hendak dijadikan duta besar karena merasa tenaganya masih dibutuhkan di dalam negeri. Akhirnya ia tetap dikirim sebagai duta besar ke Yugoslavia dan kemudian Yunani.

Sekembalinya ke Indonesia, ia kembali menolak tawaran Soeharto untuk dikaryakan. Ia memilih jalan lain. Pilihan itu membuatnya disebut “Jenderal Bodoh.” Kemudian ia bekerja sebagai profesional dan menjadi pengusaha yang bergerak di bidang pengelolaan sampah di Jakarta. Dari sinilah muncul julukan lain yang jauh lebih merendahkan: “Jenderal Sampah.”

Tetapi ada ironi yang menarik pada kedua julukan itu. Orang-orang yang mengejeknya mungkin bermaksud mengatakan bahwa seorang jenderal yang pernah memiliki kekuasaan besar telah jatuh ke tempat yang rendah. Tetapi dari sudut pandang lain, justru di sanalah kita bisa melihat ukuran keberaniannya.

Ia tidak memilih mempertahankan status. Ia memilih pekerjaan. Ia tidak memilih kenyamanan yang disediakan kekuasaan. Ia memilih kebebasan. Dan kebebasan, bagi seorang manusia yang pernah berada begitu dekat dengan pusat kekuasaan, kadang-kadang memang harus dibayar dengan kehilangan kedudukan.

Kemal Idris kemudian menjadi salah satu tokoh yang ikut merumuskan dan menandatangani Petisi 50, sebuah sikap politik yang membuatnya berhadapan langsung dengan kekuasaan Orde Baru. Sejak itu ia dan para penandatangan petisi mengalami berbagai bentuk pembungkaman dan pembatasan. Ia tidak lagi menjadi jenderal yang berdiri di belakang penguasa. Ia menjadi jenderal yang berani mengatakan tidak. Ini barangkali bagian paling penting dari kisah Kemal Idris.

Kita sering membayangkan integritas sebagai sesuatu yang sederhana: sejak awal seseorang harus berada di pihak yang benar. Tetapi kehidupan politik hampir tidak pernah sesederhana itu. Orang bisa salah membaca zaman. Orang bisa percaya kepada sebuah proyek politik. Orang bisa ikut membangun sesuatu yang kemudian berubah menjadi sesuatu yang berbeda dari yang ia bayangkan.

Pertanyaan moral yang lebih penting kemudian adalah: apa yang dilakukan seseorang ketika ia menyadari perubahan itu? Apakah ia tetap bertahan karena sudah terlalu jauh? Apakah ia diam karena terlalu banyak menikmati hasilnya? Apakah ia mencari alasan untuk membenarkan dirinya sendiri? Atau apakah ia berani mengatakan: sampai di sini saya berbeda? Kemal Idris memilih yang terakhir.

Menjelang Reformasi 1998, ketika kekuasaan Soeharto akhirnya berada di ujung tanduk, ia bersama empat belas jenderal senior mendatangi gedung DPR/MPR. Mereka meminta DPR mendesak Soeharto mengundurkan diri atau meminta Majelis bersidang dalam sidang istimewa.

Bayangkan perjalanan hidup itu. Seorang anak muda yang masuk dunia militer. Seorang perwira yang ikut menghadapi pemberontakan. Seorang jenderal yang ikut membangun Orde Baru. Seorang kepercayaan Soeharto. Seorang panglima yang pernah berada di pusat kekuasaan.

Dan pada akhirnya, seorang jenderal senior yang datang ke gedung parlemen untuk meminta presiden yang dahulu menjadi atasannya mengundurkan diri. Tidak banyak orang yang sanggup melakukan perjalanan moral seperti itu. Bukan karena mereka sejak awal selalu benar. Tetapi karena mereka masih memiliki kemampuan untuk mengatakan tidak ketika kekuasaan mulai meminta mereka mengorbankan keyakinannya.

Ada hal kecil lain yang menarik dari Kemal Idris. Darahnya Minang, tetapi ia tidak bisa berbahasa Minang. Ia lahir di Singaraja pada 1923, fasih berbicara beberapa bahasa asing, dan meninggal di Jakarta pada 2005.

Detail-detail kecil semacam itu membuat sosoknya terasa manusiawi. Ia bukan patung pahlawan. Ia bukan pula tokoh yang dapat diperas menjadi satu label. Ia adalah manusia dengan sejarah yang rumit. Dan mungkin justru karena itulah kisahnya penting untuk dibaca kembali. Sebab bangsa yang sehat bukan hanya membutuhkan orang-orang yang berani merebut kekuasaan dari mereka yang salah.

Bangsa juga membutuhkan orang-orang yang berani mengoreksi kekuasaan yang pernah mereka bantu bangun sendiri. Keberanian semacam itu jauh lebih sunyi. Tidak selalu mendapat tepuk tangan. Kadang malah menghasilkan julukan buruk, kehilangan fasilitas, dijauhkan dari lingkaran kekuasaan, dan hidup bertahun-tahun sebagai orang yang tidak lagi disukai penguasa.Tetapi di sanalah integritas memperoleh bentuknya yang paling nyata.

Kemal Idris pernah berada sangat dekat dengan kekuasaan. Lalu ia memilih menjauh ketika merasa kekuasaan itu telah kehilangan arah. Barangkali itulah sebabnya kisahnya tetap layak dikenang. Bukan karena ia selalu benar. Melainkan karena, pada satu titik yang menentukan dalam hidupnya, ia berani mempertaruhkan kenyamanannya untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Dan mungkin itulah ukuran paling sederhana dari keberanian politik: bukan seberapa berani seseorang melawan musuhnya, melainkan seberapa berani ia berkata tidak kepada kawannya sendiri ketika kawannya mulai keliru.

Ditulis dengan bertolak dari buku Kemal Idris, Bertarung dalam Revolusi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996.

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *