[Ulas Puisi] Ketika Tuhan Turun Tangan, Bahasa Ikut Bermain

Membaca intertekstualitas dan semiotika dalam “Tuhan Tak Hanya Pandai Turunkan Hujan” karya Khalish Abniswarin

Oleh Hasan Aspahani

“Tuhan Tak Hanya Pandai Turunkan Hujan” adalah puisi tentang bagaimana manusia menafsirkan takdir melalui bahasa-bahasa yang sudah tersedia baginya. Khalish Abniswarin mempertemukan bahasa agama, percintaan, politik, kehidupan domestik, dan slang media sosial untuk menunjukkan bahwa pengalaman yang paling personal—dicintai, salah memilih, terluka, dan akhirnya kehilangan—selalu hadir melalui tanda. Karena itu, intertekstualitas dalam puisi ini bukan sekadar hiasan atau permainan kutipan: teks-teks agama dan budaya yang dibawanya masuk ke dalam puisi terus-menerus digeser maknanya, sehingga yang sakral dapat menjadi jenaka, yang banal menjadi reflektif, dan yang lucu pada akhirnya membuka kesadaran tentang takdir dan kematian.

Puisi ini bekerja melalui sebuah pola yang sederhana tetapi efektif: Tuhan memberi, manusia menafsirkan, lalu Tuhan mengambil kembali. Pada awal puisi, Tuhan “turun tangan” dan memilihkan seseorang; kemudian Ia menyuguhkan hidangan dari langit; pada akhirnya Ia tidak lagi turun tangan secara langsung, melainkan mengutus Izrail. Pola itu membentuk kerangka tekstual yang memungkinkan berbagai rujukan religius dan kultural saling bertabrakan.

Puisi dimulai:

Lalu Tuhan turun tangan
Kepadaku engkau dia pilihkan
Untuk menepis pahit kenangan
semua lukaku engkau pulihkan

Kata lalu membuat peristiwa ini terasa seperti kelanjutan dari sebuah kisah yang telah berlangsung. Tuhan hadir sebagai agen yang mengubah keadaan “aku”: seseorang dipilihkan untuk menepis kenangan dan memulihkan luka. Dalam kode percintaan, “engkau” adalah kekasih yang datang sebagai penyembuh; dalam kode religius, ia tampil sebagai pemberian Tuhan.

Tetapi segera sesudah itu, puisi membatalkan keseriusan romantis tersebut melalui komentar:

(Lukaku yang Ia pulihkan itu, karena aku telah salah memilihmu.
Tentu saja ini tak ada hubungannya dengan Pemilu
Tapi kau pilu kan?)

Di sinilah kata “memilih” menjadi tanda yang membuka dua medan makna. Ia mula-mula menunjuk pada pilihan pasangan, tetapi kemudian ditarik ke dalam bahasa politik melalui “Pemilu”. Hubungan cinta dan demokrasi jelas bukan dua hal yang identik, tetapi keduanya dipertemukan oleh satu pengalaman: kemungkinan salah memilih.

Intertekstualitasnya kemudian bekerja pada tingkat bunyi. Pemilu beresonansi dengan pilu. Dari sebuah institusi politik lahir kata untuk kesedihan. Ini bukan sekadar permainan kata yang lucu; ia memperlihatkan bagaimana tanda dapat berpindah konteks dan menghasilkan makna baru. Politik masuk ke wilayah perasaan bukan melalui argumen, melainkan melalui bunyi.

Lebih jauh, permainan itu menyimpan ironi terhadap gagasan bahwa pasangan adalah “pilihan Tuhan”. Jika seseorang memang “dia pilihkan”, bagaimana mungkin aku kemudian menyebutnya sebagai pilihan yang salah? Puisi tidak menyelesaikan kontradiksi itu. Justru kontradiksi tersebut dipertahankan sebagai humor sekaligus kegelisahan tentang takdir: apakah kesalahan manusia dapat disebut sebagai bagian dari pilihan Tuhan, ataukah manusia selalu mencari pembenaran ilahi atas pilihannya sendiri?

Bait kedua mengulangi formula awal:

Lalu Tuhan turun tangan
Dari langit yang hanya birunya bisa kupandang
ia suguhkan hidangan

Pengulangan “Lalu Tuhan turun tangan” menguatkan pola campur tangan ilahi. Tetapi kali ini sumber intertekstualitasnya lebih jelas:

(Ini kisah surah al maidah, tentu saja tak ada ayat ayat yang mengandung bawang
yang membuat kami menangis…)

Rujukan tersebut mengaktifkan kisah ma’idah—hidangan yang diturunkan dari langit dalam Surah Al-Ma’idah. Dalam teks Qur’ani, permintaan hidangan tersebut berkaitan dengan tanda kekuasaan Tuhan dan peneguhan hati para pengikut Isa.

Khalish mengambil motif “hidangan dari langit” itu dan menurunkannya ke ruang yang sangat domestik. Yang muncul bukan hanya mukjizat, melainkan “bawang” yang membuat mata berair.

Pertemuan ini menghasilkan benturan kode yang menjadi ciri penting puisi: Al-Ma’idah bertemu bawang; mukjizat bertemu dapur; wahyu bertemu pertengkaran pasangan. Yang sakral tidak dihancurkan, tetapi didekatkan dengan yang remeh sampai menghasilkan ironi.

Namun segera tampak bahwa bawang bukan penyebab sebenarnya dari tangisan:

yang membuat kami menangis
karena kau selalu saja
mengulang kesalahan yang sama

Bawang hanya menjadi tanda pengalih. Air mata yang sesungguhnya berasal dari relasi.

Dari sana puisi kembali mengarahkan perhatian kepada bahasa:

tentang kata kata yang sering kau ralat
tapi terlanjur dicatat malaikat

Di sini terdapat pertentangan antara “ralat” dan “dicatat”. Manusia menganggap kata-kata dapat diperbaiki setelah diucapkan; malaikat, dalam imajinasi religius puisi, telah mencatatnya. Kontras ini memperlihatkan bahwa kata tidak berhenti sebagai bunyi yang keluar dari mulut. Setelah diucapkan, ia menjadi tanda yang meninggalkan jejak dan dapat memiliki konsekuensi di luar kendali penuturnya.

Dengan demikian, puisi secara perlahan memperluas persoalan cinta menjadi persoalan bahasa dan tanggung jawab atas tanda. Kekasih bukan hanya melukai melalui tindakan, tetapi melalui kata-kata yang terus diralat. Namun ralat tidak menghapus jejak.

Kemudian datang perubahan paling menentukan:

Lalu Tuhan tak mau turun tangan.

Kalimat ini merupakan pembalikan langsung terhadap dua bait sebelumnya. Tuhan yang semula digambarkan aktif memilihkan dan menyuguhkan kini justru “tak mau turun tangan”. Tetapi paradoksnya, Tuhan tidak benar-benar absen:

Kali ini Ia suruh Izrail menyampaikan pesan rindu. Dan memerintahkan Izrail menjemputmu.

Jika sebelumnya Tuhan memberi, kini Tuhan mengambil kembali. Dalam satu gerakan, puisi mengubah hubungan cinta menjadi hubungan manusia dengan kematian.

Namun kata yang dipilih adalah “menjemput”, bukan “membunuh” atau “mencabut nyawa”. Secara semiotik, kata ini membawa dua kode sekaligus. Dalam bahasa percintaan, “menjemput” merupakan tindakan keakraban; dalam konteks Izrail, ia menjadi eufemisme bagi kematian. Satu tanda menampung dua makna yang bertentangan: keakraban dan maut.

Puncaknya muncul pada komentar terakhir:

(Kamu, ya kamu. Aku bergidik ngeri ketika dia berbisik, tenang, Bestie, Aku sudah ada di sini)

“Bestie” adalah bahasa pergaulan digital yang sangat kontemporer. Ia terasa hampir mustahil berada dalam satu kalimat dengan Izrail. Justru kemustahilan itulah yang menghasilkan efek komik sekaligus mengerikan. Bahasa yang biasanya menandai keakraban tiba-tiba keluar dari sosok yang menandai kematian.

Di sini intertekstualitas mencapai bentuk paling ekstrem: bahasa sakral dan bahasa media sosial ditempatkan berdampingan tanpa diberi jarak hierarkis. Tuhan, Al-Ma’idah, malaikat, Izrail, Pemilu, bawang, dan “Bestie” berada dalam satu sistem puitik.

Yang menarik, humor tidak menghilangkan makna religius; ia justru membuatnya lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari. Khalish tidak sedang memberikan penjelasan teologis tentang Tuhan atau kematian. Ia memperlihatkan bagaimana manusia modern memakai berbagai bahasa untuk membuat pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat dipahami menjadi sesuatu yang dapat ditafsirkan.

Karena itu, Tuhan dalam puisi ini lebih tepat dibaca sebagai pusat tanda yang terus ditafsirkan daripada sebagai objek teologi yang hendak dijelaskan. Ketika cinta datang, “aku” membacanya sebagai campur tangan Tuhan. Ketika hubungan ternyata salah, ia membacanya melalui permainan “memilih” dan “Pemilu”. Ketika kata-kata menyakitkan, ia memanggil konsep malaikat pencatat. Ketika kematian datang, ia membayangkannya melalui Izrail.

Manusia, dengan kata lain, tidak pernah mengalami takdir dalam keadaan tanpa bahasa. Ia selalu mencari tanda untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya.

Dari sudut New Criticism, kepaduan puisi tampak pada jaringan oposisi yang terus bekerja: turun tangan/tak turun tangan, memilih/salah memilih, pulih/pilu, hidangan/bawang, ralat/catat, menjemput/mati, sakral/banal. Oposisi-oposisi ini tidak berhenti sebagai pasangan yang berlawanan, tetapi saling mengubah makna. “Memilih” membawa politik ke dalam cinta; “hidangan” membawa Al-Ma’idah ke dalam kehidupan domestik; “menjemput” membawa bahasa cinta ke dalam kematian; dan “Bestie” membawa kematian kembali ke dalam bahasa sehari-hari.

Karena itu, judul “Tuhan Tak Hanya Pandai Turunkan Hujan” dapat dibaca sebagai kunci struktural seluruh puisi. Hujan adalah sesuatu yang turun dari langit, tetapi puisi memperluas makna “turun” menjadi rangkaian pemberian dan pengambilan: Tuhan menurunkan seseorang ke dalam hidup “aku”, menyuguhkan hidangan, lalu mengutus Izrail untuk menjemput seseorang keluar dari hidup itu.

Yang turun dari langit bukan hanya hujan, melainkan juga takdir.

Dan takdir itu selalu datang sebagai tanda yang harus ditafsirkan manusia.

Pada akhirnya, kecerdikan puisi ini terletak pada kemampuannya menyembunyikan kegelisahan eksistensial di balik kelucuan. “Pemilu”, “bawang”, dan “Bestie” membuat puisi terasa ringan, tetapi semuanya sesungguhnya mengitari persoalan yang sama: manusia berusaha memberi nama dan makna pada sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Kita memilih, lalu mungkin salah memilih. Kita berkata, lalu mungkin ingin meralat. Kita mencintai, lalu mungkin kehilangan. Kita menafsirkan Tuhan melalui semua kejadian itu.

Tetapi ada satu hal yang tidak dapat diralat: kematian.

Maka baris terakhir menjadi sangat efektif justru karena ia terdengar santai:

“Tenang, Bestie, Aku sudah ada di sini.”

Kalimat itu lucu karena tidak pada tempatnya, tetapi juga mengerikan karena terlalu dekat. Izrail tidak datang sebagai sesuatu yang asing. Ia sudah “ada di sini”.

Dengan demikian, puisi ini akhirnya mengubah kelucuan menjadi kesadaran: bahasa dapat membantu manusia menafsirkan takdir, tetapi tidak pernah sepenuhnya menguasainya. Tuhan dapat kita bicarakan melalui bahasa cinta, agama, politik, bahkan slang; tetapi di hadapan kematian, semua bahasa itu akhirnya hanya menjadi cara manusia menenangkan dirinya sendiri.

Dan mungkin itulah ironi terdalam puisi Khalish Abniswarin: Tuhan memang tidak hanya pandai menurunkan hujan. Ia juga menurunkan pertemuan, luka, kata-kata, dan akhirnya perpisahan—sementara manusia hanya bisa terus-menerus mencari tanda untuk memahami mengapa semuanya terjadi. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *