Batam Membuat Mereka Jadi Saudara Bahkan Keluarga

Batam adalah kota yang dibangun oleh perjumpaan. Orang datang dari berbagai daerah, membawa bahasa, adat, agama, kebiasaan dan harapan masing-masing. Mereka datang untuk bekerja, berdagang, membangun keluarga, mencari penghidupan, atau mencoba peruntungan. Dalam perjalanan waktu, mereka bertemu di tempat kerja, di lingkungan rumah, di sekolah, di pasar, di tempat ibadah, lalu sebagian menjadi teman, tetangga, bahkan keluarga.

Oleh Hasan Aspahani

Jam bezuk sudah nyaris habis. Saya menunggu di depan pintu masuk ruang rawat inap lantai 6 rumah sakit itu. Laki-laki dan perempuan itu sejak semula saya tebak suami istri. Saya melihatnya dari cara mereka berbicara satu sama lain. Tetapi si laki-laki agak medok Jawanya, sementara si perempuan mudah dikenali sebagai orang Batak.

Si laki-laki kemudian menelepon seseorang yang tampaknya hendak ikut membezuk. Kali ini saya mendengar ia berbicara dalam dialek Melayu Batam. Saya tertarik mengajak mereka bicara.

“Menjenguk siapa, Mas?”

Ia menyebut nama pasien yang katanya terkena tumor.

“…kasihan, tak punya saudara….”

“Ya, kami inilah saudaranya. Kami sudah seperti anaknya,” kata si perempuan. “Dia sebatang kara di Batam. Tak kawin, tak ada anak.”

Saya bertanya, “Tinggal di mana, Ito?”

“Kami tinggal di Simpang Frengki.” Ini nama kawasan yang dulunya banyak rumah liar. Dan agak rawan kriminal. Sekarang sepertinya sudah banyak berubah menjadi jauh lebih baik.

Saya kemudian bertanya, sekadar memastikan dugaan awal saya. “Maaf, Mas dan Ito suami istri?”

“Iya,” kata si suami. Lalu ia balik bertanya kepada saya, “Bapak orang Jawa? Dari logatnya Bapak ini orang Jawa juga…”

Saya kerap ditanya begitu. Dan saya punya jawaban siap pakai karena faktual. “Ibu saya Jawa, bapak saya Banjar. Istri saya orang Melayu.”

Istri saya kemudian keluar dari ruang rawat inap. Kami hendak bersiap turun untuk salat Magrib.

“Ini istri saya.”

“Siapa yang sakit, Bu?” tanya si istri.

Istri saya menjawab, “Bapak saya.”

Percakapan kami masih berlanjut. Sampailah pada cerita tentang anak-anak mereka. Istri saya, dengan berseloroh, menyebut mereka “pejabat”—peranakan Jawa-Batak.

“Yang pertama di SMK, yang kedua di SMP, yang paling kecil masih SD,” kata si suami, sambil menyebut nama-nama sekolah yang letaknya berdekatan dan tidak jauh dari Simpang Frengki.

Artinya, tidak jauh pula dari rumah kami.

Percakapan itu sebenarnya sederhana. Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah saya merasa sedang melihat sesuatu yang penting tentang Batam.

Dua orang berbeda etnis membangun sebuah keluarga. Mereka tinggal di lingkungan yang sama dengan kami. Anak-anak mereka bersekolah di sekolah-sekolah yang sama dengan anak-anak Batam lainnya. Dan ketika seseorang yang bukan saudara sedarah mereka sakit dan sendirian, mereka datang menjenguk.

“Ya, kami inilah saudaranya.”

Kalimat itu terasa lebih kuat daripada banyak ceramah tentang kerukunan. Tidak ada yang sedang berbicara tentang toleransi. Tidak ada slogan tentang keberagaman. Tidak ada seremoni. Ada seseorang yang sakit, dan dua orang merasa bahwa orang itu tidak seharusnya menghadapi sakit seorang diri.

Kerukunan, mungkin, sesederhana merasa bahwa penderitaan orang lain adalah sedikit urusan kita juga.

Batam adalah kota yang dibangun oleh perjumpaan. Orang datang dari berbagai daerah, membawa bahasa, adat, agama, kebiasaan dan harapan masing-masing. Mereka datang untuk bekerja, berdagang, membangun keluarga, mencari penghidupan, atau mencoba peruntungan. Dalam perjalanan waktu, mereka bertemu di tempat kerja, di lingkungan rumah, di sekolah, di pasar, di tempat ibadah, lalu sebagian menjadi teman, tetangga, bahkan keluarga.

Kota seperti Batam tidak mungkin dibangun hanya dengan kesamaan. Ia justru tumbuh dari kemampuan orang-orang yang berbeda untuk hidup bersama.

Dan cerita pasangan itu membuat saya memikirkan anak-anak mereka.

Yang pertama sudah SMK. Yang kedua SMP. Yang paling kecil masih SD. Mereka mungkin belum pernah memikirkan dirinya sebagai bagian dari sebuah cerita besar tentang Batam. Mereka hanya pergi ke sekolah, bertemu teman, belajar, bermain, pulang ke rumah, lalu tumbuh.

Tetapi sesungguhnya, masa depan Batam sedang tumbuh bersama mereka.

Anak dari keluarga Jawa-Batak itu kelak akan hidup dan bekerja bersama anak-anak Melayu, Minang, Bugis, Batak, Jawa, Banjar, Flores, dan berbagai latar lain yang bertemu di kota ini. Mereka mungkin akan menjadi guru, dokter, pengusaha, teknisi, pegawai, seniman, pekerja industri, atau memilih jalan hidup yang belum bisa kita bayangkan hari ini.

Apa yang kita tanamkan kepada mereka tentang orang lain akan ikut menentukan seperti apa Batam kelak. Sebab ketika orang tua menyekolahkan anak, mereka bukan hanya sedang memikirkan masa depan keluarganya. Mereka sedang menaruh harapan pada masa depan kota.

Harapan agar anak-anak mendapat pendidikan yang lebih baik. Mendapat pekerjaan yang lebih baik. Memiliki kehidupan yang lebih baik. Tetapi juga harapan agar mereka dapat hidup bersama orang-orang yang berbeda tanpa merasa bahwa perbedaan adalah ancaman.

Sekolah, karena itu, bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan. Ia juga salah satu ruang tempat sebuah kota belajar hidup bersama.

Anak-anak bertemu dengan teman yang berbeda suku, agama, bahasa keluarga dan kebiasaan. Mereka belajar berbagi meja, bekerja dalam kelompok, bermain bersama, bertengkar lalu berdamai. Hal-hal kecil seperti itu kelak menjadi pengalaman sosial yang membentuk cara mereka memandang orang lain.

Begitu pula lingkungan tempat tinggal. Ketika orang Jawa menikah dengan orang Batak, tinggal di sebuah lingkungan Batam, berkomunikasi dengan tetangga dalam dialek Melayu Batam, dan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah sekitar rumah, kita sedang melihat proses pembentukan masyarakat kota yang sangat nyata.

Tidak perlu ada teori besar untuk menjelaskannya. Kehidupan sehari-hari sudah menjelaskannya. Karena itu, saya kira kerukunan antaretnis di Batam sebaiknya tidak hanya kita bicarakan sebagai sesuatu yang harus diceramahkan, tetapi sebagai sesuatu yang sudah dan terus dipraktikkan oleh warganya. Ia hadir dalam perkawinan. Dalam pertemanan.

Dalam hubungan bertetangga. Dalam sekolah. Dalam pekerjaan. Dan kadang-kadang, seperti yang saya lihat malam itu, di sebuah rumah sakit ketika dua orang datang menjenguk seseorang yang bahkan bukan saudara mereka.

Ada satu hal lagi yang menarik dari percakapan kami malam itu. Ketika si suami bertanya apakah saya orang Jawa, saya menjawab dengan silsilah yang segera menjadi semacam peta kecil Batam: ibu Jawa, bapak Banjar, istri Melayu. Saya dan istri saya tidak bertemu di Batam, kami bertemu di Bogor, di sebuah kampus di mana kami sama-sama kuliah. Tapi anak-anak kami semua lahir di Batam.

Lalu di depan kami ada keluarga Jawa-Batak dengan anak-anak yang tumbuh di Batam. Saya membayangkan, mungkin kelak anak-anak mereka menikah dengan orang dari latar lain. Anak-anak mereka pun mungkin tumbuh dengan identitas yang semakin beragam.

Begitulah sebuah kota bekerja. Identitas tidak selalu hilang, tetapi bertemu, bernegosiasi, dan melahirkan bentuk-bentuk baru kehidupan bersama.

Batam mungkin masih menghadapi banyak persoalan. Tetapi di sela persoalan pembangunan, investasi, pekerjaan, jalan, air dan berbagai urusan kota lainnya, ada modal sosial yang sering luput kita lihat: orang-orang yang telah belajar hidup bersama tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

Mereka tidak menjadi sama. Mereka menjadi dekat. Dan mungkin itu yang lebih penting.

Sebab ukuran kerukunan sebuah kota bukanlah seberapa sering kata toleransi disebut dalam pidato. Ukurannya adalah apakah seorang warga merasa cukup dekat dengan warga lain sehingga, ketika yang satu sakit, yang lain datang.

Maka saya teringat lagi kalimat perempuan itu. “Ya, kami inilah saudaranya.”

Ia mengatakannya tanpa maksud membuat pernyataan besar. Ia hanya sedang menjelaskan mengapa mereka datang. Tetapi bagi saya, kalimat itu seperti potret kecil tentang Batam. Sebuah kota yang mempertemukan orang-orang dari berbagai tempat, lalu perlahan membuat sebagian dari mereka merasa bahwa orang yang semula bukan siapa-siapa dapat menjadi keluarga.

Dan ketika anak-anak tumbuh dari hubungan-hubungan semacam itu, yang sedang dibangun bukan hanya masa depan satu keluarga. Yang sedang dibangun adalah masa depan Batam. Barangkali kota yang baik bukan kota yang membuat semua orang menjadi sama, melainkan kota yang membuat orang-orang yang berbeda merasa tidak sendirian. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *