Bagaimana Membuat Komik Strip (10): Dialog, Kata-kata yang Ikut Menggambar

Dalam komik strip, kata-kata tidak sekadar menjelaskan gambar. Dialog adalah suara karakter, pengatur ritme, sekaligus bagian dari punchline. Beberapa kata yang tepat bahkan bisa membuat sebuah karakter terasa hidup.

Oleh Hasan Aspahani

Dalam komik strip, dialog bukan sekadar percakapan yang ditempelkan di atas gambar. Dialog adalah bagian dari gambar itu sendiri. Ia membawa suara karakter, mengatur ritme, memberi informasi, membangun konflik, dan pada saat tertentu menjadi punchline. Karena ruang comic strip sangat terbatas, setiap kata harus bekerja.

Karakter yang kuat seharusnya sudah terdengar berbeda bahkan sebelum pembaca melihat namanya. Cara Garfield berbicara tidak sama dengan cara Charlie Brown berbicara. Calvin tidak berbicara seperti Hobbes. Perbedaan itu bukan hanya soal kosakata, tetapi juga cara berpikir, panjang pendek kalimat, tingkat keyakinan, kebiasaan mengeluh, menyela, membantah, atau diam.

Maka dialog pertama-tama adalah suara karakter.

Seorang karakter yang selalu merasa paling pintar mungkin berbicara dengan kalimat yang penuh penjelasan. Karakter yang malas mungkin menjawab sesingkat mungkin. Karakter yang cerewet akan terus berbicara bahkan ketika tidak ada yang bertanya. Karakter yang pendiam mungkin justru menghasilkan gag paling kuat melalui satu kalimat pendek—atau bahkan tidak mengatakan apa-apa.

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Dialog yang baik bukan dialog yang terdengar seperti percakapan sehari-hari secara mentah. Percakapan nyata penuh pengulangan, basa-basi, dan kalimat yang tidak membawa cerita ke mana-mana. Comic strip tidak punya kemewahan itu. Dialog harus terasa alami, tetapi sekaligus terpilih.

Kita tidak menulis semua yang mungkin dikatakan karakter. Kita memilih kalimat yang paling berguna.

Satu kalimat bisa memperkenalkan karakter, menggerakkan konflik, sekaligus menyiapkan punchline. Kalau sebuah kalimat tidak melakukan salah satu dari pekerjaan itu, kita perlu bertanya apakah kalimat tersebut benar-benar diperlukan.

Dialog juga harus memberi ruang kepada gambar. Jangan mengatakan sesuatu yang sudah terlihat jelas. Jika gambar menunjukkan karakter sedang memegang payung yang terbalik, tidak perlu ia berkata, “Wah, payungku terbalik.” Gambar sudah mengatakannya. Dialog seharusnya membawa informasi yang tidak diberikan gambar, atau menciptakan hubungan baru antara apa yang dikatakan dan apa yang sebenarnya terjadi.

Di situlah muncul salah satu sumber humor yang paling subur: ketidaksesuaian antara kata dan gambar.

Seorang karakter bisa berkata, “Aku sangat tenang,” sementara seluruh tubuhnya gemetar. Ia bisa berkata, “Aku tidak takut,” sambil bersembunyi di balik sofa. Ia bisa berkata, “Aku mengerti semuanya,” tepat sebelum melakukan kesalahan yang sangat konyol.

Gambar mengatakan satu hal. Kata-kata mengatakan hal lain. Pembaca memahami keduanya sekaligus. Komik strip pun memiliki dua suara: suara yang terdengar dan suara yang terlihat.

Dialog juga mengatur ritme. Kalimat panjang memperlambat pembacaan. Kalimat pendek mempercepatnya. Satu kata dapat terasa seperti pukulan terakhir. Bahkan diam dapat menjadi dialog yang paling kuat jika ditempatkan pada saat yang tepat.

Bayangkan tiga panel. Dua karakter berbicara panjang. Panel terakhir hanya memperlihatkan salah satu dari mereka menatap lawannya tanpa berkata apa-apa. Kalau gambar dan ekspresinya tepat, keheningan itu bisa menjadi punchline. Karena itu, jangan takut pada diam.

Komikus pemula sering merasa setiap panel harus diisi percakapan. Padahal comic strip yang baik tahu kapan harus membiarkan gambar berbicara. Semakin banyak kata yang kita masukkan, semakin sedikit ruang yang tersisa bagi ekspresi, gesture, dan imajinasi pembaca.

Dialog yang baik bahkan kadang terasa seperti garis gambar tambahan. Ia membantu membentuk karakter sebagaimana garis membantu membentuk wajah.

Dan akhirnya, kita kembali kepada prinsip yang sudah menjadi dasar seluruh buku ini: dialog harus lahir dari karakter. Jangan menulis kalimat lucu terlebih dahulu lalu mencari karakter yang mengucapkannya. Cari tahu siapa karakter itu, bagaimana ia berpikir, apa yang ia inginkan, apa yang ia takutkan, dan bagaimana ia bereaksi. Setelah itu, biarkan ia berbicara.

Kalau kita sudah mengenal karakternya dengan baik, pada suatu titik kita tidak lagi bertanya, “Apa yang harus saya tulis?” Kita mulai mendengar karakter itu berkata, “Kalau aku berada dalam situasi ini, tentu aku akan mengatakan ini.” Pada saat itulah karakter mulai memiliki suara sendiri. Dan ketika karakter sudah memiliki suara, komik strip tidak lagi terasa seperti sesuatu yang ditulis oleh komikus. Ia mulai terasa seperti sesuatu yang terjadi dengan sendirinya di dalam semesta cerita. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *